Theori yang menarik mbak:

--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>>
----------deleted-------------

> Dan sayapun teringat, sebuah hadist atau rujukan lainnya (maaf
> lupa), yang mengatakan bahwa dosa kemaksiatan disuatu daerah itu
> mempunyai radius hingga 40 rumah disekitarnya (seperti itulah
kira2  bunyinya). Jadi bila di kelurahan kita ada yang melakukan
> kemaksiatan dan kita membiarkannya, maka satu kelurahan itu akan
> kena sialnya (=adzab?).
>
> Saya belum lagi mempelajari apa tingkatan hadist itu, namun bisa
> dijadikan peringatan bagi para pemimpin untuk menjaga warganya agr
> tidak melakukan tindakan maksiat disekitar daerah yang
dipimpinnya.
> Karena kalau benar hadist tersebut, bayi2 tak berdosapun menjadi
> ikut menanggung kelalaian para pemimpin. Menurut pertimbangan
kita, itu memang tidak adil. Sama saja ketika terjadi perang,
sungguh tidak adil kalau sipil menjadi korban.
---------------deleted-----

DH: lalu bagaiamana hubungannya apa yang mbak terangkan dengan
tsunami di Serambi Mekkah? Banyakkah maksiat yang mereka lakukan?
Bukankah para koruptor tinggal di Jakarta? seharusnya Jakarta sudah
hancur dari kemarin dulu dong mbak?

-------------------deleted-----------


> Pikiran saya melanglang lagi, bukankah banyak daerah yang lebih
> maksiat (menurut pandangan kita, tentunya) namun tidak kena adzab?
> Mungkin diderah tersebut, masih banyak juga orang yang melakukan
> kebaikan, masih banyak yang mau berdzikir, masih banyak yang mau
> berinfak kepada dhuafa, dll. Hanya Allah yang Maha Melihat (Al-
> Bashir), Maha Mengawasi (Al-Raqib), Maha Mengetahui (AL-Khabir),
> Maha Penghitung (Al-Hasib).

DH: Jadi daerah yang tak terkena tsunami atau musibah lainnya
mengandung lebih banyak manusia saleh? Jakarta?

-----------------------

Kita hanya bisa melihat, mengawasi,
> menghitung (tapi tidak Maha), tidak mutlak-hanya mendiagnosa.
> Kalaupun tak juga terjawab semua pertanyaan dalam benak kita, itu
> berarti pengetahuan kita belum mampu menangkap apa KehendakNya.

DH: Kalau belum, lalu kapan? kalau kita sudah mati, baru tahu, kita
tak dapat menasihati saudara saudara kita yang terancam musibah?

-------------
>
> Pikiran saya semakin menggila, mengapa di Indonesia ini terjadi di
> daerah2 muslim (mayoritas)nya?. Tak heran lah karena mereka berani
> mengaku muslim tapi tidak menjalankan perintahNya dan meninggalkan
> laranganNya sebagai muslim. Itu kan namanya berkhianat kepada
> dirinya dan kepada Tuhannya.

DH: Lhoo mbak, dari 200 juta manusia Indonesia, berapa % Muslim yang
musrik? lebih banyak dari Bangla Desh, Afganistan, Sudan?

--------------------

>Lain cerita kalau mereka memang mengaku  musyrik, tentu Tuhan juga
>mikir "ah wajar aja kamu melakukan begini  begono karena kamu kan
>gak percaya Aku. Kamu cukup gentle kok! Adzabmu ku tunda di hari
akherat aja". Yang nyebelin itu kan ngaku muslim tapi kelakuan
musyrik. Gitu.



DH: Cieillehhh, kapan nihh Tuhan membisiki, dan menceritakan apa
yang Dia pikirkan?

---------------------


>
> Tolong dimengerti tulisan saya ini bukan ingin menyumpah-nyumpahi
> dan mensyukur-syukuri kepada suatu bencana yang sedang terjadi
> Tapi saya ingin mengajak untuk saling mengingatkan untuk tidak
> melakukan kemaksiatan/kemunkaran kalau memang kita yakin adzab itu
> turun karena dosa. Bagi yang tidak mempercayai anggap saja ini
> pepesan kosong.

DH: MBak, kalau kembali ke thema musibah alami, maka ini adalah
fenomena fisika. Kalau dasar dasar fisika terpenuhi, maka gunung
akan meletus, you like it or not.Apakah dikaki gunung tak ada orang,
atau penuh penduduk saleh atau penuh rampok dan maling.
Gunung Krakatau dahulu meletus dan meminta banyak sekali korban,
padahal penduduk masih sangat sedikit, dan tentu tidak lebih maksiat
dari sekarang..

>
> Inikah yang dikatakan agama menjawab pertanyaan yang dimulai
> dengan "mengapa"...:-?
>
DH: Dalam bencana alam, sebenarnya agama tak pernah menjawab apa
apa, yang ada adalah jawaban manusia yang berbungkus agama. Kita
yang mengatakan "Tuhan bersabda ini itu, menghukum ini itu". Kita
katakan...

Salam

Danardono
> "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun"






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke