KOMENTAR: 1. Istilah atau yargon "agama" yang sudah menjadi salah penggunaannya dalam memahami Al-Din al-Islam adalah hasil rekayasa ahli agama (theolog) Eropa Barat pada zaman pencerahan Eropa abad pertengahan. Di Indonesia sebelum resmi dikolonisasi pemerintah Kerajaan Belanda tidak dikenal istilah "agama" bagi Al-Dinu al-Islam. Dan catatan serta buku bahasa Melayu ditulis di dalam huruf Arab. Setelah Snouck Hourgrogne yang ahli bahasa Arab mempelajari Al-Dinu al-Islam dan menjadi Muslim di Mekah serta ditempatkan di Indonesia sebagai ahli Islam guna meredam pembrontakan dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial pemerintah Nederlands Indie, maka diintrodusirlah Islam sebagai "agama, religion" dalam struktur agama Kristen. Dengan introduksi ini diupayakan berlakunya secularisme ke dalam masyarakat Muslimin Indonesia yang mayoritasnya tidak memahami Al-Dinu al-Islam secara langsung tetapi melalui jenjang jabatan para 'ulama Muslimin dari berbagai negeri yang mengintroduksi Al-Dinu al-Islam di Indonesia.
2. Kepada para 'ulama Muslimin Indonesia saya cenderung menganjurkan memahami Al-Dinu al-Islam dari tangan pertama: Allah swt langsung dengan methodologi pemahaman - Kesatuan arti maksud ayat-ayat Al-Kaun dengan ayat-ayat Al-Quran. Pemikiran ini mungkin dilaksanakan tanpa perantaraan rasulullah Muhammad saw berkat tingkat perkembangan pengetahuan kita terhadap alam semesta, alam lingkungan di mana kita hidup dan tingkat intelegensi spesies manusia dewasa ini. 3 - Dari punt 1 dan punt 2 kita akan dapat memahami Al-Dinu al-Islam sebagai Jalan Hidup yang paling sesuai dengan spesies manusia yang diciptakan kira-kira 20.000 tahun yang lalu (masih baru saja sebenarnya, bukan?). Atau boleh juga difahami sebagai ilmu pengetahuan untuk hidup bagi manusia di bumi yang sesuai dengan tujuan penciptaannya dengan prasyarat bahwa kita sudah menerima dan mengakui bahwa Yang Pertama Berada adalah Allah swt. Dengan demikian maka Al-Dinu al-Islam tidak bisa tidak adalah keseluruhan aktivitas hidup manusia di bumi dalam segala ragamnya. Jika mau lebih di hakikan, sesungguhnya seluruh alam semesta dan isinya - termasuk masyarakat manusia secara kolektif maupun individual - telah, sedang dan akan menempuh hidup secara Islam baik terpaksa maupun sukarela. Al-Dinu al-Islam adalah HUKUM UMUM ALAM SMESTA SEISINYA!!!!!! Ini adalah suatu realitas yang berada di luar tetapi juga di dalam diri manusia secara pribadi maupun masyarakat. Manusia yang menghindari Al-Dinu al-Islam dengan semilyar cara-cara akan gagal total dan rugi sendiri. 4 - Dari uraian singkat di atas maka sebaiknya waktu lebih bermanfaat digunakan untuk menguasai dan memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dan membangun kehidupan di bumi demi kemaslahatan bersama seluruh mahluk yang hidup, termasuk bakteri, gaganggang dan lumut sekalipun. Ini adalah tugas utama kaum Muslimin yang harus dilaksanakan demi memenuhtuntutan sebagai holifatan fii al-ardzh. Apabila ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dapat kita miliki maka AHLAQ kita sendiri akan terangkat setingkat demi setingkat mendekat kepada Al-Ahlaqu al-Karimah atau Ahlaq Wakil Allah swt di bumi. Semoga dapat meluaskan wawasan berfikir kita semua, Wassalam, A.M ----- Original Message ----- From: aris solikhah To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] ; BKIM ku Sent: Friday, May 25, 2007 5:11 AM Subject: [ppiindia] Islam dan Ideologi Transnasional Islam dan Ideologi Transnasional Oleh : H Mashadi Ketua Forum Umat Islam Ada yang menarik untuk dicermati dari pidato salah seorang tokoh Muslim negeri ini saat memperingati 100 hari wafatnya KH Yusuf Hasyim 29 April 2007 yang lalu sebagai mana dilansir harian ini hari Senin 30 April 2007. Dalam pidatonya, tokoh tersebut tidak sungkan-sungkan mendesak pemerintah untuk mencegah masuknya ideologi transnasional ke Indonesia, baik ideologi transnasional dari Barat maupun dari Timur. Tokoh yang sama juga menyatakan, bahwa Islam adalah agama, bukanlah ideologi. Masih menurut dia, yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah akibat dari Islam sebagai ideologi, bukan sebagai agama. Benarkah demikian? Bisakah Islam dipisahkan sebagai agama dan ideologi? Lalu di manakah posisi Ikhwanul Muslimin, Majelis Mujahidin, Alqaidah yang beliau kategorikan sebagai ideologi Islam di Timur Tengah dan bukan Islam dengan alasan Islam sebagai agama bukan gerakan kepentingan apalagi politis? Islam, agama, dan ideologi Islam, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, dalam kitabnya Al Islam 'Aqidatan wa Syari'atan (1966: 9-11) adalah dinullah yang seluruh ajarannya, baik akidah maupun syariatnya, telah disampaikan kepada Nabi SAW. Dari Alquran, kita tahu bahwa Islam mempunyai dua bagian pokok, di mana faktanya tidak akan pernah ada, dan maknanya juga tidak akan terealisasi, kecuali jika kedua bagian tersebut ada dan diwujudkan. Dua bagian itu tak lain adalah akidah dan syariat. Ibarat bangunan, akidah adalah pondasi, sementara syariat adalah konstruksi dari seluruh bangunan yang dibangun di atasnya yang mengandung berbagai unsur bangunan seperti ibadah, muamalah, akhlak, ukhuwah Islamiyyah dan kelengkapannya. Sebagai pondasi, akidah memang tidak tampak di permukaan. Ini berbeda dengan syariat, karena akidah adalah aktivitas kalbu, sementara syariat adalah aktivitas fisik. Meski demikian, dua-duanya tidak dapat dipisahkan. Inilah Islam. Islam adalah din yang lengkap dan sempurna (QS 05: 03). Sebagai din, Islam bukan hanya membahas masalah keakhiratan, tapi Islam juga membahas berbagai masalah keduniaan, seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial-kemasyarakatan, politik luar negeri dan sebagainya, yang lazimnya menjadi wilayah ideologi. Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah agama sekaligus ideologi. Kita memang sering dirancukan dengan istilah ideologi, sebagai kerangka filosofis yang dihasilkan oleh manusia, seperti kapitalisme dan sosialisme. Sedemikian, sehingga Islam, menurut logika ini, bukan merupakan ideologi, melainkan agama. Alasannya, karena ideologi adalah kerangka filosofis yang dihasilkan oleh akal manusia, sementara Islam tidak. Padahal, konteks pembahasannya adalah sumber ideologi, bukan apa ideologi itu sendiri? Ini adalah dua fakta yang berbeda. Karena itu, dalam konteks sumber ideologi, bisa disimpulkan ada dua kategori ideologi, yaitu ideologi yang bersumber dari akal manusia, dan ideologi yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa Islam adalah ideologi yang bersumber dari wahyu Allah, yang jelas berbeda dengan kapitalisme maupun komunisme. Agama dan ideologi transnasional Istilah transnasional sering digunakan dengan merujuk pada penggunaan istilah kejahatan transnasional, dengan konotasi lintas batas negara. Jika ada agama dan ideologi yang disebut sebagai agama dan ideologi transnasional, itu adalah Islam. Kalau Islam bukan agama transnasional, maka tidak ada ibadah yang dilakukan lintasnegara, seperti haji, umrah dan jihad. Kalau Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum Muslim di Indonesia berbeda dengan kaum Muslim di Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan sebagainya. Namun, justru karena shalat, puasa, zakat dan hajinya sama, maka semuanya ini membuktikan, bahwa Islam adalah agama transnasional. Demikian halnya dengan Islam sebagai idoelogi. Persatuan umat Islam di seluruh dunia selama 14 abad dalam satu kebudayaan dan negara adalah bukti, bahwa Islam juga merupakan ideologi transnasional. Seperti kata Will Durant (1885-1981), "Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol. Islam juga telah menguasai cita-cita mereka, mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh kepadanya pada saat ini (era Will Durant) sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara mereka." (Will Durant, The History of Civilization, vol XIII). Nah, dalam