MAs RD,
Bolehkah aris bertanya? Apakah mas memahami konsep SI
yang mengatur toleransi dalam perbedaan agama? (aris
berulang kali menulisnya dimilis ini)MOhon ditelaah
dulu sebelum ditolak....seperti RUU APP, telaah dulu
degan hati yang jernih sebelum menolaknya.

Yusuf Kalla, Abu Bakar Ba'asyir, Mas RD atau umat
Muslim di sini punya hak pilih untuk menjadi khalifah.
Syaratnya setuju SI dulu. KArena seorang Khalifah
merupakan pelaksana syariat Islam. Dia memimpin negara
Islam berlandasakan aqidah Islam dan syariat ISlam.

Selain itu silakan merenungi dirilah... apakah diri
masing-masing itu capable terutama memahami secara
mendalam dan mengaplikasikan SI dengan baik. Karena
faktor utama seorang pemimpin khilafah adalah
ketakwaannya. BUkan karena harta, jabatan atau alasan
materi lain....wallahu'alambishawab
So.. jika mas RD memahami konsep SI dan setuju SI,
maka mas berpeluang juga jadi khalifah. Saat ini jalan
menuju ke sana baru dirintis mas masih
jauh....alon-alon asal kelakon.

salam,
aris


--- Radityo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> SI akan lebih mempercepat pecahnya NKRI
> mbak..semacam pelumasnya gitu
> lho.
>
> Lha khalifah pilihan Mbak Aris itu sebenarnya siapa
> sih? Jusuf Kalla
> atau Abu Bakar Ba'asyir?
>
>
>
>
>
> --- In [email protected], aris solikhah
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Oh malang nian nasib Banda Aceh...jadi benarkah
> pemberlakukan SI
> nanti akan menyebabkan disintegrasi bangsa (padahal
> SI ingin
> menyatukan dari Maroko hingga Merauke atau
> untranasionalis buanget
> gitu lhoh)?
> >   
> >   Belum terbukti, hanya ketakutan yang belum
> terbukti? Menolak dulu
> sebelum berdialog karena ketakutan yang belum tentu
> kebenaran?
> Sekarang tanpa SI, Indonesia sudah terancam
> disintegrasi?  Di Timor
> sudah, Aceh dan mungkin Papua serta Maluku (RMS).
> Bila dibaca
> dibawah.. siapakah dalangnya? Tak patut rasanya kita
> terburu buru
> berburuk sangka SI menyebabkan disintegrasi, sedang
> ada SI menyerukan
> kewajiban menjaga persatuan-kesatuan.
> >   
> >   salam,
> >   aris
> >
> > Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >   Baguslah ...
> > Nantinya tidak ada lagi lagu "dari Sabang sampai
> Merauke" ...
> >
> > ^(J)^
> >
> > -----Original Message-----
> > On Behalf Of Abidin M.Asyek
> >
> >
> > Oleh : Prof. Jacqui Siapno
> >
> >
>
http://www.acehkita.net/majalah/beritadetail.asp?Id=81
> > m> &Id2=&berita=Kolom
> >
> > Saya terkejut begitu menginjakkan kaki di Banda
> Aceh. Orang-orang
> asing
> > yang dulu saya temui di Timor Leste, kini banyak
> bertugas di Aceh.
> Saya
> > sempat terperanjat, apakah ini Dili?
> >
> > Seorang rekan menulis e-mail kepada saya. Ia
> mengatakan, "
> > Jangan terkejut, ya. Banda Aceh sekarang sudah
> menjadi Dili!" Surat
> itu
> > dikirim sebelum saya tiba di Aceh pertengahan
> Maret lalu.
> > Ya, setelah bencana tsunami berlalu, memang banyak
> sekali staf
> > internasional yang dulu bekerja di Dili, kini saya
> temui ada di
> Aceh.
> > Tugas mereka umumnya sama seperti waktu di Dili,
> yakni sebagai
> tenaga
> > ahli (expert) atau penasihat (adviser) dalam
> berbagai bidang
> > konflik/pascakonflik, rekonstruksi, rehabilitasi
> dan pembangunan.
> Timor
> > Leste dan Aceh seakan berubah menjadi sebuah
> tempat yang menyediakan
> > banyak pekerjaan bagi orang asing.
> > Pengalaman di Timor Leste, memang selama enam
> tahun belakangan ini,
> > banyak sekali program studi banding, training dan
> program berjangka
> > panjang antara NGO, institusi akademik, institusi
> religious, dari
> > Pemerintah Timor Leste dengan negara-negara Asia
> lain seperti
> Filipina,
> > Thailandia, Malaysia, Singapore, Korea, Jepang.
> > Dari fenomena ini seakan lahir paradigma yang
> menganggap bahwa orang
> > Timor ke negara-negara itu untuk "undergo
> training/belajar" tentang
> > berbagai topik penting, sedangkan orang
> internasional yang datang ke
> > Timor Leste biasanya menduduki profesi sangat
> bergengsi, antara lain
> > sebagai penasihat, tenaga ahli, atau konsultan
> yang
> bertugas "mengajari"
> > orang Timor Leste menjalankan rekonstruksi,
> pembangunan,
> microfinance,
> > pubic sector reform, pertanian, trauma recovery,
> sampai "gender
> > empowerment."
> > Selama perioda rekonstruksi sejak 1999,
> Perserikatan Bangsa-Bangsa
> (PBB)
> > dan organisasi internasional yang bilateral maupun
> multilateral,
> > biasanya memakai penasihat tenaga ahli (dari yang
> sangat naif,
> amatir,
> > hingga yang profesional) yang katanya untuk
> membantu
> dalam "pembangunan"
> > Timor Leste. Karena ada persepsi (yang salah)
> bahwa Timor Leste
> sangat
> > kurang dalam soal sumber daya manusia yang modern.
> Itu sebabnya ada
> > perekrutan yang cukup banyak untuk tenaga asing.
> > Beberapa waktu lalu, sambil ngomong-ngomong dengan
> Teungku Usman
> Lampoh
> > Awe, salah seorang tokoh penting dalam struktur
> Gerakan Aceh Merdeka
> > (GAM), dia merenungkan kembali tokoh perempuan
> Aceh, Laksamana
> > Malahayati. Teungku Usman mengatakan: "Seakan baru
> sekarang orang-
> orang
> > di sini berjuang untuk `gender empowerment',
> `women's emancipation'.
> > Padahal sejak dulu, kita sudah punya Malahayati,
> Tjoet Nyak Dhien."
> > Lantas saya bertanya pada Teungku Usman: "Kalau
> begitu, kenapa Aceh
> > sekarang harus mendatangkan gender adviser dari
> Iran, Jakarta, dan
> > negara-negara lain untuk memberdayakan BRR, AMM,
> dan institusi lain?
> > Apakah tidak ada perempuan lokal dari Aceh yang
> memiliki kemampuan
> untuk
> > itu? Kenapa perlu orang internasional?
> > Sebagai pendidik yang pernah bertahun-tahun
> melakukan penelitian
> tentang
> > Aceh, saya sebenarnya yakin kalau banyak Inong
> Aceh yang memiliki
> > kemampuan, sayangnya mereka selama ini tidak punya
> kesempatan untuk
> > terlibat atau didengar? Dan mengapa tidak banyak
> organisasi
> perempuan di
> > Aceh hanya sedikit sekali yang dilibatkan dalam
> prosess perundingan,
> > rekonstruksi, dan kebijakan pemerintahan?
> > Teungku Usman hanya termenung mendengar penjelasan
> itu. Ia pun
> berkata,
> > "Terima kasih atas sarannya, kami akan pikirkan
> masalah itu."
> > Saya kembali mengambil contoh kasus Timor Leste.
> Para tenaga ahli
> > internasional melihat kalau masyarakat di sana
> sangat mudah sekali
> > ditundukkan. Pemerintahnya pun hampir bisa
> dikatakan kacau balau
> (state
> > failure) sehingga tidak jarang
> kebijakan-kebijakannya bersifat
> mematikan
> > potensi lokal. Dalam globalisasi menangani
> rekonstruksi, ada
> > kecenderungan untuk mengutamakan pentingnya solusi
> internasional
> atau
> > intervensi luar, daripada pikiran masyarakat lokal
> di kampung-
> kampung.
> > Dili dan Banda Aceh kini dibanjiri dengan
> formula-formula
> > "one-size-fits-all" atau dengan istilah satu
> ukuran cocok untuk
> semua.
> > Kata-kata asing kerap meluncur di tengah-tengah
> masyarakat. Sebut
> saja
> > istilah "capacity building", "gender empowerment",
> "strategic
=== message truncated ===


pustaka tani
  nuraulia


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke