Ya mbak, dalam masalah pembelajaran ini banyak kisah sedih. Ketika 
menengok sebuah sekolah unggulan di Tanah Air, saya sempat menayai 
seorang siswa. Saya tanyakan "kapan perang Diponegoro berakhir?", 
dengan cukup cepat walau harus mengernyutkan kening, dia 
jawab: "1830 pak". lalu saya tanyakan "apakah penyebab perang ini 
sebenarnya dari sudut pangeran Diponegoro?", dan "apakah dampak 
perang ini, Belanda menyebut dalam pustaka sejarah "Java Orloog" 
atau Perang Jawa, bagi tatapemerintahan dan tata militer Hindia 
Belanda"? si siswa menatap saya ber menit menit, akhirnya berkata " 
tak tahu, pak".

Siswa kita dibiasakan menghapal, berfikir dalam proses mengumpulkan 
memory lalu memuntahkan kembali. Convergent. Mereka tak terbiasa 
berfikir dalam essay, divergent, innovatif.

Diajarkan, bahwa gubernur jendral Daendels perintahkan bangun jalan 
Anyer Panarukan, tak seorangpun yang terpikir, mengapa justru ia 
perintahkan ini. hanya peristiwa X yang ditancapkan dibatok kepala, 
namun tidak why dan how X happened. Sebagai perwira militer Napoleon 
yang bertempur di medan Europa, jalan militer adalah mutlak perlu, 
itupun yang ia lakukan ketika bertugas di Hindia Belanda...

Kritik emosional adalah kejagoan kita, namun kritik rational, masih 
belum dipahami..

Salam

danardono

 


--- In [email protected], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Iya nih, tentang kurikulum di sekolah2, anakku yg di smu pernah 
ngomong,
> apa sih perlunya ke sekolah..? sedih aku ngedengernya, dia sering
> terlihat enggan ke sekolah, gak bersemangat, rada-rada malas, 
pernah aku
> tanya, kenapa nak..? anakku pun bercerita, dia dan temen2nya 
bingung,
> ada salah seorang guru, setiap masuk kelas, langsung membagikan 
soal,
> saat murid2nya protes, dijawab, saya di sini, tugasnya memberi 
test,
> sampai dimana kalian berhasil mencari ilmu. Jadi ceritanya, murid2 
ini
> diberi tugas cari ilmu dari warnet, browsing, cari2 sendiri, trus
> ngerjain soal sendiri, kadang2 berkelompok.. hasilnya, setiap itu 
guru
> masuk kelas, tugasnya memberi test.. titik.. Lagian, itu para 
murid yg
> diajarkan belajar dari warnet, iya, kalo bener2 mereka di warnet 
cari
> ilmu, nah, kalo kemudian keterusan nemu "ilmu" yang lain-lain.. 
nantinya
> kan jadi "pinter" yang lain-lain.. waduh.. aku kan gak boleh 
berburuk
> sangka.. hiks..!!
> 
>  
> 
> Apakah ini karena sistem KBK..?? kalo diperhatikan, nampaknya, 
guru2nya
> pun masih belum paham banget dengan sistem ini.. kalo memang mau 
ikut2
> seperti sekolah2 di singapura, yg merujuk pencarian ilmu kepada 
blog
> lewat internet, sebaiknya kan sekolah2 tsb menyediakan fasilitas
> internet, bukannya nyuruh murid2nya kelayapan ke warnet.. hiks..!!
> 
>  
> 
> Sebenernya sistem KBK ini udah dikaji dengan benar atau belum 
ya..??
> 
>  
> 
> Ada yang tahu..?? Mohon pencerahannya..
> 
>  
> 
> Terimakasih..
> 
>  
> 
> Wassalam,
> 
>  
> 
>   _____  
> 
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of Mas Bagong
> Sent: Thursday, May 31, 2007 1:08 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [ppiindia] Re: Islam dan Ideologi Transnasional
> 
>  
> 
> Pakdhe DH,
> Ya jelas no...
> Wong, orang Islamnya sibuk ngributin cipika-cipiki nya tukul 
daripada
> ngributin sekolah untuk anak-anaknya yang tinggal nunggu ambruk
> diseruduk
> kambing...
> Orang Islamnya sibuk ngributin AA Gym yang poligami lagi daripada
> ngributin
> kurikulum sekolah anak-anaknya yang makin enggak mutu...
> Mangkanya, harusnya adalah 'walk the talk' bukan 'talk the walk' 
ya tho?
> Harusnya orang Islam ngributin kurikulum sekolahan anak-anaknya 
yang
> nggak
> jelas ujung pangkalnya...
> Harusnya ngributin fasilitas penunjang belajar iptek yang nggak 
segera
> terealisasi di sekolah-sekolah anaknya...
> Piye setuju Pakdhe?
> DG
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
>  
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke