--- In [email protected], Abu Labid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya juga gatal untuk ikut mensikapi pernyataan mas Danar: 
> 1. "Dia tawarkan pada semua Non Muslim, untuk menyembunyikan cara 
makan 
> (babi misalnya), ritual, dan kalau masuk ranah umum, harus 
bertingkah 
> islami."  
> Jawab: Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah realitas 
bahwa ada ranah publik/domain publik dan ranah individu/domain privat 
dan keduanya berbeda, tidak perlu diperdebatkan. Dalam ranah publik, 
aturan yang diterapkan adalah aturan yang diadopsi oleh negara yang 
bersifat mengikat dan memaksa bagi semua komponen masyarakat. Bukan 
hanya mengikat dan memaksa, dari sisi negara merupakan tanggung 
jawabnya untuk menerapkan aturan yang benar-benar mampu 
mensejahterakan masyarakatnya. Dari sinilah, ketika masyarakat Non 
Muslim, menyadari bahwa hanya aturan Islam yang dapat mensejahterakan 
hidup mereka di dunia dan keluar dari berbagai krisis, mereka pasti 
dapat menerima aturan Islam di ranah publik ini, dan selanjutnya 
bukan tidak mungkin mereka pun menerima Islam sebagai agama mereka. 

**** Ha ha ha! mensejahterakan? dim anakah didunia ini ranah publik 
islami yang mensejahterakan? Bukankah kebanykan negara melarat 
amburadul didunia ini adalah negara ber ranah publik islami? Bukankah 
sebaliknya, negara yang makmur, maju, tertatarapi semuanya (tidak 
saja bule tapi juga bangsa Asia seperti jepang) ber ranah publik NON 
islami? Ada negara islam yang mampu memproduksi tekhnologi canggih?






Bukankah selama ini pun (di Indonesia misalnya) non Muslim bisa 
menerima aturan negara yang notabenenya bukan dari agama mereka atau 
budaya mereka? apakah budaya demokrasi dan
>  liberalismenya dari agama dan budaya mereka? tentu bukan. apakah 
perkonomian dengan landasan riba adalah dari agama dan budaya mereka? 
tentu bukan. 

**** ha ha ha apa urusannya liberalisme dengan budaya non muslim? 
adakah perekonomian makmur dan tertzata rapi yang berdasar system non 
riba? tak ada kan? ini kan hanya mimpi?


Apakah pergaulan bebas, homoseks dan lebianisme, dari agama dan 
budaya mereka? tentu bukan. So, dengan menyingkirkan sentimen agama, 
jikalau Islam memang bisa memberikan solusi yang mensejahterakan, why 
not?


*** ha ha ha di Austria yang non Muslim kemaksiatan takl melebihi 
Jakarta, hanya satu kota. Mau bandingkan akngka penderita AIDS?
Solusi? solusi apa? dimana dibuktikan? di padang pasir mana?


>  
> 2. "para mino sembunyikan jatidiri budaya mereka, demi sang mayo". 
> Jawab: bukan menyembunyikan demi sang mayo, tapi demi aturan yang 
mereka turut yakini mensejahterakan mereka juga di dunia. 

*** Ha ha ha tanyakan pada orang Minahasa, orang bali, apakah aturan 
islami "mensejahterakan"? mensejahterakan siapa? Lihat masalah IPDN, 
bukankah kebanyakan pelaku islam? lihat korupsi di negeri ini, 
tidakkah banyak mayo yang terlibat? lihatlah maraknya pemerasan, 
tidakkah terutama mayo yang lakukan? malu donggg?




