siapa penulisnya, pak nano? tulisan ini penting, terutama bagi teman non-muslim, untuk mengetahui peta islam yang sesungguhnya berwarna-warni, tapi sekarang mau diseragamkan.
At 01:15 PM 6/12/2008 +0000, you wrote: >Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis lainnya? > >Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban >permainan politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja dia >dan para asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih >jeli melihat aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari arah >mana sumber dukungan ke FPI ini berasal. > >Kalau saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) pertama >kali muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang >semua elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden. > >Pada Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka >mendukung pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak >Megawati Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan >alasan "menurut Islam, haram hukumnya kalau perempuan menjadi >presiden." > >Pada kesempatan lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang >melakukan investigasi beberapa jenderal (termasuk Menteri Pertahanan >Wiranto, waktu itu) yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat di >Timor Timur. Menurut FPI/LPI, Komnas HAM tidak membela umat Islam >(yaitu para jenderal yang muslim) tapi membela orang Timor Timur yang >Nasrani. > >Disini saya lebih tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang >menggerakkan FPI dan para simpatisannya yang mayoritas berideologi >Islamis dan Neo-fundamentalis. > >*** > >Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial dan >moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an dan >Hadis. Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada deviasi >historis, dan distorsi yang berasal dari nalar, sambil menyingkirkan >segala tradisi budaya juga adat istiadat lokal yang menempel di >ajaran Islam. Mereka ingin memisahkan diri dari islam tradisional >yang telah mewujudkan dirinya selama 1400 tahun akumulasi tradisi >pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan kultur tradisional >masyarakat-masyarak at Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam ini dianggap >sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali >kepada Al-Qur'an dan Hadis. > >Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman >dan pada saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang >dibayangkan murni, masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda >dari realitas sejarahnya, masa lalu yang steril dari segala "tahyul, >bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur >waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga >tradisi fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan >tentu saja tasawuf-thariqat. > >*** > >Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, dan >bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi >mentalitas Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: LIPIA (sekarang >ada di Warung Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan >Universitas Ibnu Su'ud di Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya >mengambil bentuk permusuhan terhadap musuh-musuh alamiah Wahabi, maka >Rizieq Shihab menampilkan model Islam konfrontatifnya terhadap apa >yang ia pandang maksiat atau kesesatan. > >FPI (dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti HTI, >MMI, dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es >fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah air menjangkau >ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi di >Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi >modernis Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan >untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan >negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali >kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang semua >fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. Ibn >Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah >kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam. > >*** > >Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan >aksinya dengan dua fokus kerja besar: > >1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam >tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, >dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, >kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal >yang telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan >maulid, dsb. > >2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran >kultur Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 4 >pilar tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, >Tasawuf-Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-Maturidiy >ah) > >Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di >seluruh dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo- >fundamentalis Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami >convert atau "pemurtadan", dari Islam tradisional lalu dibrainwashed >oleh lembaga-lembaga Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau >filialnya (seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi >yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi. > >Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi >yang beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), >dari lembaga inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya >kristenisasi di Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan >dan kebencian kepada kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah >Media Dakwah terbitan DDII inilah semangat kebencian dan permusuhan >kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan baik, >dengan bantuan uang Saudi Wahabi. > >*** > >Gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, >Muhammad `Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 >adalah satu gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita >baik, tetapi pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas dalam >Islam Sunni. ini adalah efek samping dari gerakan reformis-modernis, >penganjuran ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab- >madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan Hadis. Gerakan Salafi tiga >besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, yang >melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-Banna, Abul A'la al- >Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur baur >dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti >Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-Banna >dan Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam >Ikhwanul Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui >pengajian-pengajian Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi >partai politik PKS. > >Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad `Abduh ini adalah >gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris >paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad `Abduh) >yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan >Dr. M. Syafi'i Anwar (salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) >di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India diwakili oleh >Muhammad Khalafallah, Amin Al-Khuli, Sayyid Mahmud Al-Qimny, Muhammad >Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zaid, dan >Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir dengan tuduhan >sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung"nya di sisi >kanan Salafi. > >*** > >Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok islamis dan neo- >fundamentalis yang memandang Ahmadiyah sesat, maka dimana pola fikir >penyesatan ini akan berakhir? Ini akan berakhir dalam konflik >horizontal ketika satu kelompok mengklaim mereka adalah pengikut >Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi-Salafi, karena dua >kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan harfiyah terhadap >Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..", "menurut >Islam .", "Islam berkata " sehingga siapa pun yang berbeda pendapat >dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam), sementara yang >lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah. > >Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang >dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al- >Da'imah li al-Buhuts al-`Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa Syaikh >Sayyid `Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang >diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul `Ulama dan juga ulama Islam >tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) dan >Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir dan >musyrik. > >Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) yang >juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) >sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), Abu >Sa'id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat >745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi (wafat >830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M) , Abu Sa'ud al- >`Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi. > >Dalam logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada >akhirnya kelompok sesat dan bid'ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu >diingat bahwa ada tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah >Nabi Muhammad adalah problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan >Tasawuf falsafi. Tidak lebih parah dari problem khilafiyah dalam >filsafat Islam tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular seperti >dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti >yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al-Hallaj, >dan para Wali itu lebih utama dari pada para Nabi seperti yang >dikatakan oleh Ibnu `Arabi), tetapi terentang mulai dari Islam >Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan sholawat >beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke >kuburan waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis >Jaringan Islam Liberal; pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan >gagasan-gagasan rasional filsafat barat ke dalam kajian Islam; ulama >fiqih madzhab (dengan nalar ushul fiqih tradisionalnya) yang mencoba >mengkritik gagasan kaum fundamentalis yang selalu berkata "menurut >Islam.."; cendekiawan Islam Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul >Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i, aktivis religius >sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki, kundalini >dan yoga; saya yang menulis artikel ini dan juga Anda yang >menyetujui. > >*** > >Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah >adalah lokus intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Semua >representasi Madzhab Fiqih ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, >Syafi'i, Hanbali, Syi'ah Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di >bawahnya menyambut para jamaahnya masing-masing di setiap musim haji. >Seluruh Thariqat sufi juga memiliki mursyidnya di Mekkah Madinah. >Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syistiyyah, >Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang mu'tabarah hingga >yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal kenangan. > >Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan >akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan >kaum intelektual Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi >pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang malah lebih dalam, >koheren, dan integral. Kita bisa melihat dalam tradisi filsafat >Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes, David Hume, >Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf eksistensialis, >adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut. Kitab-kitab >filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis masih >dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal >ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih >dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al- >Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al- >Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, >ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu >berkata " menurut Islam, ." dengan semangat kembali kepada Al- >Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo-fundamentalis >dan Islamis. > >Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 para >ulama Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram di >Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama besar >Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi >khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal >lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama madzhab Maliki >menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki dituduh >oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab >Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi Saudi mereka mengalami penghancuran >karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua >dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang nama Islam >hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu boleh, sebatas >masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi. Kitab Majmu' >Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami penyuntingan >agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak sesuai >dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu di >Saudi Arabia. > >Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo >Fundamentalis- Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia. > >Masihkah kita berdiri menjadi makmum di belakang kelompok ini sambil >menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu kelompok B, C, juga >dituding sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan pada dua pilihan >menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat > > [Non-text portions of this message have been removed]

