Walau tidak ada data ilmiah tapi The Welcoming center of New Pennsylvanians
pernah menulis dalam salah satu publikasi mereka bahwa pekerja Indonesia di PA
kebanyakan bekerja di pabrik. Argumennya saya rasa jelas, kalau kerja di pabrik
kan bisa milih yang bayarannya besar, bisa kerja double shift dan bisa bebas.
Kalau jadi pembantu kan sangat terikat majikan (apalagi majikan Indonesia dan
negara timteng kan terkenal kalau bayar "irit"). Yang banyak dipilih sih
pekerjaan di resto karena semakin banyak pengalaman semakin naik bayarannya.
Saya kenal suami istri di Philly yang kerja di restoran Cina dan dapat minimal
$5000 per bulan, bersih (makan dan tempat tinggal ditanggung pemilik resto). Si
suami kerja sebagai cook, si istri sebagai waitress dan keduanya terima tip.
Saya pernah ngobrol sama seorang ibu Indo yang suaminya kerja di UN yang sisa
uang bulanannya/savingnya pas2an dan dia terkaget-kaget dengar ada orang gelap
bisa dapat sebesar itu.
Just my 2 cents, belum tentu betul lho, wong saya juga cuma dengar cerita teman
Indah
imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Terimakasih banyak mbak Indah atas
sharing info-nya. Saya juga ingin sekali mengetahui
banyak dan membandingkan "struktur sosial" masyarakat
Indonesia di perantauan: di Amerika, di Eropa Barat,
serta di negara-2 Timur-tengah Petrodolar dan di Malaysia.
Kalau saya boleh bertanya mbak Indah: Apakah di Amerika
cukup banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai
Pembantu Rumah Tangga?
Karena saya tetap berpendapat bahwa masyarkat Indonesia
tetap memandang bahwa "status" PRT itu masih lebih rendah
daripada pekerjaan "kuli" yang lain seperti pekerja pabrik,
bahkan dibanding tukang becak misalnya, ....
Saya mengalami sendiri, sekitar tahun 1996, kami biasanya
harus "hunting" tenaga pembantu dari Jawa ( dari pedesaan ),
dan trend nya semakin susah nyari tenaga pembantu ( yang
dicari umumnya wanita muda ), meskipun di desa itu lagi
susah nyari pekerjaan. Umumnya para wanita muda itu
inginnya ke kota ( Jabotabek atau Bandung ) untuk bekerja
di pabrik. Meskipun di-iming-imingi akan dikursuskan
menjahit dan setelah selesai "kontrak" akan dikasih
pesangon/modal untuk usaha menjahit, tetapi jarang ada
yang mau ...
----( IM )--------------------
--- indah nuritasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Muchtarom,
>
> di Philly pengajian "antar kelas" seperti ini bukan
> hal baru lagi. Begitu juga di DC dan sekitarnya.
> Malah ada perkumpulan namanya Kuli Dollar yang
> rajin membuat pengajian, dan kadang gabung dengan
> pihak Konjen New York City.
>
> Memang sih ada beberapa student yang sikap dan gayanya
> "agak tinggi" tapi ya kalau ketinggian kan repot sendiri.
> Lagipula yang kuli itu bukan berarti economic statusnya
> lebih rendah lho, malah sering mereka ber-dollar lebih
> banyak dari yang student atau profesional. Tanya saja
> sama Bung Ikra kalau tidak percaya.
>
> salam,
>
> Indah
>
> imuchtarom <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perkenankan saya kirim-salin perbincangan mengenai
> tajuk yang menarik dari riung wicara PPI di Malaysia
> mengenai gagasan membuat program Pengajian "gabungan"
> antara "kasta" Mahasiswa dan "kasta" Pembantu (TKW)
> di LN, seperti halnya di Malaysia.
>
> Mudah-mudahan bermanfaat,
>
> wassalam,
>
> ---( ihsan hm )---------------------------
>
> Alhamdulillah,
>
> Gagasan yang di cetuskan rekan-rekan di Malaysia
> insya Allah sangat mulia dan menurut pendapat saya
> *-luar biasa cerdas-* :-), baik dari tinjauan IQ, EQ,
> maupun ESQ.