Lagipula dalam konteks aturan yang memang mensejahterakan, masalahnya 
bukan terletak pada mino atau mayo. bisa jadi yang mino adalah yang 
memiliki aturan tersebut. Kalau ditanya (di indonesia) mana yang 
mayo, umat Islam, umat Nasrani, umat Hindu, atau umat Sekuler? coba 
liat KTP nya, hehehe... pasti gak ada satupun yang agamanya Sekuler, 
kalaupun ada pasti mino, mino banget, tapi yang diterapkan aturan 
sekuler. Karena dalam ranah publik, masyarakat indonesia mayo 
meyakini dan berharap pada sekulerisme dan aturan turunannya seperti 
demokrasi, privatisasi, pluralisme, dapat mensejahterakan mereka. 
walhasil yang diterapkan sekulerisme.


**** Siapa katakan? kebanyakan manusia yang bernalar adalah sekuler, 
100% negara maju didunia adalah sekulair. Tidakkah Europa sejahtera? 
tidakkah Amdrika utara sejahtera? tidakkah Auistralia sejahtera?, 
tidakkah Jepang sejahtera? mereka semua sekulair!


>  
> 3."TETAPI, di Minahasa, Bali atau Flores, misalnya, dimana 
> kalian menjadi TAMu, dan kami TUAN RUMAH, kami juga harus 
sembuynikan 
> jatidiri budaya kami, dan membentUk ranah umum bagi kalian, yang 
> hanya tamu? Apa ini bukan tuntutan yang kurang ajar? terhadap si 
> tuan rumah budaya?". 
> Jawab: Argumentasi seperti ini adalah argumentasi kesukuan yang 
primordial dan tergilas zaman, kalau belum, akan tergilas 
perkembangan zaman. 

***** Tergilas zaman? siapa yang tergilas di sampit? anda mau coba 
digilas di Minahasa?


 Saat ini pun kita sudah banyak menyaksikan perbauran antar suku yang 
notabenenya juga berbeda budaya, apalagi di eropa sana. di lokasi 
industri, perbauran ini lebih cepat lagi dan lebih massif. Saya kok 
merasa aneh, mas Danar yang kata mas Mudatsir bertahun-tahun sekolah 
di Eropa sana, kok memiliki argumentasi yang primordial begini. Lebih 
dari perbauran, bukan tidak mungkin alias bukan mustahil, si Tuan 
Rumah meninggalkan keyakinan dan budayanya untuk beralih memeluk 
keyakinan dan budaya yang baru.


*** Ini ngimpi apaaaaa???? anda pernah ke Europa? saya warga Europa, 
40an tahun disini, mengkikuti pemilihan umum disini, dan tahu, makin 
banyak warga yang makin menjauhi warga Muslim karena mereka khawatir 
merambahnya pengaisngan budaya. Tak percaya? hubungi kedutaan besar 
Austria! partai partai yang menghasut penduduk anti pendatang Muslim 
(dari Turkli dan arab), makin laku!



  seperti sejarah diterimanya Islam oleh masyarakat hindu budha di 
nusantara dulu. tentu kalau argumentasi mas Danar ini paten dan bisa 
dipegang, orang indonesia niscaya tidak akan mayoritas agamanya Islam 
atau bahkan satupun tidak ada yang mau memeluk Islam. Nah, kalau 
orang-orang di minahasa, bali, flores dsb tergambarkan dan menyadari
>  rusaknya aturan sekuler dan akan terus membawa mereka dalam 
kesengsaraan pada saat yang sama mereka menyadari dan tergambarkan 
bahwa aturan-aturan Islam di ranah publik dapat mensejahterakan 
mereka, mereka pasti mendukung penerapan syariah oleh negara. Sangat 
mungkin....
>  


***** Oreang Minahasa dan orang Bali akan bertempur melawan 
pengislaman tanah mereka, dan bila kita berani tinggalkan azas 
sekulair. mau coba?


Bung Jangan Baru Bisa Mimpi!!!!!!! Sejahtera dalam islam? ha ha ha 
negara mana? boro botro mampu produksi mobil andalseperti Mercedes, 
mengelola kereta api saja selalu anjlok dari rel!


Kirim email ke