Terimakasih bung Asnawi.

Kalau orang berpolitik masa kini, rasanya wajar aja kalo memainkan 
standar ganda. Mereka boleh mengaku diluar sebagai liberal 
(menjunjung tinggi kebebasan)dan mengagung-agungkannya, meski 
didalamnya perbuatan mereka sama saja (tidak konsekwen memegang 
konsep/agama liberalnya). Yang bodoh adalah ketika mereka megajarkan 
kepada orang lain untuk meniru standar gandar mereka karena itu sama 
saja mengajarkan kejahatan dan kebohongan. Sudah jelas kalo mau jadi 
pendidik yang berhasil, kita harus juga mencontohkan yang benar 
dengan benar. Mengajar dengan akhlak.

Ketika suatu kelompok Islam mengkhawatirkan adanya pergerakan-
pergerakan yang ingin me'murtad'kan umat Islam dari ajarannya, 
melalui ajaran sekulerisme & pluralisme, ditimbulkan ajaran2 
sempalan, kelompok ini dikatakan paranoid ato Islamphobia (?)

Ketika 'jihad' menjadi momok bagi dunia barat, ditempuhlah suatu 
cara untuk memalingkan umat Islam dari jihad tsb. Jihad dijadikan 
abu-abu.

Ketika sekelompok umat mengingatkan akan bahayanya gerakan sempalan 
sehingga harus diantisipasi, mereka berteriak ini melanggar HAM?

Saya melamun jauh kedepan. Andaikan di masa depan nanti terbukti 
dengan jelas memang ada gerakan2 seperti ini, namun umat Islam sudah 
terlambat bereaksi karena kebodohannya sendiri yang mau dibuat abu-
abu...mereka akan berkilah lagi,"salah sendiri kenapa mau 
dibodohin?","kenapa mau dibuat abu2, padahal sudah jelas antara 
hitam dan putih?"

Kisah2 ini mengingatkan kita kepada pemboman di Bali, yang beritanya 
heboh banget. Lalu bagaimana dengan kisah pembakaran sekte2 tsb? 
Bagaimana dengan kisah peledakan di Oklahama City? Seharusnya, kalau 
mau diexplode juga beritanya, dan dapat memberikan image bhw teroris 
itu juga ada di Amerika dan berkulit putih.

Juga cerita semacam Salman Rushdie, bukan aneh lagi bagi mereka 
karena mereka juga melakukannya?

Toh ..terbuka bukan alangkah bodohnya kita di Indonesia ini mau 
dibodohi dan dibohongi dengan cerita2 bual buatan Amerika? Kalo Ulil 
bodoh, yah maklum karena memang itu tugas Ulil. Untuk itu Ulil 
dibayar.

Betulkan? sekarang ini, siapa yang memberikan definisi ato image 
kepada "teroris"? Dah jelas AMerika! dah jelas bukan betapa kita 
sudah dibodohi Amerika? Dah jelas bukan istilah "maling teriak 
maling?" ato "teroris teriak teroris"

Alangkah besar peran media massa..dalam menebarkan kebohongan dan 
kebenaran sekaligus!

wassalam,
Lina
laginungguinkomentarnyaulilselanjutnya.


