Mohon penjelasan dari mbak Lina Dahlan mengenai definisi 'murtad'. Pemahaman saya mengenai murtad dalam sudut pandang Islam adalah tidak lagi mengakui Tuhan Allah dan Muhammad Rasulullah, serta tidak menjalankan Rukun Iman dan Islam.
Apakah dengan menyatakan bahwa "Ketika suatu kelompok Islam mengkhawatirkan adanya pergerakan-pergerakan yang ingin me'murtad'kan umat Islam dari ajarannya, melalui ajaran sekulerisme & pluralisme, ditimbulkan ajaran2 sempalan, kelompok ini dikatakan paranoid ato Islamphobia(?)" anda hendak mengatakan bahwa jika sebuah afiliasi/organisasi mengedepankan nilai pluralisme dalam kerangka berpikirnya, maka organisasi atau orang-orang didalamnya adalah murtad? Pluralisme seperti apa yang anda maksud? Kemudian dari kalimat, "Kalau orang berpolitik masa kini, rasanya wajar aja kalo memainkan standar ganda. Mereka boleh mengaku diluar sebagai liberal (menjunjung tinggi kebebasan)dan mengagung-agungkannya, meski didalamnya perbuatan mereka sama saja (tidak konsekwen memegang konsep/agama liberalnya). Yang bodoh adalah ketika mereka megajarkan kepada orang lain untuk meniru standar gandar mereka karena itu sama saja mengajarkan kejahatan dan kebohongan. Sudah jelas kalo mau jadi pendidik yang berhasil, kita harus juga mencontohkan yang benar dengan benar. Mengajar dengan akhlak.Sudah jelas kalo mau jadi pendidik yang berhasil, kita harus juga mencontohkan yang benar dengan benar. Mengajar dengan akhlak." Kami mohon dijelaskan mengenai siapa yang tidak konsekuen, berikut dengan fakta bahwa subyek 'siapa' itu telah menggunakan standar ganda dalam mengajarkan sesuatu kepada orang lain sehingga dapat anda katakan sebagai mengajarkan kejahatan dan kebohongan. Opini memang bebas. Namun mengedepankan fakta saya rasa sangat perlu untuk mendukung opini. Mengutip kalimat Ruhut Sitompul, "Semua orang bisa bernyanyi 'bintang keciiil.. dilangit yang biru.. katanya..katanya..' tapi kita tidak bisa menerima 'katanya' tanpa fakta." Demikian tanggapan saya untuk saudara Lina Dahlan. Yang mudah adalah berdebat, menyalahkan, menyoal. Yang tidak mudah adalah menawarkan solusi yang realistis, aktual dan cerdas. Terimakasih. --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Terimakasih bung Asnawi. > > Kalau orang berpolitik masa kini, rasanya wajar aja kalo memainkan > standar ganda. Mereka boleh mengaku diluar sebagai liberal > (menjunjung tinggi kebebasan)dan mengagung-agungkannya, meski > didalamnya perbuatan mereka sama saja (tidak konsekwen memegang > konsep/agama liberalnya). Yang bodoh adalah ketika mereka megajarkan > kepada orang lain untuk meniru standar gandar mereka karena itu sama > saja mengajarkan kejahatan dan kebohongan. Sudah jelas kalo mau jadi > pendidik yang berhasil, kita harus juga mencontohkan yang benar > dengan benar. Mengajar dengan akhlak. > > Ketika suatu kelompok Islam mengkhawatirkan adanya pergerakan- > pergerakan yang ingin me'murtad'kan umat Islam dari ajarannya, > melalui ajaran sekulerisme & pluralisme, ditimbulkan ajaran2 > sempalan, kelompok ini dikatakan paranoid ato Islamphobia (?) > > Ketika 'jihad' menjadi momok bagi dunia barat, ditempuhlah suatu > cara untuk memalingkan umat Islam dari jihad tsb. Jihad dijadikan > abu-abu. > > Ketika sekelompok umat mengingatkan akan bahayanya gerakan sempalan > sehingga harus diantisipasi, mereka berteriak ini melanggar HAM? > > Saya melamun jauh kedepan. Andaikan di masa depan nanti terbukti > dengan jelas memang ada gerakan2 seperti ini, namun umat Islam sudah > terlambat bereaksi karena kebodohannya sendiri yang mau dibuat abu- > abu...mereka akan berkilah lagi,"salah sendiri kenapa mau > dibodohin?","kenapa mau dibuat abu2, padahal sudah jelas antara > hitam dan putih?" > > Kisah2 ini mengingatkan kita kepada pemboman di Bali, yang beritanya > heboh banget. Lalu bagaimana dengan kisah pembakaran sekte2 tsb? > Bagaimana dengan kisah peledakan di Oklahama City? Seharusnya, kalau > mau diexplode juga beritanya, dan dapat memberikan image bhw teroris > itu juga ada di Amerika dan berkulit putih. > > Juga cerita semacam Salman Rushdie, bukan aneh lagi bagi mereka > karena mereka juga melakukannya? > > Toh ..terbuka bukan alangkah bodohnya kita di Indonesia ini mau > dibodohi dan dibohongi dengan cerita2 bual buatan Amerika? Kalo Ulil > bodoh, yah maklum karena memang itu tugas Ulil. Untuk itu Ulil > dibayar. > > Betulkan? sekarang ini, siapa yang memberikan definisi ato image > kepada "teroris"? Dah jelas AMerika! dah jelas bukan betapa kita > sudah dibodohi Amerika? Dah jelas bukan istilah "maling teriak > maling?" ato "teroris teriak teroris" > > Alangkah besar peran media massa..dalam menebarkan kebohongan dan > kebenaran sekaligus! > > wassalam, > Lina > laginungguinkomentarnyaulilselanjutnya. > > > --- In [email protected], "Asnawi Ihsan" <asnawiihsan@> > wrote: > > > > > > > > > > Bung Asnawi, > > Terimakasih utk postingannya. > > Tulisan bung Amran Nasution ini nampaknya ada tulisan lanjutannya > > ya? Karena diatas itu [saya jadikan huruf besar semua]tertulis > > BERLANJUT KE TULISAN KEDUA. > > > > Dimana ya tulisan keduanya? > > > > wassalam, > > > > > > ================================ > > Mbak LD, berikut tulisan kedua dari amran... > > kalo yang dengan subyek "pelemik" itu tulisan selanjutnya sebagai > tanggapan > > balik amran atas tanggapan ulil.. > > > > Salam, > > Asnawi Ihsan > > > > http://hidayatullah.com/index.php? > option=com_content&task=view&id=5844&Itemi > > d=84 > > > > > > Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel [2] > > Sabtu, 24 November 2007 > > Sanksi penistaan agama bukan monopoli Indonesia. Itu juga terjadi > di Eropa. > > Amerika jauh lebih kejam dan lebih sectarian. Bagian Kedua-habis > > > > Oleh: Amran Nasution > > > > > > > > Hidayatullah.com--Orang Barat itu selalu menganut standar ganda, > tapi tak > > malu-malunya mengajari kita tentang hak persamaan dan kebebasan, > terutama > > melalui agennya yang sawo matang, yang berkeliaran di sini. > > > > Namun yang pasti undang-undang itu masih tetap berlaku di sana, > sekali pun > > berbagai usaha untuk menghapuskannya terus dilakukan oleh para > seniman atau > > aktivis HAM. Bahkan ia tetap awet bertahan, walau pun pada 1998, > muncul > > Human Rights Act, undang-undang tentang HAM. Memang penggunaannya > sangat > > selektif, atau bahkan suatu saat seakan sudah dipingsankan. > > > > Tapi nyatanya pada 1977, pengadilan Inggris mengadili majalah Gay > News, > > karena memuat puisi James Kirkup. Puisi itu dituduh menempatkan > Jesus > > sebagai objek cinta. > > > > Undang-undang Blasphemy bukan satu-satunya cara. Pada 1976, > sutradara > > Denmark, Jens Jorgen Thorsen, hendak membuat film The Many Faces > of Jesus, > > di Inggris. Film itu bercerita tentang kehidupan seks Jesus. > > > > Reaksi keras bermunculan. Bukan cuma dari para aktivis Gereja, > tapi dari > > Ratu Inggris, Perdana Menteri James Callagan, dan Uskup Agung > Canterbury, > > Donald Coggan. Akhirnya, rencana itu pun hilang begitu saja. > > > > Ada lagi sejumlah peristiwa yang mirip. Salah satu, adalah kasus > the > > Penguin, penerbit terkenal itu. Pada 1967, penerbit itu siap > meluncurkan > > buku Massacre, ditulis Malcolm Muggeridge. Tiba-tiba, suatu