Yaaaa letakkanlah botol botol kecap cap bango, cap Kakitiga, cap opo 
meneh diatas meja, ya yang asin, ya yang manis, ya kecap ikan 
(anchovy sauce)..

Biarkanlah penikmat makanan mencobanya... kita akan lihat, bila 
proporsi kecapnya OK, paduan makanan (bukan paduan suara) OK, maka 
tiap insan akan OK..

Andaikan kita sudah bubuhkan kecap, namun nasi masih kering 
kerontang sampai ke selek selek, maka ya ada yang something wrong..

Rak iya to?

Salam

danardono


--- In [email protected], "A. Marconi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> -----> Hal yang Anda pertanyakan dan tertawakan itulah yang 
seharusnya menjadi penggugah atas keterbelakangan kaum Muslimin di 
negeri masing-masing yang masih tersihir oleh cerita seribusatu 
malam tentang Al-Dinu al-Islam. Keadaan sejarah ummat Islam di abad 
sekarang ini adalah hasil dan produk dari pemahaman dan pelaksanaan 
pemahaman kaum Muslimin terhadap firman Allah swt yang diwahyukan. 
Jika diteliti dengan jujur maka akan ketemu bahwa antara firman 
Allah swt yang diwahyukan di dalam Al-Quran dengan nasib kaum 
Muslimin secara menyeluruh sangat bertolak belakang. Di sini kaum 
Muslimin, terutama kaum intelektual Muslimin, harus berani mawas 
diri dan bukan menyalahkan lingkungan dan gejala-gejala di luar 
dirinya. Jadi benar yang Anda katakan " ....bagaimana kalau 
berintrospeksi daripada jual kecap?" Maaf saya sendiri tidak 
bermaksud menjual kecap yang Anda maksud. Kecap itu bukan hasil 
produksi saya, saya hanyalah salah seorang yang sedang menikmati 
kecap itu, betul-betul kecap itu luarbiasa enak, sedap dan dengan 
ukuran kwantitatif yang tepat akan mempersedap makanan yang tidak 
termakan menjadi termakan dengan lahap! Tidak percaya? Silahkan coba 
sendiri berdasarkan resep yang telah diberikan oleh Muhammad bin 
Abdullah bin Abutholib. Saya juga bukan penjual kecap, sebab setiap 
manusia sekarang ini gentanyangan mencari kecap agar dapat makan 
sedap dan tenang sambil menikmati bunyi gamelan dari pendopo. 
Menurut pengetahuan saya kecap itu diumbar di mana-manna dan setiap 
orang dipersilahkan mengambilnya gratis (rugi saya jika menjadi 
penjual kecap) langsung kepada Produsennya. Terserah Anda memilih 
kecap produksi siapa.
> 
> A.M
>   ----- Original Message ----- 
>   From: RM Danardono HADINOTO 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Wednesday, May 30, 2007 5:03 PM
>   Subject: [ppiindia] Re: Islam dan Ideologi Transnasional
> 
> 
>   --- In [email protected], "A. Marconi" <a.marconi@> wrote:
>   >
> 
>   "4 - Dari uraian singkat di atas maka sebaiknya waktu lebih 
>   bermanfaat digunakan untuk menguasai dan memperdalam ilmu 
>   pengetahuan dan teknologi canggih dan membangun kehidupan di 
bumi 
>   demi kemaslahatan bersama seluruh mahluk yang hidup, termasuk 
>   bakteri, gaganggang dan lumut sekalipun. Ini adalah tugas utama 
kaum
>   Muslimin yang harus dilaksanakan demi memenuhtuntutan sebagai 
>   holifatan fii al-ardzh. Apabila ilmu pengetahuan dan teknologi 
>   canggih dapat kita miliki maka AHLAQ kita sendiri akan terangkat 
>   setingkat demi setingkat mendekat kepada Al-Ahlaqu al-Karimah 
atau 
>   Ahlaq Wakil Allah swt di bumi...."
> 
>   ---> Tapi anehnya, mengapa justru bangsa bangsa beragama Islam 
yang 
>   paling kedodoran dalam tekhnologi canggih? Sudah pernah ke 
Darfur, 
>   Tunisia, Hadramaut, Marokko, Afganistan, dan sejenisnya?
> 
>   Ujung tombak kemajuan tekhnologi di Asia dipegang oleh bangsa 
bangsa 
>   yang menganut ajaran yang datang jauh sebelum Islam!
> 
>   Ceraamah yang romantis, namun tak sesuai dengan keadaan di 
>   lapangan.. bagaimana kalau berintrospeksi daripada jual kecap?
> 
>   DH
> 
> 
> 
>    
> 
> 
> -------------------------------------------------------------------
-----------
> 
> 
>   No virus found in this incoming message.
>   Checked by AVG Free Edition. 
>   Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.8.3/824 - Release Date: 
29-5-07 13:01
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke