Mbak LD,

Sepertinya postingan sebelumnya dengan subyek "Pelemik" itu versi yang lengkap 
dari tulisan Amran Nasution di Hidayatullah


  ----- Original Message ----- 
  From: Lina Dahlan 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, December 06, 2007 11:19 AM
  Subject: [ppiindia] Re: Polemik antara Ulil Abshar vs Amran Nasution


  --- In [email protected], "Asnawi Ihsan" <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:
  >
  > Dibawah ini artikel Amran yang ditanggapi Ulil.
  > 
  > saya ambil dari email yang dikirim Ulil ke salah satu milis. 
  Setelah ini
  > akan saya kirim tanggapan Ulil atas artikel Amran yang di muat di 
  beberapa
  > milis. Dan kita juga sudah baca tanggapan amran yang sudah dikirim 
  di milis
  > ini, sementara itu tanggapan balik dari ulil mungkin akhir minggu 
  ini akan
  > muncul (menurut pengakuan ulil di salah satu milis). Lalu amran 
  mungkin
  > akan menanggapi kembali dan ulil pun kembali menanggapi... entah 
  sampai
  > kapan... pan.. pan... Toh kenyataannya, sebagai 
  keniscayan 'sunnatullah'
  > bahwa semua ini masuk dalam bingkai 'dialektika' tesis-anti tesis-
  sistesis,
  > anti sintesis- anti anti sintesis- dan seterusnya... tiada akan 
  pernah
  > berakhir...akankah terus dalam 'kelelahan' atau absurditas 
  dialektis?
  > Setidaknya itu menurut saya dan jika saya tidak salah mengambil 
  kesimpulan,
  > di titik itulah bung medi memandang sehingga mengomentari polemik 
  ulil dan
  > amran dengan kalimat yang pendek bahkan sangat pendek. 
  > 
  > Maaf bagi yang sudah pernah membaca...
  > 
  > selamat menikmati...
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > Salam Absurditas...
  > 
  > Asnawi Ihsan
  > 
  > ----------------------------------------------------------
  ------
  > 
  > 
  > 
  > Artikel di Majalah Hidayatullah tentang Aliran Sesat 
  > 
  > 
  > 
  > Teman2,
  > Di bawah ini adalah artikel di Majalah Hidayatullah
  > yang saya tanggapi dalam surat terpisah itu. Selamat
  > membaca!
  > 
  > Ulil
  > 
  > =======
  > 
  > Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel Cetak halaman ini
  > Jumat, 23 November 2007
  > 
  > Sanksi penistaan agama bukan monopoli Indonesia. Itu
  > juga terjadi di Eropa. Amerika jauh lebih kejam dan
  > lebih sectarian. Bagian pertama dari dua tulisan
  > 
  > Oleh: Amran Nasution
  > 
  > 
  > 
  > ImageHidayatullah.com--Hiruk-pikuk urusan nabi palsu
  > Ahmad Mushaddeg dan kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah,
  > begitu cepat mencapai antiklimaks. Jumat, 9 November
  > 2007, Moshaddeg bertobat, menyadari kekhilafannya
  > mengaku nabi, sekalian minta maaf kepada ummat Islam
  > yang perasaannya ia cederai.
  > Di hadapan sejumlah pengurus Majelis Ulama Indonesia
  > (MUI), di Polda Metro Jaya, tempat ia ditahan, nabi
  > palsu itu membacakan pernyataan tertulis, antara lain,
  > meminta semua pengikutnya bertobat pula. Dengan
  > demikian, hiruk-pikuk segera mengempes.
  > 
  (DELETED)
  > 
  > Itulah yang terjadi, ketika Islam diinjak-injak Salman
  > Rushdie dengan Ayat-ayat Setan-nya. Sejumlah
  > organisasi Islam di Inggris menuntut ke pengadilan.
  > Tuntutan ditolak hakim dengan dalih undang-undang itu
  > hanya melindungi Gereja Inggris (the Church of
  > England). [BERLANJUT KE TULISAN KEDUA]
  > 
  > * Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO.
  > Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy
  > Studies) Jakarta
  > 
  > 
  > Ulil Abshar-Abdalla
  > Department of
  > Near Eastern Languages and Civilizations
  > Harvard University
  > 
  > 
  Bung Asnawi,
  Terimakasih utk postingannya.
  Tulisan bung Amran Nasution ini nampaknya ada tulisan lanjutannya 
  ya? Karena diatas itu [saya jadikan huruf besar semua]tertulis 
  BERLANJUT KE TULISAN KEDUA.

  Dimana ya tulisan keduanya?

  wassalam,



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.15/1173 - Release Date: 05/12/2007 
21:29


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke