Tantangan? Bukankah kehidupan agama ternyata menyuburkan kekerasan? agama 
menjadi legitimasi kekerasan? agama menjadi kemasan bagi premanisme?
  

mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Jakarta, Kompas - Tantangan terbesar dari modernitas dalam kehidupan
beragama adalah keragaman, bukan sekularisasi. Modernitas membuat
kelompok agama menolak perbedaan dan menghendaki penyeragaman,
termasuk dalam berkeyakinan.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad
Suaedy di Jakarta, Minggu (13/1). Modernisasi yang berlangsung sejak
abad ke-19 mendorong dunia menjadi satu wajah yang sama. Secara
langsung atau tidak, modernitas merasuk juga dalam kehidupan beragama
yang sejak semula memang beragam.

"Bahkan, kelompok yang antimodernitas sangat menyanjung keseragaman
pula," katanya.

Menurut Suaedy, kondisi ini disebabkan oleh salahnya penafsiran
tentang modernitas itu sendiri. Modernitas dianggap identik dengan
kehidupan yang antiagama, seks bebas, serta hal negatif lainnya.
Padahal, hal itu bukanlah inti dari modernitas.

Modernitas merupakan penghormatan terhadap hak individualitas.
Artinya, kemodernan sangat menghargai perbedaan.

Kesalahan dalam menangkap nilai filosofis modernitas juga merasuk ke
dalam kelompok agama. Perbedaan keyakinan hingga perbedaan terhadap
tafsir nilai keagamaan dalam satu agama dianggap sebagai kesalahan dan
harus dimusuhi. Kelompok ini selalu menginginkan nilai dan tatanan
agama yang satu dan mengabaikan pluralitas.

Kondisi ini, katanya, terjadi karena munculnya anggapan, kemajuan
hanya dapat dicapai jika seragam. Keberhasilan penyatuan negara dalam
Uni Eropa (UE) maupun bentuk negara federasi Amerika Serikat (AS)
dianggap menjadi contoh keberhasilan penyeragaman.

Anggapan ini dinilai Suaedy justru keliru. Masyarakat di negara yang
tergabung dalam UE justru banyak memiliki perbedaan dan menolak
penyeragaman, seperti dalam penggunaan bahasa Inggris. Adapun di AS,
antarnegara bagian berlomba untuk maju dengan ciri masing-masing
negara bagian.

"Dengan beragam, justru akan memancing untuk terjadinya persaingan
guna menjadi yang terbaik. Penyeragaman justru akan melemahkan
semangat bersaing," katanya.

Yang penting, lanjut Suaedy, ada etika dan norma persaingan yang harus
dihormati bersama. Etika persaingan ini merupakan modal sosial yang
lupa dibangun di Indonesia akibat proses penyeragaman selama Orde Baru.

Otoritas agama-politik

Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on
Religion and Peace M Imdadun Rahmat menuturkan, sekularisasi politik
yang memisahkan otoritas agama dan otoritas politik bukan lagi menjadi
masalah di negara Timur, termasuk Indonesia. Kebangkitan agama dan
spiritualitas secara global di era 1970-an turut mengangkat nilai
kesalehan dalam ranah publik. Namun, kebangkitan agama juga
memunculkan tantangan klaim kebenaran sepihak atas nilai agama.

"Kebangkitan agama mendorong semangat militansi dan fundamentalisme.
Ditambah dengan pemahaman literal terhadap ajaran agama, ini
memunculkan klaim tunggal kebenaran dan menganggap hidup bersama
justru menjadi masalah," katanya.

Menurut Imdadun, sekularisme tidak berarti memisahkan nilai agama dari
ranah publik. Sepanjang nilai agama yang dibawa, kehadiran agama di
sektor ekonomi, politik, maupun budaya tidak perlu dipermasalahkan.
Pelarangan kehadiran nilai agama di ruang publik justru bertentangan
dengan inti ajaran agama yang tak hanya ingin membangun kesalehan
individu, tetapi juga ingin mewujudkan kesalehan sosial.

"Jika otoritas agama dipaksakan menjadi otoritas politik, itu juga
bertentangan dengan nilai agama," katanya. (MZW)

www.kompas.com 

mediacare
http://www.mediacare.biz

[Non-text portions of this message have been removed]



                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke