Terima kasih mas Dede, jadi saya juga makin tahu siapa saja sih penggagas JIL ^_^.
Benar sekali yang dikatakan Luthfi bahwa gerakan Islam Liberal telah ada 2 abad dan salah satu keberhasilan Islam liberal adalah keruntuhan khilafah 1924 oleh Attaturk, bapak Islam liberal Turki. Dalam masa perubahan Turki dari Khilafah menjadi republik, Attaturk membunuh lebih dari 200 ulama, dan imam masjid yang ingin mendirikan khilafah kembali. Saya lupa literaturnya, di buku mana saya membaca ini ya. Tentang Bernad Lewis, dengan elok di buku What Went Wrong: Western Impact and Middle Eastern Response. New York: Oxford University Press, 2002. Ia sangat objektif mengulas tentang kejayaan khilafah, kelemahan umat Islam yang lalai dalam urusan agamanya (terutama penerapan syariat Islam diakhir khilafah usmaniyah) dan keunggulan sistem terbuka khilafah yang membuka diri terhadap warga mana pun termasuk Yahudi menjadi warga negara Islam tanpa harus pindah agama. Keunggulan yang sulit dimiliki oleh negara Eropa atau sistem demokrasi mana pun. Menurutnya, kelemahan umat Islam adalah selain ia lalai dalam syariat ISlam adalah karena umat Islam bahkan memisahkan Ilmu teknologi dari kehidupan. Umat Islam agak enggan mengadopsi ilmu dan teknologi dari dunia barat dan malah sangat terbuka mengadopsi sistem politiknya yang demokrasi liberal untuk diterapkan dinegerinya. Keunggulan buku ini adalah keobjektifan dan kejujuran Bernard Lewis sebagai seorang sejarahawan dalam mengulas tanpa steorotipe, justifikasi, tuduhan buruk terhadap umat Islam. Buku Bernard ini, sangat objektif dan arif bijaksana bahkan dibandingkan buku-buku yang dibuat oleh beberapa dari umat Islam sendiri yang sering menulis sesama saudaranya sendiri yang ingin kembali menerapkan Islam dengan sebutan Islam fundamentalis atau teroris. ^_^ Jadi kalau saya boleh mengusulkan dan merekomendasikan buku Bernard untuk dibaca.... ^_^ salam sukses mulia selalu, aris --- Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > >Subject: Dua Abad Islam Liberal > > > >Oleh Luthfi Assyaukanie > >Pendiri JIL, Peneliti Freedom Institute, dan Dosen > Universitas > >Paramadina, Jakarta > ><http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm > >========================== > > > >Sebagai gerakan lokal, Jaringan Islam Liberal Maret > ini baru berusia > >enam tahun, tapi sebagai gerakan global, Islam > Liberal—dari mana > >istilah JIL berasal—sesungguhnya telah berusia dua > abad lebih. > >Mengambil patokan tahun 1798, usia Islam Liberal > mencapai 209 tahun. > > > >Tahun 1798 adalah saat Napoleon Bonaparte > menginjakkan kaki di > >Mesir. Tahun itu sangat bersejarah. Bernard Lewis > menyebutnya > >sebagai a watershed in history dan the first shock > to Islamic > >complacency, the first impulse to westernization > and reform (Lewis > >1964:34). Para ahli sejarah sepakat, kedatangan > Bonaparte di Mesir > >merupakan tonggak penting bagi kaum Muslim dan juga > bagi bangsa > >Eropa. > > > >Bagi kaum Muslim, kedatangan itu membuka mata > betapa tentara Eropa > >yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung > Islam. Bagi > >orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa > mudah menaklukkan > >sebuah peradaban yang di masa silam begitu berjaya > dan sulit > >ditaklukkan. > > > >Begitu penting 1798. Albert Hourani, sejarawan > Inggris keturunan > >Lebanon, menjadikannya awal era liberal bagi bangsa > Arab dan kaum > >Islam. Seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, > Arabic Thought in the > >Liberal Age, kedatangan Bonaparte ke Mesir bukan > sekadar penaklukan > >militer, melainkan juga awal kebangkitan kesadaran > kaum Muslim akan > >diri mereka. > > > >Menarik dicatat, Hourani menggunakan era liberal > untuk merujuk masa > >kebangkitan Islam di dunia modern. Kata liberal di > sini ialah sebuah > >kondisi dan suasana di mana kaum Muslim bebas > mengartikulasikan > >kesadaran budaya dan peradaban mereka. Dalam > konteks Eropa, liberal > >mengacu kepada situasi kebangkitan dan pencerahan. > Itu sebab ketika > >karya Hourani itu diterjemahkan ke dalam bahasa > Arab, yang digunakan > >untuk liberal age adalah asr al-nahdah yang berarti > 'era > >kebangkitan' (judul lengkapnya al-fikr al-arabi fi > asr al-nahdah). > >Menurut Hourani, era liberal di dunia Arab > terentang dalam (1798- > >1939). Tahun 1939 merujuk kepada pecahnya Perang > Dunia II dan > >dimulainya kiprah politik