--- In [email protected], "hakim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Waduh Mbah...kalau sependek yang saya tahu surga atau neraka TIDAK
> ditentukan oleh KAYA atau KERE tuh. Mungkin lho mbah sekali lagi
> mungkin saja yang berbeda adalah yang KAYA ingin hidup terus, jangan
> mati dulu, sebaliknya yang KERE kepingin cepat mati (hopeless).
> 
> Mbah jangan salah lho....tidak semua penduduk Jakarta yang kena 
banjir itu 
> beretos kerja rendah lho.Banyak juga beretos kerja tinggi. Tidak 
sedikit yang 
> sudah berangkat kerja pagi hari sekali (jam 4 tau 5 pagi hari) dan 
pulang 
> menjelang dini hari, tatapi rumahnya tetap kena banjir. Bisa jadi 
miliser ada 
> diantara contoh tsb.  
> 
> Kalau tanya berapa persen yang merasakan banjir sebagai berkah  
kelihatannya 
> nggak ada yang bisa jawab Mbah. BPS juga tidak ada data ttg itu. 
> Kita hanya bisa melihat di TV/Koran banyak yang ceria ketika 
mendorong mobil
> mogok, bisa jualan air bersih dsb. 
> 
> Salam air bersih
> 
> Hakim
> 
> 
Mas Hakim, beda kita dengan negara yang mampu mengorganize diri 
sehingga tak kebanjiran, adalah dalam ethos kerja secara keseluruhan.
beberapa negara makmur tertata seringkali miskin SDA, tetapi andal 
dalam SDM, disini bedanya. Karena saya deal berpuluih tahun dengan 
negara negara, al Indonesia, saya sdah hafal mengenai ethos kerja.. 
mas Hakim tak usah lagi diterangkan kan?

kalau mas Hakim ceria mendorong mobuil, selamatlah mas.. kapan kapan 
kalau saya lewat tolong juga didorong ya?

Salam enak didorong

Danardono



Kirim email ke