--- In [email protected], "Asnawi Ihsan" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> 
> 
> 
> Bung Asnawi,
> Terimakasih utk postingannya.
> Tulisan bung Amran Nasution ini nampaknya ada tulisan lanjutannya 
> ya? Karena diatas itu [saya jadikan huruf besar semua]tertulis 
> BERLANJUT KE TULISAN KEDUA.
> 
> Dimana ya tulisan keduanya?
> 
> wassalam,
> 
> 
> ================================
> Mbak LD, berikut tulisan kedua dari amran... 
> kalo yang dengan subyek "pelemik" itu tulisan selanjutnya sebagai 
tanggapan
> balik amran atas tanggapan ulil.. 
> 
> Salam,
> Asnawi Ihsan
> 
> http://hidayatullah.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=5844&Itemi
> d=84 
> 
> 
> Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel [2]      
> Sabtu, 24 November 2007  
> Sanksi penistaan agama bukan monopoli Indonesia. Itu juga terjadi 
di Eropa.
> Amerika jauh lebih kejam dan lebih sectarian.  Bagian Kedua-habis
> 
> Oleh: Amran Nasution 
> 
>  
> 
> Hidayatullah.com--Orang Barat itu selalu menganut standar ganda, 
tapi tak
> malu-malunya mengajari kita tentang hak persamaan dan kebebasan, 
terutama
> melalui agennya yang sawo matang, yang berkeliaran di sini.
> 
> Namun yang pasti undang-undang itu masih tetap berlaku di sana, 
sekali pun
> berbagai usaha untuk menghapuskannya terus dilakukan oleh para 
seniman atau
> aktivis HAM. Bahkan ia tetap awet bertahan, walau pun pada 1998, 
muncul
> Human Rights Act, undang-undang tentang HAM. Memang penggunaannya 
sangat
> selektif, atau bahkan suatu saat seakan sudah dipingsankan.
> 
> Tapi nyatanya pada 1977, pengadilan Inggris mengadili majalah Gay 
News,
> karena memuat puisi James Kirkup. Puisi itu dituduh menempatkan 
Jesus
> sebagai objek cinta.
> 
> Undang-undang Blasphemy bukan satu-satunya cara. Pada 1976, 
sutradara
> Denmark, Jens Jorgen Thorsen, hendak membuat film The Many Faces 
of Jesus,
> di Inggris. Film itu bercerita tentang kehidupan seks Jesus.
> 
> Reaksi keras bermunculan. Bukan cuma dari para aktivis Gereja, 
tapi dari
> Ratu Inggris, Perdana Menteri James Callagan, dan Uskup Agung 
Canterbury,
> Donald Coggan. Akhirnya, rencana itu pun hilang begitu saja.
> 
> Ada lagi sejumlah peristiwa yang mirip. Salah satu, adalah kasus 
the
> Penguin, penerbit terkenal itu. Pada 1967, penerbit itu siap 
meluncurkan
> buku Massacre, ditulis Malcolm Muggeridge. Tiba-tiba, suatu malam, 
Allen
> Lane, sang pemilik, muncul ke gudang: seluruh buku yang sudah siap 
cetak ia
> bakar habis.
> 
> Lane sebenarnya bukan aktivis Gereja. Tapi dia pusing karena 
mendapat protes
> dari kawan, langganan, dan kerabatnya, yang menuduh buku itu 
menghina
> Kristen, blasphemy.
> 
> Yang menarik, the Penguin adalah juga penerbit the Satanic Verses. 
Inilah
> sikap sektarian dan standar ganda yang amat nyata dari orang 
Inggris itu.
> Massacre dibakarnya karena menghina Kristen, tapi the Satanic 
Verses  yang
> menghina Islam tidak. Malah novel itu dan penulisnya dipromosikan
> besar-besaran dengan dalih kebebasan berkreasi, kebebasan 
berbicara, dan
> bla... bla... bla lainnya.
> 
> Bagaimana Amerika, negara eksportir demokrasi itu? Di sini lebih 
seru, tapi
> caranya lebih canggih. Meski undang-undang blasphemy masih ada, 
dilihat dari
> beberapa kasus sempalan agama, ia tak digunakan. Tapi dicarikan 
delik pidana
> yang ancaman hukumannya lebih berat, semisal penggelapan pajak dan 
pemakaian
> senjata api. Di sini peran intelijen diperlukan.         
> 
> Sebutlah kasus bunuh diri massal aliran the Peoples Temple (Kuil 
Rakyat)
> yang dipimpin Pendeta Jim Jones, tamatan Indiana University di 
Bloomington,
> Indiana.
> 
> Pada 1964, Jones membangun gereja sendiri di Indianapolis, dan 
mulai
> menyebarkan ajaran yang menekankan persamaan hak pada kulit hitam, 
dan
> keadilan sosial. Tak aneh bila jemaahnya kebanyakan orang hitam.
> 
> Ia dan kelompoknya kemudian pindah ke Redwood Valley, California. 
Alasannya,
> untuk mencari daerah aman dari perang nuklir yang segera meletus. 
Pada waktu
> itu, memang perang dingin antara blok Barat pimpinan Amerika 
Serikat dan
> blok Timur pimpinan Uni Soviet, sedang menghangat. Perang nuklir 
menjadi
> ancaman.
> 
> Ternyata pengikutnya tambah banyak, dan lama kelamaan meresahkan 
rezim,
> selain Gereja. Apalagi pendeta itu menggaku titisan Jesus. 
Pengusutan
> dilakukan. Ditemukanlah kasus pengelakan pajak.
> 
> Karena pengusutan itu, Jim Jones dan ratusan pengikutnya - 70% 
orang hitam -
> pada 1977, pindah ke Guyana, negara yang terletak di tepi Samudera 
Atlantik,
> Amerika Latin. Itulah satu-satunya negeri berbahasa Inggris di 
kawasan
> berbahasa Spanyol itu.
> 
> Di sana, di sebuah daerah terpencil, mereka membangun gereja dan 
pemukiman
> sendiri, yang dinamakan Jonestown, kota Jones. Mereka mengembangkan
> pertanian, menjalani kehidupan sesuai prinsip sosialisme ajaran 
Pendeta Jim
> Jones.
> 
> Ternyata mereka tetap tak dibiarkan. Pada 15 November 1978, 
perkampungan
> terpencil itu didatangi anggota Kongres Leo Ryan, didampingi 
sejumlah
> wartawan dan anggota CIA. Mereka diutus Kongres sebagai misi 
pencari fakta
> dan sebenarnya diterima dengan baik oleh Pendeta Jones.
> 
> Selama tiga hari di sana, Leo Ryan dan rombongan ternyata 
melakukan dakwah
> untuk menyadarkan anggota komunitas. Mereka berhasil mempengaruhi 
beberapa
> jemaah, tapi menimbulkan kemarahan jemaah lainnya.
> 
> Rombongan melarikan diri ke lapangan terbang kecil, tempat pesawat 
terbang
> mereka diparkir. Namun mereka ditemukan kelompok jemaah yang marah,
> terjadilah tembak-menembak. Leo Ryan, beberapa anggota 
rombongannya, serta
> jemaah, tewas.
> 
> Sementara itu, di tengah ketegangan suasana, Pendeta Jones 
memerintahkan
> seluruh komunitasnya melakukan bunuh diri dengan meminum racun 
sianida yang
> telah disiapkan. Selama ini, sang pendeta mengajarkan, hanya 
dengan bunuh
> diri mereka mencapai surga, selamat dari ancaman perang nuklir.
> 
> Sungguh amat mengerikan. Hari itu, 908 jemaah Peoples Temple - 276 
di
> antaranya anak-anak - mati bergeletakan di perkampungan, termasuk 
Pendeta
> Jim Jones.
> 
> Peristiwa lain yang tak kurang mengerikan, kasus Pendeta David 
Koresh,
> pemimpin the Branch Davidian alias Sekte Cabang David di Mount 
Carmel, Waco,
> Texas.
> 
> Pada 19 April 1993, pengepungan selama 51 hari oleh sekitar 75 
anggota FBI -
> polisi federal Amerika - berakhir dengan hujan peluru di kompleks 
seluas 30
> ha itu. Perumahan itu meledak dan terbakar habis, diduga karena 
sejenis
> tabung gas yang dilemparkan ke dalam rumah untuk mengusir penghuni 
ke luar.
> 
> Pendeta David Koresh dan 80-an pengikutnya - termasuk wanita dan 27
> anak-anak -- hangus terbakar. Mayat pendeta itu baru bisa dikenali 
melalui
> pemeriksaan laboratorium.
> 
> Mirip kasus Jim Jones, Pendeta Koresh dianggap mengajarkan Kristen
> menyimpang. Dia menggaku nabi yang mendapat wahyu dan bisa 
berbicara dengan
> Tuhan.   
> 
> Mirip pula dengan kelompok Jim Jones, FBI mengusut mereka karena 
kasus
> pidana, tentang senjata api gelap. Ketika itu sejumlah polisi 
mendatangi
> kompleks terpencil itu mengantarkan surat panggilan untuk sang 
nabi.
> Pengikutnya marah, merasa nabi mereka direndahkan polisi. Terjadi
> tembak-menembak, yang menggakibatkan beberapa jemaah dan polisi 
tewas. Sejak
> itulah kompleks Mount Carmel dikepung FBI.
> Peristiwa ini sempat lama menjadi perdebatan. FBI dianggap 
berlebihan,
> istilah krennya sekarang, melanggar HAM. Sejumlah buku, film 
dokumenter, dan
> tulisan koran diterbitkan. Pengadilan digelar. Tapi sampai 
sekarang tak satu
> polisi pun yang ditindak. Orang Amerika tampaknya tahu sama 
tahulah kenapa
> peristiwa itu terjadi.
> 
> Tapi persis dua tahun kemudian, 19 April 1995, sebuah bom 
meledakkan gedung
> federal di Oklahoma City, merampas nyawa 168 orang tak bersalah - 
termasuk
> perempuan dan anak-anak. Pelakunya, belakangan diketahui adalah 
Timothy
> McVeigh, orang kulit putih warga Amerika. Sebelumnya, karena 
prasangka
> rasial, polisi menangkap sejumlah orang Arab.
> 
> Dari dalam sel tahanan, McVeigh menulis surat bahwa tindakan itu 
adalah
> pembalasan atas apa yang telah dilakukan pemerintah di Mount 
Carmel, Waco.
> Karena itu aksinya dilakukan 19 April, tepat pada hari Waco 
dibakar FBI.
> 
> Di depan pengadilan, dia bungkem seribu bahasa. Hakim memintanya 
bicara
> sebelum dijatuhi hukuman mati. Dia menulis kutipan 
ini, ''Pemerintah punya
> pengaruh yang sangat besar, menjadi guru di mana-mana. Untuk baik 
dan jahat,
> ia mengajari semua orang dengan contoh perbuatannya''  (lihat 
Mahmood
> Mamdani, ''Good Muslim, Bad Muslim'', Three Leaves Press, 2005). 
Ia mau
> mengatakan, peristiwa Oklahoma hanya mencontoh perbuatan polisi di 
Mount
> Carmel.
> 
> Syukurlah, berbagai peristiwa mengerikan di Amerika dalam kasus 
penyimpangan
> agama, belum pernah tejadi di sini. Seringkali malah aparat 
Pemerintah
> ragu-ragu bertindak karena pers arus utama selalu mendukung suara 
kaum
> Liberal. Padahal undang-undang sudah cukup jelas.
> 
> Ujungnya, ummat yang marah terjebak main hakim sendiri. Mereka pun 
jadi
> korban kecaman kaum Liberal, disebar-luaskan pers yang senantiasa 
berpihak.
> [habis]
> 
>  * Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  
bergabung dengan
> IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta
>


Kirim email ke