Bagaimana dengan Aceh ...... diobrak-abrik tsunami? dilaknat Allah?

Patricia

sFe wrote: 
>                 Desa Yang Musnah di Daerah Dieng 
>   Oleh : Abu Tilmidz 
>   Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini 
> hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat 
> semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung. 
>   �gApakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan 
> menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu 
> bergoncang?�h (QS Al Mulk 67: 16). 
>   Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 
> km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya 
> masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. 
> Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh 
> Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen 
> berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. 
> Namun barangkali ini merupakan �gistidraj�h (disesatkan Allah dengan cara 
> diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam 
> kesesatan). 
>   Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. 
> Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat 
> cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger 
> (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering 
> berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam 
> kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang. 
>   Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang 
> tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar 
> suara �gbuum�h, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi 
> harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang 
> amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa 
> jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang. 
>   Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan 
> tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh 
> penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng�c Seandainya gunung Pengamun-amun 
> sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan 
> tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. 
>   Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, 
> yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu 
> terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat 
> separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata�fala? 
>   Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu 
> tersebut ditulis dengan plat logam: 
>   �gTUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 
> ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN 
> PADA TG. 16/17-4-1955�� 
>   Allah Maha Besar. 
>   Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan 
> melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan 
> heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau 
> cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, 
> bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan 
> kemaksiatan. 
>   Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten 
> Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke 
> masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, 
> hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian. 
>   Wallahu a�flam bish shawab. 
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
>      


Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke