--- In [email protected], "hakim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oh ya mbah. Soal banjir, tergantung orangnya ya . Mau dianggap neraka dunia ya bisa saja. Mau dianggap berkah (nyewakan perahu karet, dorong mobil dsb) ya bisa saja. Mau dijadikan bahan penelitian oleh ahli tata kota ya bisa saja.
*** Yang lebih merasa neraka berapa persen mas hakim? Yang merasakan malapetaka itu berkah berapa persen? Tapi, kalau kita nggak fokus masalah yang kita hadapi KINI, tapi tunggu mati, lalu mau pesta dengan 70an bidadari, ya monggo.. > Mau dijadikan olah raga renang/nyelam gratis ya bisa saja. > Mbah, banyak manusia yang nggak ngurusi/berhubungan dengan banjir juga bisa mati kok. Inggih to mbah? > **** Lho jelas, yang mati ya semua. tapi itu kan bukan pointnya mas Hakim, tetapi, apakah yang kita perbuat sebagai manusia? Yang nggak kena banjir memang ada, mungkin sekali karena ethos kerja mereka yang keras hingga mampu menikmati kehidupan bebas banjir? Orang bahagia suatu saat meninggal, yang jadi kere terus juga meninggal, kan nggak sama to mas Hakim? Apalagi yang bahagia nanti masuk sorga, yang kere tetap masuk neraka? Salam nalar Danardono