konteks agama dan ideologi transnasional ini, posisi Islam sama dengan Kristen dan Yahudi di satu sisi, dan dengan kapitalisme maupun sosialisme di sisi lain. Bedanya, jika Kristen dan Yahudi adalah agama transnasional, sama dengan Islam. Namun, kedua agama yang aslinya diturunkan kepada Bani Israil itu sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai ideologi secara hakiki. Sebab, ideologi hakiki adalah sekumpulan keyakinan yang menghasilkan sistem peraturan kehidupan, seperti sistem ekonomi, sistem sosial, sistem politik, dan lain-lain. Kedua agama Bani Israil itu hanya memuat sekumpulan keyakinan, ibadah ritual, dan budi pekerti. Para penganut mereka tunduk dalam sistem ideologi apapun yang diberlakukan, baik itu sistem sosialis, kapitalis maupun Islam. Sedangkan di dalam Islam, peraturan tentang bebagai sistem kehidupan tersebut secara sempurna dan menyeluruh telah tersusun secara sistematis di dalam syariat Islam yang kaffah. Berkaitan dengan ajaran ideologi kapitalisme maupun sosialisme, keduanya adalah ideologi transnasional, sama dengan Islam. Bedanya, kapitalisme maupun sosialisme bukanlah agama, dan tidak akan pernah bisa menjadi agama. Dengan demikian, satu-satunya agama dan sekaligus ideologi transnasional yang utuh adalah Islam. Pertanyaannya adalah, ideologi transnasional manakah yang dimaksud oleh tokoh tersebut, sedemikian gawatnya, sehingga dia memprovokasi pemerintah untuk mencegahnya. Jika yang dimaksud adalah sosialisme (komunisme), tentu kita setuju. Karena secara generik bertentangan dengan akal dan fitrah manusia, dan telah terbukti gagal. Demikian halnya, jika yang dimaksud adalah adalah kapitalisme, kita pun setuju. Namun, jika yang dimaksud itu adalah Islam, maka mencegah masuknya ideologi Islam transnasional jelas tidak mungkin. Adapun posisi Ikhwanul Muslimin, Alqaidah, dan Majelis Mujahidin menurut hemat penulis bukanlah ideologi tetapi organisasi yang berideologi Islam. Posisi organisasi-organisasi tersebut kiranya sama dengan NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah, HMI, PII, dan lain-lain di Indonesia sebagai organisasi-organisasi yang berideologi Islam. Tentu saja pemerintah tidak bisa melarang organisasi-organisasi dakwah dan gerakan Islam tersebut karena ideologi Islam yang mendasari pikiran dan gerakannya. Ikhtisar - Selain menjadi agama, Islam juga telah menjadi ideologi yang menyebar secara transnasional. - Posisi Islam sebagai agama dan sebagai ideologi tidak bisa dipisahkan. - Keinginan untuk melarang masuknya ideologi transnasional harus diuraikan lebih tegas. http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=294329&kat_id=16 BERITA LAIN . Bush Berkata: Orang China ''Perlu'' Makan Daging Sapi AS . Pembangunan Pacific Place di SCBD Kerap Memakan Korban . Penelitian Membuktikan Telefon Genggam tak Sebabkan Sakit Kepala . G8 Sepakat Tingkatkan Perang Melawan Pornografi Anak-Anak . DPR: Penangkapan 33 Pejabat Hamas oleh Israel Berpotensi Hancurkan Perundingan Damai . MA: PK Perkara Meruya Selatan Masih Dimungkinkan . Wewenang KPU Perlu Diperluas Soal Audit Keuangan Dana Kampanye . GNB, Palestina di PBB Desak Gencatan Senjata dan Penempatan Pemantau di Gaza . Pemprop Sulut Optimis Pembangunan Jembatan Megawati Selesai 2008 . Israel Tangkap 33 Pejabat Senior Hamas di Tepi Barat • Edisi Kemarin --> function load() { lebar = (window.screen.availWidth / 2) - 250; tinggi = (window.screen.availHeight / 2) - 200; window.open('cahaya.htm', "", "toolbar=0,location=0,menubar=0,scrollbars=1,resizable=0,width=500,height=286,left=" + lebar + ",top=" + tinggi); } --> --> Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950) pustaka tani kampusku nuraulia --------------------------------- Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, when. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.446 / Virus Database: 269.7.6/814 - Release Date: 5/21/2007 2:01 PM [Non-text portions of this message have been removed]

