bisakah anda anti ekonomi? ekonomi itu adalah system peredaran barang, jasa dan 
dana. tidak suci tidak laknat. kalau bukan agama yang menyuburkan kekerasan, 
apakah dasar manusia berbuat laknat dengan nama Tuhan?  dimanakah agama telah 
membawa perdamaian antar manusia? pernah alami? mereka TIDAK goblok, mereka 
melakukan kekerasan karena YAKIN itu perintah agama, seperti Moh Atta, Amrozy, 
DI TII dll. Lupa?
   
  
Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bukan kehidupan agama yang menyuburkan kekerasan tetapi orang-
orang 'goblok' aja yang goblok menggunakan kehidupan agamanya.

Ada kecenderungan untuk membuat orang apatis ato anti akan agama. 
Padahal orang yang kena gombalisme (?) seperti itu adalah orang 
goblok.

Didunia ini apapun bisa dijadikan penyebab segala penyebab. Agama, 
Ekonomi, Budaya...bisa dijadikan sarana untuk suatu alasan tindakan 
kekerasan. Lalu...mengapa orang tidak pernah anti terhadap Ekonomi, 
Budaya dan..lain2 seperti halnya terhadap Agama???

wassalam,
--- In [email protected], Phyllobates Terribilis 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tantangan? Bukankah kehidupan agama ternyata menyuburkan 
kekerasan? agama menjadi legitimasi kekerasan? agama menjadi kemasan 
bagi premanisme?
> 
> 
> mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jakarta, Kompas - Tantangan terbesar dari modernitas 
dalam kehidupan
> beragama adalah keragaman, bukan sekularisasi. Modernitas membuat
> kelompok agama menolak perbedaan dan menghendaki penyeragaman,
> termasuk dalam berkeyakinan.
> 
> Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad
> Suaedy di Jakarta, Minggu (13/1). Modernisasi yang berlangsung 
sejak
> abad ke-19 mendorong dunia menjadi satu wajah yang sama. Secara
> langsung atau tidak, modernitas merasuk juga dalam kehidupan 
beragama
> yang sejak semula memang beragam.
> 
> "Bahkan, kelompok yang antimodernitas sangat menyanjung keseragaman
> pula," katanya.
> 
> Menurut Suaedy, kondisi ini disebabkan oleh salahnya penafsiran
> tentang modernitas itu sendiri. Modernitas dianggap identik dengan
> kehidupan yang antiagama, seks bebas, serta hal negatif lainnya.
> Padahal, hal itu bukanlah inti dari modernitas.
> 
> Modernitas merupakan penghormatan terhadap hak individualitas.
> Artinya, kemodernan sangat menghargai perbedaan.
> 
> Kesalahan dalam menangkap nilai filosofis modernitas juga merasuk 
ke
> dalam kelompok agama. Perbedaan keyakinan hingga perbedaan terhadap
> tafsir nilai keagamaan dalam satu agama dianggap sebagai kesalahan 
dan
> harus dimusuhi. Kelompok ini selalu menginginkan nilai dan tatanan
> agama yang satu dan mengabaikan pluralitas.
> 
> Kondisi ini, katanya, terjadi karena munculnya anggapan, kemajuan
> hanya dapat dicapai jika seragam. Keberhasilan penyatuan negara 
dalam
> Uni Eropa (UE) maupun bentuk negara federasi Amerika Serikat (AS)
> dianggap menjadi contoh keberhasilan penyeragaman.
> 
> Anggapan ini dinilai Suaedy justru keliru. Masyarakat di negara 
yang
> tergabung dalam UE justru banyak memiliki perbedaan dan menolak
> penyeragaman, seperti dalam penggunaan bahasa Inggris. Adapun di 
AS,
> antarnegara bagian berlomba untuk maju dengan ciri masing-masing
> negara bagian.
> 
> "Dengan beragam, justru akan memancing untuk terjadinya persaingan
> guna menjadi yang terbaik. Penyeragaman justru akan melemahkan
> semangat bersaing," katanya.
> 
> Yang penting, lanjut Suaedy, ada etika dan norma persaingan yang 
harus
> dihormati bersama. Etika persaingan ini merupakan modal sosial yang
> lupa dibangun di Indonesia akibat proses penyeragaman selama Orde 
Baru.
> 
> Otoritas agama-politik
> 
> Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on
> Religion and Peace M Imdadun Rahmat menuturkan, sekularisasi 
politik
> yang memisahkan otoritas agama dan otoritas politik bukan lagi 
menjadi
> masalah di negara Timur, termasuk Indonesia. Kebangkitan agama dan
> spiritualitas secara global di era 1970-an turut mengangkat nilai
> kesalehan dalam ranah publik. Namun, kebangkitan agama juga
> memunculkan tantangan klaim kebenaran sepihak atas nilai agama.
> 
> "Kebangkitan agama mendorong semangat militansi dan 
fundamentalisme.
> Ditambah dengan pemahaman literal terhadap ajaran agama, ini
> memunculkan klaim tunggal kebenaran dan menganggap hidup bersama
> justru menjadi masalah," katanya.
> 
> Menurut Imdadun, sekularisme tidak berarti memisahkan nilai agama 
dari
> ranah publik. Sepanjang nilai agama yang dibawa, kehadiran agama di
> sektor ekonomi, politik, maupun budaya tidak perlu dipermasalahkan.
> Pelarangan kehadiran nilai agama di ruang publik justru 
bertentangan
> dengan inti ajaran agama yang tak hanya ingin membangun kesalehan
> individu, tetapi juga ingin mewujudkan kesalehan sosial.
> 
> "Jika otoritas agama dipaksakan menjadi otoritas politik, itu juga
> bertentangan dengan nilai agama," katanya. (MZW)
> 
> www.kompas.com 
> 
> mediacare
> http://www.mediacare.biz
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with 
Yahoo! Search.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke