Mau berbagi pandangan. Sulit bagi beberapa orang, termasuk saya, memisahkan Allah dari diri dan segala kehidupan (Mungkin karena selalu berjanji dalam sholat bahwa "sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah semata"). Paling banter untuk saya adalah untuk self control, apakah Allah ridho?
Poligami termasuk dari salah satu macam bentuk kehidupan pernikahan. Jadi, apakah Poligami ini termasuk diridhoi Allah?? Nyatanya, harus dilihat kasus per kasus. Poligami yang bagaimana? Kenyataannya lagi, dari orang yang anti poligami sekalipun, mereka menolaknya juga berdasarkan literatur agama. Jadi, tidak bisa keluar pembicaraannya dari ruang lingkup agama. Dari yang anti dan pro poligami, mereka sama-sama menyadari secara umum bhw Poligami bukan kartu mati yang harus dilarang dan dianjurkan dalam agama. Buat saya sih ya, mau membawa agama mau membawa Allah, gak masalah. Itu tanggung jawab masing-masing dan punya resiko sendiri. Yang membaca ini semua juga harus jeli. Selama semua berpikir positif dan proporsional, akan fine-fine saja. Tempatkan poligami di tempatnya yang proporsional. Mau menanggapi pendapat ibu Musdah tentang poligami yang mengakibatkan penyakit kelamin. Ini butuh penyelidikan yang serius. Misalnya, siapa sih istri keduanya itu? Jangan-jangan memang perempuan pelacur tadinya? Kalau begini kan, memang dablek aja si suaminya. Tapi, kalau istri keduanya wanita baik2??? Berapa banyak pengidap penyakit kelamin yang monogami? Statusnya monogami, tapi jajan kemana-mana...pastinya kan istrinya juga akan kena penyakit kelamin. Memang kalau laki2 yang beralasan berpoligami karena sunnah rosul, mereka itu tidak konsekwen mengikutinya karena tidak pernah Nabi SAW menikahi perempuan pelacur dgn alasan utk mengangkat derajat perempuan dan menikahi yang samlehoi-samlehoi. Allah itu Maha Tahu bahwa kehidupan pernikahan itu akan banyak problemanya bagi berbagai macam keunikan manusia didunia. Oleh karena itu Dia telah mempersiapkan jalan keluarnya yang bermacam- macam pula (termasuk cerai dgn segala aturannya). Poligami adalah jalan keluar darurat. Tidak ditutup mati, seperti pintu pesawat yang ada pintu daruratnya. Namun juga tidak dibuka lebar. wassalam, --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], aris solikhah <fm_solihah@> wrote: > > > > > > Mas Ikhsan, maaf mas, apa pun status saya, saya suka atau tidak > >terhadap poligami. Tidak akan mempengaruhi dan merubah status hukum > >perbolehan poligami dari Allah. Jadi abaikan apa pun status > aris....... > > > > DH: Allah lagi, Allah lagi di-bawa bawa.. > > ---> "Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga > mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," > pungkas dia..." > > > Suami Berpoligami Rentan Tularkan Penyakit Seksual > Melly Febrida - detikcom > > Jakarta - Alasan suami berpoligami agar terhindar dari penyakit > seksual sepertinya bakal usang. Sebab suami berpoligami justru rentan > 4-5 kali menularkan penyakit kelamin dan kanker mulut rahim kepada > para istrinya. > > Minimal, si istri kerap dihampiri si putih alias keputihan. Pendapat > tersebut, kata Musdah Mulia dari Yayasan Jurnal Perempuan, > disampaikan seorang dokter dalam buku 'Berbagi Suami'. > > "Perempuan yang suaminya berpoligami itu bisa ditularkan penyakit > seksual," kata Musdah dalam jumpa pers mengenai poligami di Yayasan > Jurnal Perempuan, Jalan Tebet Barat 8, Jakarta Selatan, Sabtu > (9/12/2006). > > Musdah juga menyatakan, selain menyebabkan penyakit kelamin, poligami > juga bisa menimbulkan konflik internal di keluarga, serta > meningkatkan angka kekerasan domestik. > > Selama ini suami yang berpoligami selalu beralasan mencari ridho > Allah. Namun apakah itu hanya bisa dicapai dengan poligami? > > "Suami yang berpoligami biasanya melakukan kebohongan kepada > istrinya. Kalau poligami dianggap sunnah Rasul tapi dilakukan dengan > kebohongan, jelas itu haram," katanya. > > Menurut dia, suami yang memilih berpoligami umumnya untuk memenuhi > kepentingan biologisnya. Perempuan hanya dianggap sebagai obyek > seksual, dan budaya seperti itu perlu diubah. > > "Kalau seperti itu, yang perlu dibangun adalah manajemen syahwat, > supaya suami-suami tidak menghambur-hamburkan spermanya dan menjaga > supaya tidak affair," kata dia. > > Lalu apa yang harus dilakukan ke depan? Selain mengubah pandangan > budaya patriarki yang memandang istri hanya sebagai obyek seksual, > kata Musdah, juga harus ditanamkan pandangan terhadap perempuan untuk > berkata "tidak untuk laki-laki yang sudah menikah". > > "Karena itu tidak etis. Dan perlu juga diubah pandangan tidak takut > menjadi perawan tua. Jadi silakan berpoligami, tapi jangan pernah > menggunakan agama sebagai legitimasi," tegas Musdah. > > Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga > mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," > pungkas dia. (umi/sss) >