Ikhwanul Muslim di Mesir. > Selama rentang > >itu dasar pemikiran seperti kemajuan, modernitas, > kebebasan, dan > >persamaan dibincangkan secara luas. > > > >Para liberalis awal > > > >Para pembaharu awal seperti al-Tahtawi, al-Tunisi, > dan al-Kawakibi > >menyadari betul kondisi kaum Muslim yang > terbelakang. Perhatian > >utama mereka: bagaimana mengubah keadaan ke arah > lebih baik. Mereka > >selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum > Muslim dengan > >kemajuan Eropa. Persis seperti yang dipertanyakan > Abd al-Rahman al- > >Kawakibi dalam bukunya, limadza taakhkhara > al-muslimun wa limadza > >taqaddama ghayruhum (mengapa kaum Muslim mundur dan > mengapa bangsa > >lain maju?). > > > >Seluruh pemikiran dan gagasan yang dikemukakan para > pembaharu Islam > >abad ke-19 berputar pada upaya menjawab pertanyaan > di atas. Adalah > >ironis, peradaban yang pada masa silam memiliki > sejarah gemilang dan > >kitab sucinya mewartakan "umat terbaik di dunia" > (khayru ummatin > >ukhrijat linnas) berada pada titik nadir peradaban. > Bukan hanya > >berada dalam keterbelakangan, mereka juga dalam > penjajahan bangsa > >lain. Mesti ada satu sebab utama mengapa kaum > Muslim terbelakang dan > >mengapa bangsa Eropa maju? > > > >Rifa'a al-Tahtawi (1801-1873) adalah salah satu > tokoh pembaharu > >pertama yang mencoba menjawab pertanyaan itu. > Menurut al-Tahtawi, > >kunci pertanyaan itu adalah "kebebasan" > (hurriyyah). Bangsa Eropa > >maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan > teknologi di Eropa > >sejak abad ke-16 didorong oleh suasana kebebasan > dalam masyarakat > >itu. Tahtawi menganggap kebebasan bukan hanya kunci > bagi > >kebahagiaan, tapi juga bagi keamanan dan > kesejahteraan. > > > >Sebab utama keterbelakangan kaum Muslim, menurut > Tahtawi, ialah > >ketiadaan kebebasan itu. Ini sudah terjadi sejak > kerajaan Islam di > >Baghdad (abad ke-12) dan Cordova (abad ke-15) > runtuh. Sebaliknya, > >kebebasan berpikir yang dalam istilah agama dikenal > dengan ijtihad > >justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad > ke-15-ke-19, > >wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat > menutup pintu > >ijtihad. > > > >Tahtawi tak sendirian meyakini kebebasan sebagai > kunci kemajuan > >suatu bangsa. Pada 1878 Sa'dullah, intelektual dan > diplomat Turki, > >berkunjung ke Pameran Besar di Paris. Dalam sepucuk > surat kepada > >teman-temannya, dia bercerita: "Di depan pintu > utama aku melihat > >patung kebebasan. Dia duduk dan memegang sesuatu di > tangannya. > >Gayanya seolah sedang menyampaikan pesan: 'Hai para > pengunjung! Jika > >Anda menyaksikan berbagai pencapaian kemajuan > manusia dalam pameran > >ini, jangan lupa bahwa seluruh pencapaian ini > adalah hasil dari > >kebebasan. Lewat kebebasan manusia mencapai > kebahagiaan. Tanpa > >kebebasan, tak akan ada keamanan; tanpa keamanan, > tak akan ada > >pencapaian; tanpa pencapaian, tak akan ada > kesejahteraan; tanpa > >kesejahteraan, tak akan ada kebahagiaan'." (Lewis > 1964:47). > > > >Para pembaharu atau liberalis Muslim awal melihat > kebebasan benar- > >benar sebagai kunci kebahagiaan. Bukan hanya > kebahagiaan individu, > >tapi juga kebahagiaan suatu bangsa. Pandangan ini > mengingatkan kita > >pada Francis Fukuyama (2000) ketika menjelaskan > "modal sosial" dalam > >berdemokrasi. Menurut Fukuyama, demokrasi sangat > ditentukan oleh > >modal sosial yang mendukungnya. Modal sosial adalah > sekumpulan > >berbagai unit dalam sebuah masyarakat. Unit > terkecil kumpulan sosial > >adalah keluarga yang terdiri dari > individu-individu. Jika individu > >dalam keluarga ini baik, dia akan memiliki dampak > pada unit yang > >lebih besar, yakni masyarakat sebagai modal > demokrasi. > > > >Tahtawi dan para pembaharu Islam abad ke-19 juga > melihat kebebasan > >individu sebagai langkah awal mewujudkan > kebahagiaan dan sukses yang > >lebih besar. Yang dimaksud dengan kebebasan adalah > kebebasan > >politik, suatu keadaan di mana individu bisa > memikirkan dan berbuat > >sesuatu secara bebas tanpa tekanan atau larangan > penguasa. Yang > === message truncated === Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950) pustaka tani prohumasi nuraulia ____________________________________________________________________________________ No need to miss a message. Get email on-the-go with Yahoo! Mail for Mobile. Get started. http://mobile.yahoo.com/mail