>
> Sayangnya, sepertinya kami para mahasiswa Indonesia
> di Jerman mungkin tidak bisa meniru gagasan serupa,
> karena memang secara struktur sosial maupun historis,
> dalam masyarakat barat tidak lagi dikenal "kelas"
> profesi yang setara dengan "kelas PRT" di negara kita.
> Paling-paling ya pekerjaan semacam *-baby-sitter-* yg
> tidak selalu dilakukan oleh orang berpendidikan rendah.
> Para mahasiswa/wi pun kadang-kadang mau melakukan
> pekerjaan semacam itu, jika memang dalam keadaan membutuhkan.
>
> Juga, karena sudah di tetapkannya standar upah minimum
> ( semacam UMR ) di jerman, yang rasanya sekitar 8 euro per
> jam untuk hampir "semua" jenis pekerjaan yang tidak memerlukan
> keahlian khusus, maka kami para mahasiswa yang seringkali
> harus bekerja part-time semacam ini { yang seringkali
melibatkan
> pekerjaan "manual"/"kasar"/"kuli :)" } praktis tidak merasa
> "kasta" nya lebih tinggi di banding para pekerja lainnya
> yang latar belakang pendidikannya lebih rendah, yang
mengerjakan
> jenis pekerjaan yang sama. Mudah-mudahan kami, para mahasiswa
> yang pernah merasakan melakukan pekerjan "kasar/nguli" di
> Eropa bisa "menghayati" nilai-niai spiritualnya bahwa di mata
> Tuhan, sebetulnya kedudukan semua manusia sama, tidak
bergantung
> pada warna darahnya: darah biru, darah merah, darah hijau,
> maupun darah orange ... :)
>
> ***
>
> Khusus program "sapa-menyapa" atau "rangkul-merangkul" antara
> sesama bangsa Indonesia perantauan ini pernah dilakukan oleh
> sebagian kelompok pengajian di Jerman terhadap komunitas
> Indonesia yang kadang di istilahkan sebagai "orang Orde Lama",
> yaitu yang menetap di eropa sejak sebelum 1965, lalu tidak
> bisa pulang kembali ke Indonesia karena alasan "politik"
> sejak pemerintahan orde baru. Kelihatannya baik para bapak-
> bapak tersebut dan kami sama-sama gembira jika bisa berkumpul
> dan duduk bersama dalam acara-2 silaturahmi semacam itu,
> baik apakah pengajian, reuni/pertandinga olah raga maupun
> halal bihalal.
>
> wassalam,
>
> - ihsan hm -
>
> --- In Said Fhazli Al-Idrus <sfhazli76@> wrote:
> >
> > Assalammualaikum wr, wb..
> >
> > Salam sejahtera dan transparan selalu..
> >
> > Ide yang sangat bagus dan cemerlang,,,perlu di tindak
> > lanjuti dengan kadar segera..
> >
> > Kalau boleh usul juga...jangan hanya pengajian saja, akan
> > tetapi lebih baik juga kalau diikuti dengan pemberian
> > pelatihan ketrampilan,,terutamanya dalam hal keterampilan
> > Rumah Tangga. Saya yakin,,ide dari Bapak Ahmad Sahidah
> > dan Bapak Munir Hidayat ini akan mendapat respon POSITIF
> > dari kawan-kawan PPIM lainnya,,dan saya secara pribadi
> > sangat sangat mendukung ide ini. Semoga amal ibadah bapak
> > dan teman-teman PPI laiinnya mendapatkan ganjaran yang
> > setimpal dari ALLAH SWT,,Amin..
> >
> > Wassalam,,
> >
> >
> > Said Fhazli
> > FST-UKM
> >
> > munir hidayat <munirhidayatsyah@> wrote:
> >
> > Assalamualaikum,
> >
> > Usulan yang disampaikan pak ahmad sahidah ini sungguh
> > sangat relevan buat kita lakukan di Malaysia ini. Selain
> > tak begitu menyita waktu belajar kita disini, kita juga
> > dapat menambah ilmu kita sendiri dengan mengadakan
> > pengajian2 untuk para pekerja disini.
> >
> > FYI, Alhamdulillah kita dari PPI-UTP sudah mencoba
> > untuk mendekati saudara2 kita para pekerja melalui
> > pengajian ini sejak tahun yang lalu. Pertama kali
> > yang kita ajak adalah para pekerja indonesia yang
> > bekerja di kantin UTP, kemudian dilanjutkan dengan
> > para pekerja2 di daerah Silibin-Perak setelah berkenalan
> > dengan HIPMI (Himpunan Pekerja Muslim Indonesia) Silibin-
> > Perak.
> >
> > Sampai saat ini. sasaran utama pengajian untuk pekerja2
> > di Silibin ini adalah para TKW-nya. Saat ini kami juga
> > mencoba membuat program anak asuh dengan cara mengumpulkan
> > dana tiap bulannya yang kemudian disalurkan ke anak2
> > kurang mampu di indonesia.
> >
> >
> > Wassalam,
> >
> > Abd. Munir H. Lubis
> > Mechanical Engineering Dept.
> > Universiti Teknologi Petronas
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: Ahmad Sahidah <asahidah@>
> > Sent: Thursday, June 28, 2007 7:29:58 AM
> > Subject: [ppidimalaysia] Menyapa PRT dengan Pengajian
> >
> >
> > Assalamu'alaikum wr wb,
> >
> > Kemarin PPI USM menemui perwakilan pemerintah RI di
> > Pulau Pinang untuk menyerahkan hasil lokakarya TKI
> > dan sekaligus membincangkan 'kemungkinan' tindak
> > lanjut untuk mewujudkan gagasan yang berkembang di
> > dalam forum diskusi di atas ke dalam kegiatan konkrit,
> > yaitu pengajian yang melibatkan Pembantu Rumah Tangga
> > dan Pekerja Kilang.
> >
> > Kebetulan, menurut Dato' Zulkepley Dahalan, hampir 70%
> > amah dari Indonesia bekerja di dalam keluarga Malaysia
> > beretnik China. Tentu kita telah ketahui bersama bahwa
> > keluarga China di Malaysia adalah potongan kecil dari
> > entitas 'asli' China baik dari segi agama, budaya dan
> > bahasa. Kenyataan ini dengan sendirinya sangat riskan
> > bagi munculnya 'konflik' dan kesalahpahaman.
> >
> > Dengan melibatkan para pembantu rumah dalam sebuah
> > pengajian diharapkan mahasiswa, pihak pemerintah dan
> > seluruh warga Indonesia di Pulau Pinang bertegur sapa
> > dan menciptakan ruang jejaring agar mereka tidak
> > 'terisolasi' dari dunia luar dan menjalin silaturrahmi
> > dengan sesama anak bangsa.
> >
> > Setelah menemui konsul dan sekretarisnya, sejam kemudian
> > kami juga melakukan hal yang sama dengan Encik Azmi Abdul
> > Azin sebagai pengerusi Teras Keupayaan Melayu di sekretariat
> > lembaga swadaya masyarakat (NGO), Persatuan Pengguna Pulau
> > Pinang. Pertemuan ini sekaligus untuk mengukuhkan kerjasama
> > PPI USM dengan seluruh elemen yang peduli terhadap kesejahteraan
> > pekerja Indonesia.
> >
> > Kami merasa bahwa kerja-kerja sosial semacam ini juga akan
> > dilakukan oleh PPI cabang yang lain sehingga kita bisa membangun
> > sebuah jaringan yang meluas dan selain itu bertukar pengalaman
> > bagaimana menciptakan masyarakat sipil yang tidak lagi digerus
> > oleh kekuatan modal yang buta dan agen TKI yang jahat.
> >
> > Jika Anda mempunyai saran, gagasan dan berminat untuk terlibat
> > dalam kegiatan ini, Anda bisa menghubungi Mbak Forina Lestari
> > dan Bapak Supriyanto.
> >
> > Wassalamu'alaikum wr wb
> >
> > Ahmad Sahidah
> >
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
> test'; ">
>
> ---------------------------------
> Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from
someone who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
test'; ">
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.
[Non-text portions of this message have been removed]