terima kasih pak. mas muhkito juga sudah memberi alamat ini. saya sudah buka blognya dan isinya sungguh menarik.
At 03:01 AM 6/13/2008 +0000, you wrote: >Inilah penulisnya mas Nugroho: > >Sayed Mahdi Al-Jamalullail adalah blogger yang kritisi terhadap >ajaran-ajaran kaum Wahabi dan Salafawi. Kritisisme Sayed berlandaskan >tradisi pemikiran Islam. Tradisi itu telah mewujudkan dirinya dalam >khazanah literatur yang terakumulasi sejak abad ke 2 H/ 8 M. Bagi >Sayed Wahabiyah dan Salafawiyah mampu merusak nalar dan akal sehat, >seperti halnya penyalahgunaan narkoba. Lihat blognya di: > ><http://idhamdeyas.blogspot.com/>http://idhamdeyas.blogspot.com/ > >Salam > >Danardono > >--- In <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>[email protected], >Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > siapa penulisnya, pak nano? > > > > tulisan ini penting, terutama bagi teman non-muslim, untuk > > mengetahui peta islam yang sesungguhnya berwarna-warni, > > tapi sekarang mau diseragamkan. > > > > > > > > At 01:15 PM 6/12/2008 +0000, you wrote: > > > > >Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis lainnya? > > > > > >Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban > > >permainan politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja >dia > > >dan para asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih > > >jeli melihat aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari >arah > > >mana sumber dukungan ke FPI ini berasal. > > > > > >Kalau saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) >pertama > > >kali muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang > > >semua elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden. > > > > > >Pada Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka > > >mendukung pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak > > >Megawati Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan > > >alasan "menurut Islam, haram hukumnya kalau perempuan menjadi > > >presiden." > > > > > >Pada kesempatan lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang > > >melakukan investigasi beberapa jenderal (termasuk Menteri >Pertahanan > > >Wiranto, waktu itu) yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat di > > >Timor Timur. Menurut FPI/LPI, Komnas HAM tidak membela umat Islam > > >(yaitu para jenderal yang muslim) tapi membela orang Timor Timur >yang > > >Nasrani. > > > > > >Disini saya lebih tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang > > >menggerakkan FPI dan para simpatisannya yang mayoritas berideologi > > >Islamis dan Neo-fundamentalis. > > > > > >*** > > > > > >Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial >dan > > >moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an >dan > > >Hadis. Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada >deviasi > > >historis, dan distorsi yang berasal dari nalar, sambil >menyingkirkan > > >segala tradisi budaya juga adat istiadat lokal yang menempel di > > >ajaran Islam. Mereka ingin memisahkan diri dari islam tradisional > > >yang telah mewujudkan dirinya selama 1400 tahun akumulasi tradisi > > >pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan kultur tradisional > > >masyarakat-masyarak at Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam ini >dianggap > > >sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali > > >kepada Al-Qur'an dan Hadis. > > > > > >Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman > > >dan pada saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang > > >dibayangkan murni, masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda > > >dari realitas sejarahnya, masa lalu yang steril dari >segala "tahyul, > > >bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur > > >waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga > > >tradisi fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan > > >tentu saja tasawuf-thariqat. > > > > > >*** > > > > > >Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, >dan > > >bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi > > >mentalitas Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: LIPIA (sekarang > > >ada di Warung Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan > > >Universitas Ibnu Su'ud di Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya > > >mengambil bentuk permusuhan terhadap musuh-musuh alamiah Wahabi, >maka > > >Rizieq Shihab menampilkan model Islam konfrontatifnya terhadap apa > > >yang ia pandang maksiat atau kesesatan. > > > > > >FPI (dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti >HTI, > > >MMI, dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es > > >fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah air >menjangkau > > >ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi >di > > >Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi > > >modernis Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan > > >untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan > > >negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali > > >kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang >semua > > >fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. >Ibn > > >Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah > > >kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam. > > > > > >*** > > > > > >Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan > > >aksinya dengan dua fokus kerja besar: > > > > > >1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam > > >tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah, > > >dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah, > > >kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal > > >yang telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan > > >maulid, dsb. > > > > > >2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran > > >kultur Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam >4 > > >pilar tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih >Madzhab, > > >Tasawuf-Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah- >Maturidiy > > >ah) > > > > > >Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di > > >seluruh dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo- > > >fundamentalis Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami > > >convert atau "pemurtadan", dari Islam tradisional lalu >dibrainwashed > > >oleh lembaga-lembaga Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau > > >filialnya (seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi > > >yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi. > > > > > >Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi > > >yang beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam >Indonesia), > > >dari lembaga inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya > > >kristenisasi di Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan > > >dan kebencian kepada kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah > > >Media Dakwah terbitan DDII inilah semangat kebencian dan permusuhan > > >kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan >baik, > > >dengan bantuan uang Saudi Wahabi. > > > > > >*** > > > > > >Gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani, > > >Muhammad `Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20 > > >adalah satu gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita > > >baik, tetapi pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas >dalam > > >Islam Sunni. ini adalah efek samping dari gerakan reformis- >modernis, > > >penganjuran ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab- > > >madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan Hadis. Gerakan Salafi tiga > > >besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, >yang > > >melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-Banna, Abul A'la >al- > > >Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur >baur > > >dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti > > >Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al- >Banna > > >dan Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam > > >Ikhwanul Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui > > >pengajian-pengajian Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi > > >partai politik PKS. > > > > > >Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad `Abduh ini adalah > > >gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris > > >paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad >`Abduh) > > >yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan > > >Dr. M. Syafi'i Anwar (salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas) > > >di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India diwakili oleh > > >Muhammad Khalafallah, Amin Al-Khuli, Sayyid Mahmud Al-Qimny, >Muhammad > > >Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zaid, dan > > >Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir dengan tuduhan > > >sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung"nya di sisi > > >kanan Salafi. > > > > > >*** > > > > > >Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok islamis dan neo- > > >fundamentalis yang memandang Ahmadiyah sesat, maka dimana pola >fikir > > >penyesatan ini akan berakhir? Ini akan berakhir dalam konflik > > >horizontal ketika satu kelompok mengklaim mereka adalah pengikut > > >Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi-Salafi, karena >dua > > >kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan harfiyah terhadap > > >Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..", "menurut > > >Islam .", "Islam berkata " sehingga siapa pun yang berbeda pendapat > > >dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam), sementara >yang > > >lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah. > > > > > >Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang > > >dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah >al- > > >Da'imah li al-Buhuts al-`Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa >Syaikh > > >Sayyid `Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang > > >diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul `Ulama dan juga ulama Islam > > >tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) >dan > > >Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir >dan > > >musyrik. > > > > > >Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) >yang > > >juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab) > > >sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), >Abu > > >Sa'id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat > > >745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi >(wafat > > >830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M) , Abu Sa'ud al- > > >`Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi. > > > > > >Dalam logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada > > >akhirnya kelompok sesat dan bid'ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu > > >diingat bahwa ada tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah > > >Nabi Muhammad adalah problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan > > >Tasawuf falsafi. Tidak lebih parah dari problem khilafiyah dalam > > >filsafat Islam tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular >seperti > > >dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti > > >yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al- >Hallaj, > > >dan para Wali itu lebih utama dari pada para Nabi seperti yang > > >dikatakan oleh Ibnu `Arabi), tetapi terentang mulai dari Islam > > >Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan >sholawat > > >beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke > > >kuburan waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis > > >Jaringan Islam Liberal; pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan > > >gagasan-gagasan rasional filsafat barat ke dalam kajian Islam; >ulama > > >fiqih madzhab (dengan nalar ushul fiqih tradisionalnya) yang >mencoba > > >mengkritik gagasan kaum fundamentalis yang selalu berkata "menurut > > >Islam.."; cendekiawan Islam Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul > > >Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i, aktivis religius > > >sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki, kundalini > > >dan yoga; saya yang menulis artikel ini dan juga Anda yang > > >menyetujui. > > > > > >*** > > > > > >Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah > > >adalah lokus intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Semua > > >representasi Madzhab Fiqih ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki, > > >Syafi'i, Hanbali, Syi'ah Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di > > >bawahnya menyambut para jamaahnya masing-masing di setiap musim >haji. > > >Seluruh Thariqat sufi juga memiliki mursyidnya di Mekkah Madinah. > > >Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syistiyyah, > > >Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang mu'tabarah >hingga > > >yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal kenangan. > > > > > >Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan > > >akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan > > >kaum intelektual Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi > > >pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang malah lebih dalam, > > >koheren, dan integral. Kita bisa melihat dalam tradisi filsafat > > >Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes, David Hume, > > >Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf eksistensialis, > > >adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut. Kitab-kitab > > >filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis >masih > > >dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal > > >ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih > > >dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al- > > >Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al- > > >Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer, > > >ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu > > >berkata " menurut Islam, ." dengan semangat kembali kepada Al- > > >Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo- >fundamentalis > > >dan Islamis. > > > > > >Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 >para > > >ulama Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram >di > > >Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama >besar > > >Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi > > >khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal > > >lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama madzhab >Maliki > > >menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki >dituduh > > >oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab > > >Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi Saudi mereka mengalami >penghancuran > > >karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua > > >dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang nama >Islam > > >hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu boleh, >sebatas > > >masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi. Kitab Majmu' > > >Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami >penyuntingan > > >agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak sesuai > > >dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu di > > >Saudi Arabia. > > > > > >Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo > > >Fundamentalis- Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia. > > > > > >Masihkah kita berdiri menjadi makmum di belakang kelompok ini >sambil > > >menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu kelompok B, C, juga > > >dituding sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan pada dua pilihan > > >menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > [Non-text portions of this message have been removed]

