Hahaha...
Anda sendiri yang bikin judul begitu.....makanya jangan selalu jadi
'Provokator'....
RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bukan syariat yang berubah, ujar beliau. Tetapi perilaku fanatikun
yang harus berubah, kalau mau negara ini tetap langgeng..
Jelas kan? Dan beliau pasti banyak yang gugu, kecuali hizbut
hizbutan..
--- In [email protected], Al-Badruuni Enterprise
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ungkapan dibawah sangat tidak pantas diungkap oleh seorang Doktor
seperti Mahfud MD. Syariah Islam adalah tetap dan tidak berubah-
ubah. Yang hak dan batil adalah jelas. Faktor-faktor yang dianggap
sebagai 'merubah' sikap beberapa tokoh yang disebut kesemuanya
merupakan godaan duniawi dan materi. Jika memang karena faktor
perubah itu yang membuat para tokoh seperti Gus Dur, Syafii maarif,
dll berubah, maka apakah Mahfud MD hendak menyatakan bahwa tokoh-
tokoh itu mata duitan dan gila harta/jabatan????Kalau ya, berarti
kita cukup tahu kredibilitas tokoh-tokoh itu dan tidak perlu kita
gugu....
>
> Ahmad
>
> RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.gatra.com/artikel.php?id=98724
>
>
> Islam Syariat Bisa Berubah
>
> Masalah serius harus kita hadapi jika gerakan Islam syariat
seperti
> yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin
Indonesia,
> dan Komite Penegakan Syariat Islam Sulawesi Selatan menjadi arus
> kuat di Indonesia. Masalahnya, Islam akan berwajah lebih rigid,
> doktriner, dan elitis, yang dapat melahirkan kultur santri baru
yang
> semakin ortodoks.
>
> Ia juga sangat memungkinkan terjadinya perluasan fragmentasi yang
> melahirkan generasi Islam abangan yang lebih besar. Bahkan bisa
> muncul kecenderungan ekstrem berupa arus baru konversi kepemelukan
> Islam ke agama lain yang dirasa lebih memberi kenyamanan beragama
> daripada tetap berada dalam Islam yang serba syariat dan berwajah
> ideologis.
>
> Itulah temuan Haedar Nashir dalam disertasi "Gerakan Islam
Syari'at
> Reproduksi Salafiyah Ideologis", yang dipertahankan di Universitas
> Gadjah Mada, Yogyakarta, 20 September lalu. Disertasi yang
tampaknya
> mengkhawatirkan menguatnya gerakan Islam syariat itu menyebutkan
> bahwa yang dimaksud gerakan Islam syariat adalah gerakan Islam
yang
> bercorak ideologis dengan memperjuangkan Islam secara formal dalam
> negara. Gerakan ini muncul dengan militan karena dorongan
keyakinan
> dan paham keagamaan yang ingin mencetak ulang (reproduksi) tipe
> ideal zaman Nabi dan generasi salaf al-shalih (generasi terbaik
> sesudah Nabi) secara harfiah dan formal.
>
> Disertasi salah satu Ketua PP Muhammadiyah itu sulit disanggah.
> Referensinya sangat kaya, metodologinya sangat ketat. Tujuh guru
> besar penguji yang terdiri dari Miftah Thoha, Sunyoto Usman,
> Tadjuddin Noer Effendi, Amin Abddullah, Azyumardi Azra, Ali
Haidar,
> dan saya memberi yudisium kelulusan dengan predikat cum laude
tanpa
> dissenting opinion. Ketika menguji pun, saya tak mempersoalkan
> temuan ilmiah yang telah dibingkai dengan konsep dan metodologi
yang
> ketat itu. Saya hanya mengemukakan fakta bahwa meskipun gerakan
itu
> dikatakan didorong oleh keyakinan, dalam kenyataan sejarah, sikap
> dan militansi penganut gerakan Islam syariat seperti itu bisa
> berubah atau diubah oleh situasi tertentu.
