Berarti itu labelnya doang perda Syariah Islam, isi atau subtansinya belum. 
Sehingga kita perlu mencermati secara mendalam  subtansinya, sebelum menolak 
atau menerima Perda Syariah atau melihatnya dahulu..., Selain itu perlu dilihat 
aplikasinya. Apakah aplikasi sudah sesuai dengan konsep Perda  Syariah. 
Penerapan syariat Islam itu baru efektif kalau tidak parsial saja, tapi 
seluruhnya diaplikasikan baik dibidang sosial, ekonomi, pemerintahan, dll. 
Kalau berbicara Syariah ISlam yang saya pahami masih jauh Perda Syariah 
tersebut. 
   
  Tapi saya bertasamuh atau mentoleransi hal demikian...., sebab saya tak bisa 
berbuat apa-apa lha itu kesepakatan masyarakat Tangerang. Saya orang Bogor 
sekarang bukan. Sikap saya netral dan mendukung saja. Selain itu saya ndak mau 
ribut-ribut sesama muslim sendiri, apalagi mengatakan Perda syariah Tersebut 
sebagai perbuatan orang Bodoh. Kan sebenarnya tinggal sosialisasi bagaimana 
supaya subtansinya disesuaikan dengan Syariat  Islam bukan. Kalau mereka mau 
dan sudah sangat rindu dengan SI ^_^. Kan sama-sama rindunya harus saling 
menghargai dan menyayangi...^_^
   
  salam,
  aris
   
  

@gmail.com> wrote:
  siapa bilang, yg di tangerang itu, baru di duga pelacur, udah langsung
ditangkap. bahkan suaminya datang, untuk membebaskan danmemberi keterangan,
malah disuruh bayar macam macam ...



On 7/5/06, aris solikhah wrote:
>
> Btw untuk kasus perzinaan dalam syariat Islam, harus ada saksi 4 orang
> yang melihat 'adegan'nya langsung atau si pelaku mengakuinya. Sehingga sulit
> juga orang sembarang menuduh berzina kalau tidak bisa menampilkan 4 saksi.
> Seorang yang menuduh orang lain berzina pun tanpa bukti akan dikenai sangsi
> 80 kali cambuk.
>
> Tapi bagi muslim yang bertakwa yang kemudian khilaf melakukan zina akan
> menyerahkan diri untuk dihukum karena dia sadar, hukuman dalam Islam
> berfungsi ganda selain mencegah kemaksiatan yang akan terjadi juga penebus
> dosa di akhirat nanti. hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah yakni Al
> Ghamidiah dan Maiz. Keduanya mengadu diri mereka sendiri dan minta rajam
> karena telah melakukan berzina. JAdi penerapan Islam akan makin sempurna
> bila dilaksanakan karena dilandasi keimanan
>
> Islam sangat menjaga kehormatan manusia. BIla ada suami atau istri menuduh
> pasangannya selingkuh maka bila kemudian keduanya disumpah tidak mau
> mengakui maka proses perceraian sudah terjadi. Jadi hati-hati nuduh orang
> melakukan perbuatan mesum. ^_^
> BTW bagaimana dengan hukuman bagi pezina dalam agama nasrani atau kriten?
> bagaimana dalam kitab suci Injil mbak bolehkah saya tahu? terima kasih
>
> salam,
> aris
>
> aris solikhah > wrote:
> Kalau ditimbang sesuai syariat ISlam, perlu di lihat dia (atau laki-laki
> siapapun arab atau tidak, termasuk non muslim yang setuju SI) sudah nikah
> atau belum. Kalau sudah nikah dirajam hingga mati, kalau belum nikah di
> cambuk 80 kali. Perempuannya juga sama. Sehingga dijamin akan sulit
> menemukan pelacuran di Indonesia, kalau pelacuran terjadi karena alasan
> ekonomi maka tugas negara menyantuni warganya seperti di UUD 45 ^_^. Karena
> dalam syariat Islam, fungsi negara adalah pelayan masyarakat.
>
> Tapi berhubung syariat Islam belum diterapkan yah... gimana ya mbak...
> mengelus dada, karena dalam pasal KUHP Indonesia.. perzinaan suka sama suka
> tidak bisa dihukumi...CMIIW
>
> Carla Annamarie wrote:
>
> mba aris..
>
> tanggapannya laki2 arab berwisata sex di indonesia, gimana mba..?
>
> aris solikhah
> .com> To
> Sent by: [email protected] 

> [EMAIL PROTECTED] cc
> ups.com
> Subject
> Re: [ppiindia] Bagaimana nih mbak
> 07/05/2006 09:45 Aris? Re: Ini Dia Gaya Berlibur
> AM Turis Arab
>
> Please respond to
> [EMAIL PROTECTED]
> ups.com
>
> Beberapa hari lalu saya membaca opini di koran tempo mengenai perda
> syariah... waduh saya lupa siapa namanya namun beliau ahli sosiologi yang
> sekarang sekolah di Amrik.. ada beberapa hal yang ingin dikritisi terkait
> perda syariah pertama.. labelisasi Perda syariah....
>
> Bahwa namanya Perda syariah namun isinya jauh dari syariah. Kedua namanya
> umum namun subtansinya syariah. Namanya umum tanpa membawa embel-embel
> syariah namun isinya berisi nilai moralitas yang disarikan dari syariah.
> Ketiga, namanya syariah dan isinya sesuai syariah.
> Kadang orang alergi dengan label, meski saya sendiri menganggap label dan
> subtansi sama-sama pentingnya. Nah Perda di Indonesia kategori yang mana?
>
> Maka sejauh ini saya sendiri kurang memahami fakta secara mendalam
> perda-perda yang dikatakan perda syariah itu sendiri. Misalnya, apakah
> aturan memakai rok panjang adalah sudah sesuai syariah, saya menyatakan
> tidak atau belum.^_^, namun demikian saya mendukung segala sesuatu yang
> sifatnya mengarah pada perlindungan dan penghargaan pada aurat wanita
> meski
> baru bisa tahap demikian.
>
> Sisi lain, di Arab, Irak dan beberapa negara yang dikatakan contoh
> menerapkan syariat Islam sejatinya itu hanya parsial, mereka sendiri masih
> agak alergi terhadap penerapan syariat Islam secara totalitas. Terbukti
> dari aktivis muslim yang memperjuangkan SI secara totalitas meski dengan
> cara damai, ditangkap bahkan diantaranya di bunuh. Penjara-penjara penuh,
> jadi kasus Abu Bakar Ba;asyir sudah biasa terjadi di sana. Sehingga,
> negara
> tersebut yang selalu disinggung disini, tak layak menjadi contoh penerapan
> SI secara totalitas.
>
> Walau penerapan SI secara parsial diterapkan di sana, ada sebuah
> informasi yang unik mengenai tingkat kriminalitas di negeri yang
> diterapkan
> SI dibanding negara AS. Tingkat kriminalitasnya jauh lebih sedikit
> dibanding AS. Saya lupa sumber informasi ini. Anda bisa mengeceknya
> sendiri.
>
> Saya katakan demikian, bukan berarti menunjukkan bahwa SI buruk, tapi
> umat ISlam sendirilah yang kadang perlu merenung kenapa mereka menolak
> syariat ISlam secara totalitas, apakah mereka meragukan SI itu sendiri?
> Bahwa ketika SI diterapkan, terjadi penghancuran kaum minoritas dan
> ketakutan-ketakutan yang tak beralasan?
>
> Apakah mereka mau sedikit memahami pemahaman orang yang kadang dikatakan
> radikal dalam memperjuangkan SI Islam secara totalitas? Ajaklah berdialog
> dengan baik-baik, dekati mereka, jangan menilai dari jarak jauh dan
> menuduhnya tanpa dasar.
>
> Padahal orang-orang yang dikatakan Islam Radikal, selalu berusaha
> menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, menjalin hubungan baik, sopan dan
> adil terhadap umat non muslim dan beda agamanya. Apakah mereka melakukan
> korupsi, zina, illegal logging, menerima suap untuk SI, ikut terlibat
> lobi-lobi penjualan aset negara, suka goyang erotis dan kemaksiatan lain?
>
> Yang mereka peroleh hanyalah cacian, labelisasi radikal, bodoh, teroris,
> bego, dan nisbat terhadap label yang buruk? Benarkan mereka sebodoh itu?
>
> Karena mereka berusaha memahami Al Quran dan Hadis yang memerintahkan
> demikian, karena mereka memahami dan yakin 100 % bagaimana Syariat Islam
> mengatur seluruh aspek kehidupan dan berusaha hidup dengan taat dengannya
> walau sangat penuh tantangan . Mereka hanya sangat tegas terhadap
> kemaksiatan dan penyimpangan yang menghancurkan hakikat Islam itu sendiri.
>
> Jika seandainya mbah tahu 1,2 juta umat Islam bisa berkumpul dalam aksi
> mengawal RUU APP kemarin, sungguh yang mereka lakukan demi sebuah
> kebenaran
> yang mereka yakini. Mereka rela mengeluarkan uang swadaya untuk sebuah
> kegiatan tersebut. Berpanas ria, berjalan berkilo-kilo demi sebuah
> keyakinan akan suatu kebenaran. Mungkin orang yang tidak memahami akan
> berkata, perbuatan sia-sia saja. Namun tidak, itu adalah suatu mata rantai
> dari sebuah proses yang panjang......
>
> Impian yang tinggi dimulai dari satu langkah demi satu langkah......pelan
> namun pasti...alon-alon asal kelakon kata orang jawa ^_^..
> wallahu'alambishawab
>
> salam,
> aris
>
> RM Danardono HADINOTO wrote:
> **** bagaimana nihh mbak Aris? Kita tertibkan dengan perda syariat?
>
> maju mbak, saya ikut dibelakang...
>
> --- In [email protected] 
, muhkito
> afiff
> wrote:
> >
> > Source: http://www.majalahtrust.com/indikator/gaya_hidup/149.php
> >
> > Ini Dia Gaya Berlibur Turis Arab
> >
> > Di Puncak, turis-turis Timur Tengah menemukan surga dunia:
> pemandangan
> > hijau, banyak bunga, air mengalir, dan bidadari berseliweran.
> >
> > Sen Tjiauw dan A. Sidarta
> >
> > Bunyi musik terdengar dari sebuah vila: bising, sejenis musik
> keras
> > dengan irama dan lirik padang pasir. Sebuah jendela yang gordennya
> > terbuka mengungkapkan suasana ruang tamu vila yang bising itu. Di
> bawah
> > lampu nan terang, seorang perempuan berdiri di hadapan seorang
> pria
> > sambil meliuk-liukkan badannya seirama nada. Kedua tangannya
> terentang
> > ke atas, pinggulnya diputar-putar. Memang, tak sedahsyat goyang
> Inul,
> > penyanyi dangdut yang ngetop akhir-akhir ini.
> >
> > Tapi ada yang lebih memicu aliran darah dari sekotak pemandangan
> lewat
> > jendela itu: setidaknya, tubuh bagian atas penari itu tak ditutup
> apa
> > pun. Sebelum segalanya jelas, rupanya penghuni vila menyadari
> gorden
> > yang terbuka. Tiba-tiba jendela itu pun ditutup.
> >
> > Para pengintip yang berada di teras sebuah kamar di lantai dua
> Hotel
> > Jayakarta, Puncak, Jawa Barat, pun kecewa. Mereka adalah wartawan
> TRUST.
> > Di pertengahan Februari lalu itu, mereka meliput kawasan tersebut,
> desa
> > yang dikabarkan pada bulan tertentu menjadi Kampung Arab dengan
> segala
> > gaya berlibur turis Timur Tengah.
> >
> > Kampung Arab? Nama asli kampung itu sendiri yakni Kampung Sampay,
> satu
> > dari tiga kampung di Desa Tugu Selatan, satu kilometer di atas
> Taman
> > Safari, Cisarua, Bogor. Dari Jakarta, jarak menuju kampung ini
> sekitar
> > 84 kilometer.
> >
> > Tapi, kalau Anda bertanya kepada penduduk sekitar tentang Kampung
> Arab,
> > mereka tampak terbengong-bengong. Satu atau dua orang yang tiba-
> tiba
> > memahami arah pertanyaan akan menjawab: "O, maksudnya Warung
> Kaleng?"
> >
> > Benar, lebih dari Kampung Sampay, lebih dari Kampung Arab, nama
> Warung
> > Kaleng dikenal bukan saja oleh warga setempat, tapi juga sopir
> taksi di
> > Bandara Soekarno-Hatta. Masuklah ke sembarang taksi, lalu sebut
> Warung
> > Kaleng; dijamin Anda akan sampai ke Desa Sampay, Kelurahan Tugu
> Selatan,
> > Kecamatan Cisarua, Bogor.
> >
> > Warung Kaleng sebenarnya adalah sepotong Jalan Jakarta-Puncak di
> > kilometer 84, tak lebih dari 50 meter panjangnya. Di kanan-kiri
> jalan,
> > berjajar 30-an warung. Ini yang unik, papan-papan nama warung itu
> bukan
> > hanya berhuruf latin dengan kata-kata bahasa Indonesia, tapi juga
> > (bahkan ada yang hanya) papan nama berhuruf Arab, dari wartel
> sampai
> > toko roti, dari toko kelontong sampai rumah makan. Dan yang juga
> khas
> > dibandingkan kampung lain, di sini banyak terlihat warga
> bertampang
> > Timur Tengah.
> >
> > BIDADARI-BIDADARI
> > Nama Warung Kaleng sudah menjadi nama alternatif bagi Kampung
> Sampay
> > sejak zaman kolonial Belanda. Dulu, kawasan itu secara
> administratif
> > adalah tanah partikelir, yang kemudian dijadikan basis perdagangan
> oleh
> > pedagang pendatang dari Cina. Lambat laun, para pedagang itu
> > berasimilasi dengan penduduk setempat, lantas masuklah Islam.
> >
> > Kata penduduk setempat, riwayat nama Warung Kaleng bermula dari
> > warung-warung yang didirikan oleh para pedagang Cina itu: hampir
> semua
> > warung beratap seng atau kaleng. Jadilah sepetak lahan itu
> kemudian di
> > sebut Warung Kaleng.
> >
> > Nama itu tetap melekat meski suasana Cina praktis tak tercium lagi
> dan
> > atap seng tak lagi terlihat. Kini, warung-warung itu bertembok dan
> sudah
> > beratap genteng. Suasananya pun berganti ke-Arab-Araban.
> Belakangan,
> > muncul sebutan baru itu: Kampung Arab?bukan hanya untuk sepetak
> Warung
> > Kaleng, tapi juga untuk seluruh Kampung Sampay.
> >
> > Jadi, melihat lokasinya, bolehlah dibilang Warung Kaleng merupakan
> > gerbang Kampung Arab. Di kawasan warung itulah pusat lalu lintas
> turis
> > Arab (kebanyakan dari Arab Saudi, Bah-rain, Kuwait, dan Qatar).
> Soalnya,
> > sejauh ini, hanya di warung-warung itu tersedia segala kebutuhan
> turis
> > Arab yang khas: mulai dari minuman (vodka yang didatangkan dari
> > Jakarta), tembakau dan bumbunya (yang langsung diimpor dari Timur
> > Tengah) untuk merokok gaya Arab, sampai roti arab (buatan lokal).
> >
> > Alkisah, di awal 1990-an, ketika Irak diserbu Amerika dan
> sekutunya,
> > banyak turis Timur Tengah datang ke Kampung Sampay. Mereka
> menginap di
> > vila-vila selama kira-kira satu minggu hingga satu bulan. Di tahun-
> tahun
> > sebelumnya, turis Arab juga sudah datang ke Kampung Sampay, namun
> tak
> > banyak.
> > Dikenalnya Kampung Sampay oleh turis Arab tentunya dimakcomblangi
> > biro-biro pariwisata, terutama biro yang berkantor di sepanjang
> Jalan
> > Raden Saleh, Jakarta Pusat. Di kawasan ini, para turis itu boleh
> merasa
> > setengah di rumah sendiri, setidaknya dalam hal makan, karena di
> jalan
> > ini ada dua rumah makan khas Timur Tengah.
> >
> > Tapi kenapa Kampung Sampay? Konon, turis-turis dari padang pasir
> itu
> > merindukan suasana yang berbeda dengan negeri mereka yang panas
> dan
> > berpantai. Mereka mengidamkan berlibur di kawasan pegunungan yang
> sejuk
> > dan hijau. Lalu, dibawalah mereka ke kawasan Puncak, dari Cisarua
> sampai
> > Cipanas. Bila kemudian Warung Kaleng menjadi terpopuler di antara
> turis
> > Arab, ada ceritanya.
> >
> > Menurut Syaiful Idries, Kepala Urusan Administrasi Desa Tugu
> Selatan,
> > gambaran orang Arab tentang surga dunia itu adalah jabal ahdor
> atau
> > gunung hijau. Di Kampung Sampay, kata Syaiful, mereka menemukan
> jabal
> > ahdor itu. "Di Puncak ini kan banyak bunga, air mengalir,
> lingkungannya
> > hijau dan indah," tuturnya.
> >
> > Tapi kalau hanya gunung hijau, bukan hanya Kampung Sampay yang
> punya.
> > Kampung ini menjadi istimewa buat turis Arab karena "banyak
> bidadari",
> > dan secara sosial lingkungan di sini "longgar", warganya tak
> begitu
> > peduli dengan urusan orang lain. "Jadi (Syaiful melanjutkan
> ceritanya
> > sambil tertawa), bagi orang Arab, Warung Kaleng bukan hanya jabal
> ahdor,
> > tapi juga jabal al jannah, gunung surga. `Bidadari-bidadari' itu
> > didatangkan dari desa lain yang cukup jauh," paparnya.
> >
> > MERACUNI ANAK-ANAK
> > Singkat cerita, kerasanlah turis-turis itu berlibur di jabal al
> jannah.
> > Bahkan, secara sosial keagamaan, suasana di sini pun okey: ada
> suara
> > azan berkumandang saat menjelang salat wajib. Di Kampung Sampay,
> ada
> > tiga pondok pesantren, dan ada pula satu pesantren baru yang
> sedang
> > dibangun.
> >
> > Warga setempat pun menyambut para turis Arab dengan terbuka. Apa
> boleh
> > buat, secara nyata, mereka memang mendatangkan fulus. Penginapan
> terisi,
> > makanan terjual, sumbangan pun mengalir. Lihatlah Haji Samsudin,
> 65
> > tahun, yang sedang memimpin pendirian sebuah pondok pesantren baru
> di
> > Kampung Sampay ini, namanya Pondok Sikoyatun Najah.
> >
> > Menurut Wak haji ini, sebagian biaya calon pesantrennya diperoleh
> dari
> > sumbangan turis Arab. Di sebuah lorong di belakang Warung Kaleng,
> > terpasang spanduk dalam tulisan dan bahasa Arab, yang artinya
> kurang
> > lebih begini: "Kami sedang membangun gedung untuk pondok pesantren
> di
> > sini, mohon sumbangannya." Dengan bahasa dan huruf Arab, jelaslah
> > sasaran spanduk itu. Lantas, Nanang Supriatna, salah seorang Ketua
> RT di
> > Kampung Sampay, mengatakan: "Enggak ada Arab, enggak hidup ekonomi
> > orang-orang sini."
> >
> > Nanang yang sehari-hari berjualan kambing, pada Idul Adha yang
> lalu
> > berhasil menjual 11 kambing. "Kalau enggak ada Arab, kambing saya
> > paling-paling laku dua ekor," tuturnya kepada TRUST. Dan ternyata
> bukan
> > hanya 11. Begitu ia selesai bertransaksi untuk kambing yang ke-11
> dengan
> > Samid (mahasiswa Arab Saudi yang menginap di Vila Barita), datang
> > pesanan dua kambing lagi dari turis Arab yang menginap di Aldita,
> vila
> > pertama di daerah itu.
> >
> > Tapi tak seluruh penduduk mengangguk-angguk dan mengucapkan ahlan
> > wasahlan kepada tamu-tamu Timur Tengah itu. Haji Ichwan Kurtubi,
> 55
> > tahun, seorang tokoh masyarakat Kampung Sampay, merasa tak enak
> melihat
> > perilaku para turis itu. Para ulama, katanya, pasti tidak setuju
> warga
> > di sini memfasilitasi para turis itu ber-dugem ria alias berdunia
> > gemerlapan. "Mereka itu enggak bener. Masa sih ada Arab kawin,
> walinya
> > diambil dari sekitar-sekitar sini," ucapnya.
> > Menurut Haji Ichwan, pernikahan baru sah bila dihadiri wali yang
> sah
> > menurut Islam. "Mereka itu meracuni anak-anak muda di sini,"
> katanya
> > seraya melampiaskan kemarahannya.
> >
> > VODKA DI TANGAN KANAN
> > Tapi, anak-anak muda yang dijaga oleh Haji Ichwan itu sendiri tak
> > peduli. Mereka dengan senang mengadakan ini dan itu untuk para
> turis.
> > Dan dengan begitu?mulai sebagai pemandu wisata, mencarikan kambing
> > korban, mengantar si turis dengan ojek, mencarikan vila, sampai
> menjadi
> > preman penjaga keamanan?mereka mendapatkan penghasilan. Kata Haji
> > Ichwan: "Ulama di sini sudah kalah sama anak-anak muda itu."
> >
> > Sedangkan Zaki al-Habsy, pengelola gerai penukaran uang di Warung
> > Kaleng, mencoba bersikap realistis. "Yang tidak suka dengan turis-
> turis