malam, > Allen > > Lane, sang pemilik, muncul ke gudang: seluruh buku yang sudah siap > cetak ia > > bakar habis. > > > > Lane sebenarnya bukan aktivis Gereja. Tapi dia pusing karena > mendapat protes > > dari kawan, langganan, dan kerabatnya, yang menuduh buku itu > menghina > > Kristen, blasphemy. > > > > Yang menarik, the Penguin adalah juga penerbit the Satanic Verses. > Inilah > > sikap sektarian dan standar ganda yang amat nyata dari orang > Inggris itu. > > Massacre dibakarnya karena menghina Kristen, tapi the Satanic > Verses yang > > menghina Islam tidak. Malah novel itu dan penulisnya dipromosikan > > besar-besaran dengan dalih kebebasan berkreasi, kebebasan > berbicara, dan > > bla... bla... bla lainnya. > > > > Bagaimana Amerika, negara eksportir demokrasi itu? Di sini lebih > seru, tapi > > caranya lebih canggih. Meski undang-undang blasphemy masih ada, > dilihat dari > > beberapa kasus sempalan agama, ia tak digunakan. Tapi dicarikan > delik pidana > > yang ancaman hukumannya lebih berat, semisal penggelapan pajak dan > pemakaian > > senjata api. Di sini peran intelijen diperlukan. > > > > Sebutlah kasus bunuh diri massal aliran the Peoples Temple (Kuil > Rakyat) > > yang dipimpin Pendeta Jim Jones, tamatan Indiana University di > Bloomington, > > Indiana. > > > > Pada 1964, Jones membangun gereja sendiri di Indianapolis, dan > mulai > > menyebarkan ajaran yang menekankan persamaan hak pada kulit hitam, > dan > > keadilan sosial. Tak aneh bila jemaahnya kebanyakan orang hitam. > > > > Ia dan kelompoknya kemudian pindah ke Redwood Valley, California. > Alasannya, > > untuk mencari daerah aman dari perang nuklir yang segera meletus. > Pada waktu > > itu, memang perang dingin antara blok Barat pimpinan Amerika > Serikat dan > > blok Timur pimpinan Uni Soviet, sedang menghangat. Perang nuklir > menjadi > > ancaman. > > > > Ternyata pengikutnya tambah banyak, dan lama kelamaan meresahkan > rezim, > > selain Gereja. Apalagi pendeta itu menggaku titisan Jesus. > Pengusutan > > dilakukan. Ditemukanlah kasus pengelakan pajak. > > > > Karena pengusutan itu, Jim Jones dan ratusan pengikutnya - 70% > orang hitam - > > pada 1977, pindah ke Guyana, negara yang terletak di tepi Samudera > Atlantik, > > Amerika Latin. Itulah satu-satunya negeri berbahasa Inggris di > kawasan > > berbahasa Spanyol itu. > > > > Di sana, di sebuah daerah terpencil, mereka membangun gereja dan > pemukiman > > sendiri, yang dinamakan Jonestown, kota Jones. Mereka mengembangkan > > pertanian, menjalani kehidupan sesuai prinsip sosialisme ajaran > Pendeta Jim > > Jones. > > > > Ternyata mereka tetap tak dibiarkan. Pada 15 November 1978, > perkampungan > > terpencil itu didatangi anggota Kongres Leo Ryan, didampingi > sejumlah > > wartawan dan anggota CIA. Mereka diutus Kongres sebagai misi > pencari fakta > > dan sebenarnya diterima dengan baik oleh Pendeta Jones. > > > > Selama tiga hari di sana, Leo Ryan dan rombongan ternyata > melakukan dakwah > > untuk menyadarkan anggota komunitas. Mereka berhasil mempengaruhi > beberapa > > jemaah, tapi menimbulkan kemarahan jemaah lainnya. > > > > Rombongan melarikan diri ke lapangan terbang kecil, tempat pesawat > terbang > > mereka diparkir. Namun mereka ditemukan kelompok jemaah yang marah, > > terjadilah tembak-menembak. Leo Ryan, beberapa anggota > rombongannya, serta > > jemaah, tewas. > > > > Sementara itu, di tengah ketegangan suasana, Pendeta Jones > memerintahkan > > seluruh komunitasnya melakukan bunuh diri dengan meminum racun > sianida yang > > telah disiapkan. Selama ini, sang pendeta mengajarkan, hanya > dengan bunuh > > diri mereka mencapai surga, selamat dari ancaman perang nuklir. > > > > Sungguh amat mengerikan. Hari itu, 908 jemaah Peoples Temple - 276 > di > > antaranya anak-anak - mati bergeletakan di perkampungan, termasuk > Pendeta > > Jim Jones. > > > > Peristiwa lain yang tak kurang mengerikan, kasus Pendeta David > Koresh, > > pemimpin the Branch Davidian alias Sekte Cabang David di Mount > Carmel, Waco, > > Texas. > > > > Pada 19 April 1993, pengepungan selama 51 hari oleh sekitar 75 > anggota FBI - > > polisi federal Amerika - berakhir dengan hujan peluru di kompleks > seluas 30 > > ha itu. Perumahan itu meledak dan terbakar habis, diduga karena > sejenis > > tabung gas yang dilemparkan ke dalam rumah untuk mengusir penghuni > ke luar. > > > > Pendeta David Koresh dan 80-an pengikutnya - termasuk wanita dan 27 > > anak-anak -- hangus terbakar. Mayat pendeta itu baru bisa dikenali > melalui > > pemeriksaan laboratorium. > > > > Mirip kasus Jim Jones, Pendeta Koresh dianggap mengajarkan Kristen > > menyimpang. Dia menggaku nabi yang mendapat wahyu dan bisa > berbicara dengan > > Tuhan. > > > > Mirip pula dengan kelompok Jim Jones, FBI mengusut mereka karena > kasus > > pidana, tentang senjata api gelap. Ketika itu sejumlah polisi > mendatangi > > kompleks terpencil itu mengantarkan surat panggilan untuk sang > nabi. > > Pengikutnya marah, merasa nabi mereka direndahkan polisi. Terjadi > > tembak-menembak, yang menggakibatkan beberapa jemaah dan polisi > tewas. Sejak > > itulah kompleks Mount Carmel dikepung FBI. > > Peristiwa ini sempat lama menjadi perdebatan. FBI dianggap > berlebihan, > > istilah krennya sekarang, melanggar HAM. Sejumlah buku, film > dokumenter, dan > > tulisan koran diterbitkan. Pengadilan digelar. Tapi sampai > sekarang tak satu > > polisi pun yang ditindak. Orang Amerika tampaknya tahu sama > tahulah kenapa > > peristiwa itu terjadi. > > > > Tapi persis dua tahun kemudian, 19 April 1995, sebuah bom > meledakkan gedung > > federal di Oklahoma City, merampas nyawa 168 orang tak bersalah - > termasuk > > perempuan dan anak-anak. Pelakunya, belakangan diketahui adalah > Timothy > > McVeigh, orang kulit putih warga Amerika. Sebelumnya, karena > prasangka > > rasial, polisi menangkap sejumlah orang Arab. > > > > Dari dalam sel tahanan, McVeigh menulis surat bahwa tindakan itu > adalah > > pembalasan atas apa yang telah dilakukan pemerintah di Mount > Carmel, Waco. > > Karena itu aksinya dilakukan 19 April, tepat pada hari Waco > dibakar FBI. > > > > Di depan pengadilan, dia bungkem seribu bahasa. Hakim memintanya > bicara > > sebelum dijatuhi hukuman mati. Dia menulis kutipan > ini, ''Pemerintah punya > > pengaruh yang sangat besar, menjadi guru di mana-mana. Untuk baik > dan jahat, > > ia mengajari semua orang dengan contoh perbuatannya'' (lihat > Mahmood > > Mamdani, ''Good Muslim, Bad Muslim'', Three Leaves Press, 2005). > Ia mau > > mengatakan, peristiwa Oklahoma hanya mencontoh perbuatan polisi di > Mount > > Carmel. > > > > Syukurlah, berbagai peristiwa mengerikan di Amerika dalam kasus > penyimpangan > > agama, belum pernah tejadi di sini. Seringkali malah aparat > Pemerintah > > ragu-ragu bertindak karena pers arus utama selalu mendukung suara > kaum > > Liberal. Padahal undang-undang sudah cukup jelas. > > > > Ujungnya, ummat yang marah terjebak main hakim sendiri. Mereka pun > jadi > > korban kecaman kaum Liberal, disebar-luaskan pers yang senantiasa > berpihak. > > [habis] > > > > * Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, > bergabung dengan > > IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta > > >

