--- In [email protected], Abu Labid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >Saya rasa mas Danar dan mas Kartono pun berupaya lebih baik lagi dan lebih banyak membaca literatur dan menambah wawasan, bukan hanya dari barat yang sekuler maupun dari yang sosialis komunis tapi juga dari literatur Islam dan pandangan para ulama-ulamanya yang mukhlis, iya kan?
***** Ha ha ha, ketika ayah anda masih SD saya sudah membaca literatur islam dan dunia (karena keluarga kami multilingual). Ketika saya menimba ilmu di universitas baik di UI maupun di Europa, mungkin anda belum lahir. Ketika saya memperhatikan upaya dan kegagalan DI TII anda juga belum lahir. Anda yang baru saja menganjak dewasa meminta saya membaca lebih banyak? nggak keliru? Wawasan? Saya praktisi bank dibidang internasional di Europa (bukan bank gurem), mengalami mendanai banyak proyek baik di Arab, TimTeng, RRT sampai ke Indonesia (PLN Cirata I dan II dan lain lain, PJKA, RS Dr Cipto, Krakatau Steel). Anda mau adu wawasan? Anda katakan, kalian mau sejahterakan kaum non Muslim? bagaimana???????????? Kalian sendiri adalah kaum yang termaginalkan, tidak saja di Indonesia, juga di Pakistan, Bangla Desh, dll. Di Barat kalian jadi buruh migran non educated. Di Jakarta kalian menghuni kawasan menengah bawah, sampai kawasan kumuh, bantaran sungai, tepi rel kereta api. kalian terutama menjalani jobs yang merana, dari perkerja kasar, buruh tani, buruh nelayan. Lalu, kalian mau mensejahterakan non Muslim, yang tataran hidupnya DIATAS KALIAN? Kalian berdagang terutama di kiosk, pasar tradisional, atau di mal mewah? Di mal mewah kalian kebanyakan 99,9% adalah pekerja. Di pabrik Nike kalian menjadi buruh, yang memiliki seorang non Muslim. begitu seterusnya. Lalu kalian mimpi mau mensejahterakan kami? kalau anda katakan, mau menJARAH kami, seperti 98 bulan Mei, saya lebih percaya.. Mau adu wawasan? Berapa negara anda sudah kunjungi secara intensif? Dalam berapa bahasa anda membaca? Bagaimana kalau anda lebih membumi? Sebelum anda meminta kami lebih banyakmembaca, mohon anda mengaca terlebih dahulu! Minta ampun, Baru Bisa Mimpi!