> > Arab itu hanya orang-orang yang tidak berbisnis melayani mereka,"
> kata
> > Zaki yang juga agen perjalanan itu.
> >
> > Sebenarnya, di balik ketenangan hijaunya bukit dan pepohonan
> Kampung
> > Sampay, ada keresahan yang tersembunyi. Perilaku dan gaya berlibur
> > lelaki-lelaki dari padang pasir itu?yang eksklusif dan tertutup
> bagi
> > siapa saja, kecuali terhadap orang-orang yang mereka butuhkan?
> selain
> > melahirkan kecemburuan, juga menimbulkan ketersinggungan.
> >
> > Benar, wanita-wanita yang mereka datangkan bukan warga Tugu
> Selatan.
> > Yang terlihat dari jendela itu, misalnya yang diminta menari
> striptease
> > atau tari perut, konon, adalah perempuan dari Cianjur, 20-an
> kilometer
> > dari Tugu. Tapi, menurut Haji Ichwan, suasana seperti itu di depan
> mata
> > mereka adalah racun buat generasi muda. Apalagi, setidaknya, ada
> dua
> > turis Arab meninggal di salah satu vila di Kampung Sampay selagi
> > berpesta pora. "Orang Arab kan sudah terkenal dengan pemeo: vodka
> di
> > tangan kanan dan cewek di tangan kiri," kata Abubakar Sjarief,
> Kepala
> > Desa Tugu Selatan.
> >
> > Dan sebenarnya, Abubakar melanjutkan, yang mendapat rezeki dari
> turis
> > Arab hanya beberapa orang saja. "Pokoknya, rezeki (dari para
> turis) itu
> > tidak berimbang dengan mudaratnya. Secara umum, ke depan, kami
> > dirugikan," ungkapnya.
> >
> > Memang, di luar tukang ojek, penjaga malam, tukang masak di vila,
> dan
> > preman penjaga keamanan kampung, semua lahan usaha yang
> berhubungan
> > dengan Arab dijalankan oleh pendatang. Kendati warga setempat bisa
> > berbahasa arab, mereka tidak bisa menjadi pemandu wisata. Soalnya,
> untuk
> > menjadi guide, mereka harus terdaftar di Ikatan Guide Puncak yang
> > pengurusnya adalah pendatang.
> >
> > Itulah, dari pemandu wisata, penerjemah, pengelola trans-portasi,
> sampai
> > pengelola penyewaan mobil, hampir semuanya orang Jawa Tengah?
> terutama
> > dari Solo dan sekitarnya?dan dari Jakarta. Juga toko-toko yang
> berderet
> > di Warung Kaleng, sebagian besar dimiliki pendatang.
> >
> > Namun, soal rezeki ini tak pernah muncul ke permukaan sebagai
> konflik
> > sosial. Konflik yang pernah terjadi adalah konflik moral. Tahun
> lalu,
> > sejumlah santri?mulai dari Ciawi hingga Cisarua?menyerbu diskotek
> dan
> > tempat mesum lain di kawasan Tugu Selatan. Gebrakan itu sampai
> sekarang
> > masih terasa. Menurut Abubakar, sejak saat itu, wisata berbau seks
> di
> > wilayah tersebut agak mereda. Turis Arab memang masih datang, tapi
> musik
> > bising dari vila-vila jauh berkurang.
> >
> > Menurut seorang pemandu wisata di situ, untuk sementara mereka
> membawa
> > turis Arab ber-dugem ke tempat lain: Cipanas, bahkan sampai ke
> > Selabintana. Tapi, bisa jadi, wanita yang menari-nari di tempat
> menginap
> > sama saja dengan perempuan yang terlihat dari jendela itu.
> Soalnya,
> > nomor telepon genggam mereka sudah ada di tangan para calo. Jadi,
> kapan
> > saja, perempuan itu bisa dihubungi, baik secara langsung maupun
> dengan SMS.
> >
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]

> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]

> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

>
> Yahoo! Groups Links
>
> The great job makes a great man
> pustaka tani
> nuraulia
>
> ---------------------------------

=== message truncated ===


The great job makes a great man
  pustaka tani 
  nuraulia

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke