mas DH, mas mudatsir, mas kartono, mas abu labid cukup menarik perbicangan 
mewaspadai gerakan separatisme. tetapi sepanjang topik ini diangkat kepermukaan 
kok saya tidak menemukan metode jitu bagaimana mengatasi terjadinya gerakan 
separatisme karena menurut nalarku separatisme itu keinginan berpisah dari 
induk karena terdapat perbedaan yang seharusnya bisa diatasi selama terdapat 
keinginan damai.separatisme dan teroris berbeda dalam nama dan tujuan namun 
cara mencapai tujuan kelihatan sama lebih cenderung dengan kekerasan, alangkah 
mulainya jika perbedaan tersebut diselesaikan melalui dialog yang diikuti 
kesabaran mencari persamaan dalam kebhinnekaan.

RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          --- In 
[email protected], Abu Labid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wah.. wah..
> mas mudatsir, saya kira argumen mas danardono dan mas kartono sudah 
beda tatarannya...
> mas mudatsir bicara pada tataran konsep, upaya sosialisasi konsep 
dan cita-cita besar untuk menuju kehidupan lebih baik, sedangkan mas 
danardono dan mas kartono bicara pada tataran clash of mind yaitu 
kebingungan pikiran yang melahirkan berbagai kekhawatiran sendiri 
karena begitu banyak dan rumitnya masalah umat Islam sehingga seolah-
olah umat Islam tidak akan pernah bisa keluar dari masalah-masalahnya.
> Kalau mau dihubungkan sebenarnya justru saya melihat mas mudatsir 
memiliki taraf berfikir yang lebih maju, menyadari adanya masalah-
masalah tapi tidak berkutat dengan masalah, melainkan berfikir lebih 
serius untuk keluar dari masalah dengan problem-problem solving yang 
dipaparkannya.
> Menarik pernyataan mas Danar "gak habis pikir orang bisa 
begini...sekolah apa ya dia." dan "Coba kalau sekejap kepalanya gak 
nggelinding" kebayang deh bagaimana pikiran mas mudatsir... hehehe...
> Kalau kita jeli, pada titik inilah justru mas mudatsir sekali lagi 
memiliki taraf berfikir yang lebih maju !!!
>

Mudatsir kasih solusi? berfikir lebih maju? Coba kita kaji!

Dia tawarkan pada semua Non Muslim, untuk menyembunyikan cara makan 
(babi misalnya), ritual, dan kalau masuk ranah umum, harus bertingkah 
islami. Coba bayangkan: andaikan di Aceh yang memang bernuansa 
islami, dapat kita bayangkan (walau ini bertentangan dengan semangat 
pembentukan RI), para mino sembunyikan jatidiri budaya mereka, demi 
sang mayo. TETAPI, di Minahasa, Bali atau Flores, misalnya, dimana 
kalian menjadi TAMu, dan kami TUAN RUMAH, kami juga harus sembuynikan 
jatidiri budaya kami, dan membentUk ranah umum bagi kalian, yang 
hanya tamu? Apa ini bukan tuntutan yang kurang ajar? terhadap si 
tuan rumah budaya?

Inikah solusi? Inikah cara berfikir lebih maju? Solusi? solusi untuk 
apa? Apakah Aceh kini selesaikan masalah meraka? Lebih baik daripada 
yang tidak bersyariah?

Saya tanya sekali lagi, kalian sekolah apa? atau seperti tayangan TV: 
Baru Bisa Mimpi?



         

       
---------------------------------
 Get the freedom to save as many mails as you wish. Click here to know how.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke