Ha ha ha. Saya sengaja melanglang buana ke ranah transendental, karena saya 
ingin diskusi secara medias res. Mengapa? karena saya berpendapat, bahwa 
anatomi setiap pewahyuan adalah transendensi. Beda antara kelompok agama yang 
menamakan diri "agama wahyu" dan "yang lain", adalah para pemeluk agama wahyu 
mengimani, Tuhan yang bicara pribadi dan menurunkan wahyu itu. Agama "lain" 
tidak berangkat dari sosok Ilahi yang berbicara dan mengatur se-gala galanya, 
seperti polisi lalulintas.
   
  Tetapi, mekanisme wahyu adalah sama, yaklni sosok makhluk gaib bicara dengan 
manusia biasa. Tetapi siapa saja yang mendapat wahyu? Nobody can describe it 
precisely. Bukankah Jeanne d'Arc juga claim mendapat wahyu sewaktu memulai 
perlawanannya, yang berakhir dengan pembakaran dirinya?
   
  Lebih tragis lagi, apa yang diimani wahyu oleh penganut sebuah agama, tak 
digubris oleh penganut agama lain, sehingga akhirnya, agama agama tidak 
ditakdirkan untuk hidup bersandingan peacefully. 
   
  Istilah God Intuition Whitehead mudah kita temukan pada tiap bangsa bangsa 
alamiah, seperti orang Indian, dan lainnya, Terutama masyarakat agraris dan 
para "Food Gatherers".Mereka meyakini adanya kekuatan diatas (Supreme 
Supranatural Beings) yang mengendalikan kesemuanya (halilintar, banjir, 
kemarau, kesuburan tanah, kematian, etc).
   
  Pada dasaranya, apakah God bagi kaum Abrahamic religions (Yehuda, Kristiani 
dan Islam) atau  "God yang lain", unsur "Pengendali dari atas" itu adalah sama.
   
  Pangeran Siddharta yang pertama mengajarkan, TIDAK mulai pembahasan kehidupan 
spiritual dengan mengutak atik "Yang Diatas", tetapi menganalisa jalan yang 
harus dilalui: Dharma. "kalau takut mengalami kehidupan yang sengsara, 
janganlah melakukan keaiban, yang menimbulkan kharma yang akan menjurus pada 
kesengsaraan". beliau tak melemparkan sebab musabab nasib buruk atau baik pada 
Makhluk Gaib diatas, yang dianggap bertanggung jawab atas segala azab. Kita 
lihat, tsunami, banjir bengawan Solo, danau Lapindo, juga adalah hasil dari 
perilaku manusia (hukum kausalitas). Beliau menghindari sebanyak mungkin 
menelurkan dogma dogma..
   
  Shalom aleychem
   
   
   
   
  

Lukas Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak Danar, koq topiknya melanglang ke kawasan transendental....! Tapi 
menarik juga sih...! Saya akan awali dengan masalah suara hati (conscience) 
dulu....!

Rudolf Otto dalam tulisannya Primitive Monotheism meyakini bahwa kesadaran 
ketuhanan (God Conciousness) itu juga ada dalam masyarakat primitif. (Penulis 
lain, Whitehead memakai istilah God Intuition sebagai padanan kata kesadaran 
ketuhanan) Dan ini adalah kesadaran yang genuine dalam diri manusia, seorang 
atheis pun tidak mungkin bisa menghindari dari suara hati (concience). Suara 
hati ditutup bagaimana pun juga akan terus bergetar, ada impulse yang tidak 
bisa ditolak. Suara hati percaya bahwa di atas sana ada kekuatan besar yang 
berkuasa yang tidak bisa dilawan maupun ditandingi. Kekuatan itu adalah sesuatu 
yang sangat supra (supreme nature being). Karena yakin adanya sang maha tinggi 
itu, timbullah pengakuan (self-confession) dalam diri manusia, bahwa aku 
hanyalah manusia belaka (human being) yang membutuhkan perlindungan dan 
pemeliharaan (safeguarding) dari sang penguasa. Karena adanya pengakuan 
(self-confession) ini, maka manusia berusaha
menyembahnya (worship). Disini timbul kesadaran dalam level yang lebih tinggi 
bahwa di dunia ini ada pencipta (creator) dan ciptaan (creation). itulah 
sebabnya, masyarakat primitif mengekspresikan penyembahannya dengan memberikan 
sesajen, menyembah pohon, dll. Karena mereka tidak terbiasa dengan dunia 
abstrak, maka obyek penyembahannya adalah sesuatu yang kongkrit: benda-benda, 
binatang, pohon, dll, karena mereka menganggap kekuatan supra itu bersublimasi 
pada benda. 

Saya mengawali komentar ini dengan suara hati, karena penghubung antara suara 
hati dengan dimensi lain adalah impulse. Impulse adalah benang interaksi antara 
conscience dengan medium lain. Dalam berbagai teori dikatakan bahwa dalam suara 
hati ada dua spektrum yang seringkali bertolak belakang: yaitu spektrum otonom 
dan spektrum teonom. Bisikan ilahi akan berinteraksi dengan spektrum teonom, 
sedangkan bisikan non-ilahi berinteraksi dengan spektrum otonom. God intuition 
itu muncul dari spektrum teonom ini, sehingga muncul keyakinan ada kekuatan 
supra di atas sana.

Berkaitan dengan pewahyuan yang ditanyakan pak danar, akan menjadi misteri 
ketika orang yang menerima wahyu itu berbicara tentang moralitas (padahal orang 
itu mengaku tidak bertuhan, bahkan syirik). Revelation dalam makna khusus khan 
tidak bermuara pada persoalan agama, juga pada filsafat, sastra dan karya-karya 
lain. Sastrawan dan filsuf pun dapat menerima pewahyuan! (Kita tahu, Sidharta 
Gautama sangat kental filsafatnya, demikian juga penulis Wedha). Timbul 
masalah, bagaimana para atheist seperti Albert Camus, Bertrand Russel, George 
Bennard Shaw, Jean Paul Sartre, dll bisa bicara tentang moral jika tidak 
mempercayai tuhan (walau Rudolf Otto berpendapat seorang atheis pun tidak bisa 
mengingkari adanya supreme nature being), pada spektrum mana bisikan itu 
berinteraksi? Mahatma Gandhi yang percaya dewa-dewa, juga menerima revelation 
tentang ajaran moral! Bandingkan kisah Ayub yang dengan gigih mempertahankan 
imannya dari godaan eksternal, sampai
mengatakan: Kebenaran kupegang teguh dan tidak kulepaskan, hatiku tidak akan 
mencela seharipun....(Ayub 27:6), apakah bisikan yang mereka terima pada 
spektrum teonom atau otonom...?

Pewahyuan non-mekanis tadi terjadi karena ada bisikan ghaib pada seseorang 
dalam suara hatinya (entah otonom atau teonom). Aristotle membangun konsep 
filsafat yang begitu brilian, seperti pak danar katakan, mungkin karena 
interaksi bisikan ghaib dengan suara hatinya ini..., masalahnya siapa yang 
berinteraksi? Ilahi atau non-ilahi?

Yang menjadi perenungan saya selama ini adalah paradigma tentang tipologi 
agama, yang menyebabkan konsep pewahyuan terpental dan tidak diakui oleh agama 
lain.
Dalam studi agama, selalu dikatakan bahwa agama itu dibagi menjadi 2 macam: 
Agama wahyu (revelation religion) dan agama natural (natural religion). Agama 
Islam, kristen dan yahudi dianggap sebagai agama wahyu, sedangkan agama budha, 
hindu, kong hucu dsbnya dianggap agama natural karena lahir dari filsafat, 
kebudayaan, dll. Disinilah masalah itu muncul, benarkah orang berfilsafat itu 
tidak ada kaitannya dengan wahyu?

Mengenai reinkarnasi, saya pernah membaca artikel yang mengatakan bahwa seorang 
itu tidak semua cita-cita, keinginan, dan konsep-konsep yang dimilikinya 
terealisir dalam hidupnya! Ketika mati, jasadnya memang sirna, tetapi kekuatan 
hati nuraninya (syneidesis) tidak hilang dan malah mengembara tanpa dibatasi 
waktu. Mungkin syneidesis inilah yang menjadi kekuatan ghaib yang berinteraksi 
dengan seseorang, meski sudah berabad-abad lamanya orang itu dalam kematian, 
seperti yang diceritakan pak danar!