>
> Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi`i Ma`arif, pada
masa
> mudanya adalah orang yang mencitakan berdirinya negara Islam
> Indonesia. Tetapi, setelah nyantri ke Universitas Chicago dan
> berguru kepada Prof. Fazlur Rahman, dia berubah sangat drastis dan
> menjadi penentang gerakan Islam syariat.
>
> Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada mulanya
> mengidolakan gerakan Al-Ikhwan al-Muslimin, sebuah gerakan Islam
> radikal yang pernah membunuh Presiden Anwar Sadat di Mesir karena
> dianggap kurang membela Islam, Bahkan, karena kekagumannya pada
> gerakan itu, ketika masih belia, Gus Dur pernah membangun
> organisasi "Al-Ikhwan" itu di Jombang. Tetapi, setelah belajar ke
> Mesir, Irak, dan bekerja di Eropa selama beberapa tahun, Gus Dur
> pulang ke Indonesia dengan visi pluralisme yang sangat liberal dan
> sangat anti-formalisasi Islam dalam kehidupan kenegaraan.
>
> Banyak juga tokoh lain yang tadinya menggelorakan gerakan Islam
> syariat menjadi berubah dan sangat akomodatif terhadap yang
> serba "non-Islam" setelah menjadi anggota DPR atau masuk ke
kabinet.
> Mereka bahkan menjadi sangat fasih menerangkan bahwa negara
> Pancasila adalah negara yang sudah final.
>
> Perubahan seperti itu juga terjadi pada organisasi politik yang
dulu
> jelas-jelas mengusung "semacam" gerakan Islam syariat. Minimal ada
> tiga parpol yang pada masa-masa awal reformasi menegaskan diri
> sebagai parpol Islam yang akan memperjuangkan berlakunya syariat
> Islam, mengubah Pasal 29 UUD 1945, bahkan ada yang menyatakan akan
> memperjuangkan berlakunya substansi Piagam Jakarta. Tetapi,
setelah
> agenda itu dipertarungkan melalui mekanisme demokrasi di DPR dan
> MPR, sekarang parpol-parpol itu berubah diam. Mereka "sadar" dan
> ikut mengatakan bahwa negara Pancasila memang final sebagai
pilihan
> yang secara demokratis tak bisa dilawan.
>
> Maka, kalau kita memang takut akan menguatnya gerakan Islam
syariat,
> minimal ada tiga situasi yang bisa mengubah gerakan itu. Pertama,
> menyekolahkan mereka ke universitas yang maju agar wawasannya
lebih
> luas dan akomodatif seperti yang dialami Syafi`i Ma`arif, Gus Dur,
> dan lain-lain.
>
> Kedua, memberi kesempatan dan tempat bagi mereka di lembaga
> demokrasi seperti DPR. Sebab, kalau kalah dalam pertarungan di
sana,
> mereka takkan bisa berbuat apa-apa dan tetap harus terikat dengan
> segala konsekuensi keputusan yang telah diambil secara demokratis.
>
> Ketiga, memberi jabatan penting pada tokoh mereka. Sebab, dalam
> kenyataannya, setelah tawar-menawar jabatan, tak sedikit di antara
> mereka yang tiba-tiba berubah dan mengatakan secara sama dengan
yang
> kita inginkan bahwa untuk bangsa yang majemuk seperti Indonesia,
> negara Pancasila adalah pilihan final.
>
> Menyambung tanya-jawab saya dengan promovendus pada ujian promosi
> doktor itu, Miftah Thoha menutup pertanyaan kepada Haedar
> Nashir. "Apakah Ustad Anu yang sangat keras dalam gerakan Islam
> syariat bisa berubah jika menjadi pejabat tinggi atau gubernur?"
> tanya Miftah. "Ya, ada kemungkinan berubah," jawab Haedar. Nah.
>
> Moh. Mahfud MD
> Anggota DPR-RI
> [Kolom, Gatra Nomor 48 Beredar Kamis, 12 Oktober 2006]
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone
call rates.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/