Salam
Lukas Kristanto

RM Danardono HADINOTO wrote: 
> Menarik sekali. 
> Mas Lukas tuturkan antara lain: "Pewahyuan non-mekanis, yaitu semacam 
> suara ilahi yang kemudian diterjemahkan dan diartikulasikan oleh sang 
> penerima menjadi bahasa penerimanya. Sidharta gautama, confusius, 
> bahkan socrates dianggap memperoleh wahyu semacam ini, termasuk para 
> penulis bible..." 
> Teman teman yang mendalami abidharma, dan sangat senior dalam 
> bermeditasi, menceritakan, bahwa berkat pendalaman meditasi, 
> kesadaran bathin diperluas sejauh jauhnya, hingga dapat 
> menangkap "frequency" makhluk lain, termasuk, yang hidup dalam alam 
> roh, jadi tak pernah menjadi manusia. 
> Dengan demikian, terjadi komunikasi di level yang spiritually tinggi, 
> seolah manusia bercakap cakap dengan "orang lain", dan 
> mendapatlan "message" yang kemudian menjadi pencerahan. 
> Dalam buku The Journey of Souls yang merupakan hasil research Dr. 
> Michael Newton dengan manusia dalam hypnose, diuraikan mengenai 
> komunikasi transendental ini. Seringkali manusia yang telah 
> berpengalaman beribu tahun mewujudkan diri dalam seorang manusia 
> melalui inkarnasi, hingga manusia ini memiliki pengetahuan yang 
> menakjubkan sekali, semisal Einstein atau Bethoven, yang sulit 
> dibayangkan pada manusia yang menguasai ilmunya dalam dimensi satu 
> kehiduopan. 
> Proses pewahyuan dalam makna pembisikan oleh makhluk yang lebih 
> tinggi (siapapun dia ini), adalah lazim dalam kepercayaan Jawa, yang 
> bertradisi Hindu-Buddha. 
> Anda benar sekali, ini masalah parameter. Mustahil, sesudahnya 
> mengatakan dengan pasti, siapa yang membisikkan. 
> Seperti anda kataka, dalam Al Quran dipakai gaya bicara "Aku", yang 
> diimani, bahwa Allah sendiri yang bersabda. Ini , kalau tak salah 
> juga terjadi dalam pewahyuan Taurat, Kitab Suci Bani Israil, dimana 
> Yahweh juga bersabda "Aku" kepada nabi nabi mereka. 
> Yang aneh, kalau membandingkan text kisah yang sama, dalam Taurat 
> (Perjanjian Lama) dan Al Quran, ada bagian bagian yang isinya 
> berbeda, misalnya kisah mengenai Ibrahim/Abraham. 
> Bagaimana pandangan mas? 
> Shalom 
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com , Lukas Kristanto 
> <luke_christ_ [EMAIL PROTECTED] > wrote: 
>> 
>> Mas Radityo, saya akan menjawab soal wahyu dengan menghindari 
> persoalan definisi, sebab masing-masing agama punya definisi sendiri- 
> sendiri. Apalagi kalau dihubungkan dengan kata ilham, semakin rumit, 
> karena dalam konteks keagamaan ada yang membedakan antara wahyu 
> (revelation) dengan ilham (divine inspiration) , ada juga yang 
> menyamakan, padahal sumbernya juga sama, Allah/Tuhan. Tapi jangan 
> didiskusikan dulu soal ini, ditahan dulu..., karena nanti larinya ke 
> masalah lingustik. Pernah ada pertengkaran, soal pertanyaan ajaran 
> Sidharta Gautama itu didapatkan dari wahyu atau bukan? 
> Secara.ekstrim ada yang memprotes, itu bukan wahyu tapi ilham, wahyu 
> itu hanya ada di ajaran X, di agama-agama lain itu bukan wahyu. Nah 
> berabe khan, kita bicara wahyu dari aspek lain saja...! 
>> 
>> Proses pewahyuan banyak macamnya, tapi saya bagi saja menjadi 
> mekanis dan non-mekanis. 
>> 
>> Pewahyuan dalam agama islam itu mekanis, jadi wahyu itu diturunkan 
> seperti kinerja sistem mekanikal, Allah memerintahkan malaikat Jibril 
> untuk menurunkan wahyu yang di lauh mahfudz (database ilahi, istilah 
> cak nur) agar disampaikan kepada Nabi Muhammad (mohon dikoreksi kalau 
> salah), antara yang di database dengan yang diterima tidak ada 
> perubahan, kalau databasenya bahasa arab yang sampai ke nabi muhammad 
> juga bahasa arab. (Menurut cak nur teori ini harus dikoreksi, 
> menurutnya di ruang ilahi tidak ada bahasa, bahasa adanya di bumi) 
>> 
>> Pewahyuan non-mekanis, yaitu semacam suara ilahi yang kemudian 
> diterjemahkan dan diartikulasikan oleh sang penerima menjadi bahasa 
> penerimanya. Sidharta gautama, confusius, bahkan socrates dianggap 
> memperoleh wahyu semacam ini, termasuk para penulis bible 
>> 
>> Lain lagi dengan dogma gereja, bahwa pewahyuan itu dinamis- 
> progresif, bahwa sang wahyu itu sendiri yang berfirman melalui 
> inkarnasi Yesus. Wahyu itu secara esensial ya Yesus itu sendiri. 
> Makanya Firman itu hadir dan hidup. Dalam Yohanes pasal 1 dikatakan: 
> pada mulanya adalah Firman (Logos), firman itu bersama-sama Allah 
> (Theos),...dan firman itu menjadi manusia (Antropos). Jadi firman itu 
> (logos) ya Yesus sendiri (antropos). Bisa diartikan firman itu tidak 
> turun secara mekanis, karena sudah ada dalam diri penerimanya. 
>> 
>> Seluruh perkataan Yesus itu disebut firman, dan didengar oleh murid- 
> muridnya, kemudian dibahasakan menurut ekspresi lingustik masing- 
> masing murid. Berarti ada subyektivitas dong kalau ekspresikan 
> menurut versi masing-masing? Pertanyaan ini oleh dogmatika akan 
> dijawab, bahwa seluruh penulisan firman itu walau menurut bahasa 
> penulis tidak serta merta subyektif. karena penulis akan dibimbing 
> oleh Roh Kudus dalam bentuk pengilhaman (inspiration) dan penerangan 
> (illumination) 
>> 
>> Sebenarnya, yang sering jadi perdebatan di hampir semua agama itu 
> khan soal parameter saja! Apa yang bisa dijadikan parameter kalau si 
> X benar-benar menerima wahyu? Ya kalau dari Tuhan, kalau dari makhluk 
> gaib bagaimana? Ya, mas Radityo pasti tahu maksudnya! 
>> 
>> Ya itulah sekilas pewahyuan dalam bible! 
>> 
>> Salam 
>> Lukas Kristanto 
>> 
>> mediacare wrote: 
>> > Mas Lukas yb 
>> > Berikut ada pendapat dari seorang teman di milis sebelah. 
> Topiknya soal "Wahyu". Dalam postingannya menyebut soal Bible. Minta 
> pendapat nih dari Anda. Teman-teman lainnya yang ingin kasih 
> komentar, silakan. 
>> > Terima kasih. 
>> > salam, 
>> > rd 
>> > A. ALINAZAR: 
>> > Simple, karena memang cuma Muhammad yg mengatakan bahwa Al-Quran 
> itu 
>> > adalah wahyu. Einstein tidak mengatakan teori-nya adalah wahyu. 
>> > Bahkan kiitab-kitab agama lainpun tidak diklaim sebagai wahyu 
> oleh 
>> > penganutnya. Contohnya Bible bukanlah wahyu. Bible adalah catatan 
> kesaksian orang-orang (seperti 
>> > Matheus dan lain-lain) atas hidup Yesus. Yg wahyu atau firman 
> adalah 
>> > Yesusnya sendiri, bukan Alkitab-nya. Jadi yg lain-lain itu memang 
> mengakui adanya inteprestasi setelah 
>> > wahyu. Atau bisa dikatakan kondisinya seperti hadits atau sunnah. 
>> > Makanya seperti saya katakan sebelumnya. Saya berspekulasi bahwa 
>> > Muhammad tidak berbohong, tidak sedang ayan, dan bener-bener 
> memang 
>> > mendapat wahyu (bukan sekedar imajinasi saja) ketika mengatakan 
> AQ itu 
>> > adalah wahyu. 
>> > Jika claim Muhammad ini tidak dipercaya, maka nggak usah repot- 
> repot 
>> > percaya sama AQ dan bahkan Islam. Mending bikin aja agama 
> sendiri, 
>> > seperti manusia-manusia zaman pra nabi dulu mencari tuhan. 
>> > salam, 
>> > -bank al- 
>> > mediacare 
>> > http://www.mediacar e.biz 
>> > [Non-text portions of this message have been removed] 
>> > 
>> 
>> 
>> 
>> Be smarter than spam.. See how smart SpamGuard is at giving 
> junk email the boot with the All-new Yahoo! Mail. Click on Options 
> in Mail and switch to New Mail today or register for free at 
> http://mail. yahoo.ca 
>> 
> 

Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! 

http://www.flickr.com/gift/



                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke