Inilah penulisnya mas Nugroho:


Sayed Mahdi Al-Jamalullail adalah blogger yang kritisi terhadap 
ajaran-ajaran kaum Wahabi dan Salafawi. Kritisisme Sayed berlandaskan 
tradisi pemikiran Islam. Tradisi itu telah mewujudkan dirinya dalam 
khazanah literatur yang terakumulasi sejak abad ke 2 H/ 8 M. Bagi 
Sayed Wahabiyah dan Salafawiyah mampu merusak nalar dan akal sehat, 
seperti halnya penyalahgunaan narkoba. Lihat blognya di:

http://idhamdeyas.blogspot.com/


Salam

Danardono




--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> siapa penulisnya, pak nano?
> 
> tulisan ini penting, terutama bagi teman non-muslim, untuk
> mengetahui peta islam yang sesungguhnya berwarna-warni,
> tapi sekarang mau diseragamkan.
> 
> 
> 
> At 01:15 PM 6/12/2008 +0000, you wrote:
> 
> >Apa Sebenarnya Tujuan Akhir FPI dan Kaum Islamis lainnya?
> >
> >Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban
> >permainan politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja 
dia
> >dan para asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih
> >jeli melihat aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari 
arah
> >mana sumber dukungan ke FPI ini berasal.
> >
> >Kalau saya tidak salah, FPI (dengan Laskar Pembela Islam nya) 
pertama
> >kali muncul dalam demo tanggal 17 Agustus 1998. Mereka menentang
> >semua elemen-elemen aksi yang menolak Habibie menjadi presiden.
> >
> >Pada Bulan Agustus 1999, FPI/LPI melakukan demo ke MPR. Mereka
> >mendukung pemilihan kembali Habibie menjadi presiden, dan menolak
> >Megawati Soekarnoputri menjadi kandidat presiden dengan
> >alasan "menurut Islam, haram hukumnya kalau perempuan menjadi
> >presiden."
> >
> >Pada kesempatan lain FPI/LPI menyerang Komnas HAM yang sedang
> >melakukan investigasi beberapa jenderal (termasuk Menteri 
Pertahanan
> >Wiranto, waktu itu) yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat di
> >Timor Timur. Menurut FPI/LPI, Komnas HAM tidak membela umat Islam
> >(yaitu para jenderal yang muslim) tapi membela orang Timor Timur 
yang
> >Nasrani.
> >
> >Disini saya lebih tertarik untuk melihat ke tataran ideologis yang
> >menggerakkan FPI dan para simpatisannya yang mayoritas berideologi
> >Islamis dan Neo-fundamentalis.
> >
> >***
> >
> >Kaum Islamis dan Neo-Fundamentalis menyerukan rekonstruksi sosial 
dan
> >moralitas dengan berdasarkan pada seruan kembali kepada Al-Qur'an 
dan
> >Hadis. Mereka ingin menemukan kembali ajaran Islam tanpa ada 
deviasi
> >historis, dan distorsi yang berasal dari nalar, sambil 
menyingkirkan
> >segala tradisi budaya juga adat istiadat lokal yang menempel di
> >ajaran Islam. Mereka ingin memisahkan diri dari islam tradisional
> >yang telah mewujudkan dirinya selama 1400 tahun akumulasi tradisi
> >pemikiran dalam kitab-kitab khazanah klasik dan kultur tradisional
> >masyarakat-masyarak at Muslim. Akumulasi ilmu-ilmu islam ini 
dianggap
> >sebagai penghambat jalan ke arah pemurnian Islam, jalan kembali
> >kepada Al-Qur'an dan Hadis.
> >
> >Mereka menampilkan pemutusan tajam dengan tradisi-tradisi keislaman
> >dan pada saat yang sama menyerukan kembali ke masa lalu yang
> >dibayangkan murni, masa lalu yang dikukuhkan kembali secara berbeda
> >dari realitas sejarahnya, masa lalu yang steril dari 
segala "tahyul,
> >bid'ah dan khurafat" yang tidak hanya berbentuk ziarah kubur
> >waliyullah, penghargaan adat-istiadat lokal, tetapi termasuk juga
> >tradisi fiqih-ushul fiqih madzhab, ilmu kalam, filsafat Islam, dan
> >tentu saja tasawuf-thariqat.
> >
> >***
> >
> >Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab, walaupun tidak menjadi Wahabi, 
dan
> >bukanlah penganjur Wahabi tulen, tampaknya telah mengadopsi
> >mentalitas Wahabisme Saudi dari tempat ia belajar: LIPIA (sekarang
> >ada di Warung Buncit, di depan Kantor Harian Republika) dan
> >Universitas Ibnu Su'ud di Riyadh. Jika kolega-kolega Wahabinya
> >mengambil bentuk permusuhan terhadap musuh-musuh alamiah Wahabi, 
maka
> >Rizieq Shihab menampilkan model Islam konfrontatifnya terhadap apa
> >yang ia pandang maksiat atau kesesatan.
> >
> >FPI (dan kelompok islamis dan neo-fundamentalis lainnya seperti 
HTI,
> >MMI, dan lain sebagainya) hanyalah salah satu puncak gunung es
> >fundamentalisme Islam yang bagian terbesarnya di bawah air 
menjangkau
> >ke ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi 
di
> >Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan gerakan salafi
> >modernis Islam. Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan
> >untuk memisahkan diri dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan
> >negara sendiri di Arabia Tengah dan wilayah Teluk Persia. Kembali
> >kepada Al-Qur'an dan Hadis adalah kredonya, sekaligus membuang 
semua
> >fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad pertengahan. 
Ibn
> >Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah
> >kafir, kerena mereka telah murtad dari Islam.
> >
> >***
> >
> >Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan
> >aksinya dengan dua fokus kerja besar:
> >
> >1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional. Kultur Islam
> >tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul, bid'ah,
> >dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah,
> >kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal
> >yang telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan
> >maulid, dsb.
> >
> >2. Pengkafiran dan menuding sesat (ini adalah bentuk penghancuran
> >kultur Islam tradisionalis dalam ranah pemikiran) para ulama dalam 
4
> >pilar tradisi intelektual spiritual Islam (Fiqih-Ushul Fiqih 
Madzhab,
> >Tasawuf-Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam Asy'ariyah-
Maturidiy
> >ah)
> >
> >Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neo-fundamentalis di
> >seluruh dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neo-
> >fundamentalis Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami
> >convert atau "pemurtadan", dari Islam tradisional lalu 
dibrainwashed
> >oleh lembaga-lembaga Pendidikan Islam Wahabi di Saudi Arabia atau
> >filialnya (seperti LIPIA di Warung Buncit Jakarta) menjadi Wahabi
> >yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi.
> >
> >Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi
> >yang beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam 
Indonesia),
> >dari lembaga inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya
> >kristenisasi di Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan
> >dan kebencian kepada kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah
> >Media Dakwah terbitan DDII inilah semangat kebencian dan permusuhan
> >kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan 
baik,
> >dengan bantuan uang Saudi Wahabi.
> >
> >***
> >
> >Gerakan modernis Islam yang digagas oleh Jamaluddin Al-Afghani,
> >Muhammad `Abduh, dan Sayed Rayid Ridha pada abad ke 19-awal abad 20
> >adalah satu gerakan pembaruan Islam yang pada awalnya bercita-cita
> >baik, tetapi pada akhirnya malah membentuk ruang vakum otoritas 
dalam
> >Islam Sunni. ini adalah efek samping dari gerakan reformis-
modernis,
> >penganjuran ijtihad sebagai bentuk pembebasan diri dari madzhab-
> >madzhab, dan kembali ke Al-Qur'an dan Hadis. Gerakan Salafi tiga
> >besar ulama modernis ini akhirnya hanya membesar di sisi kanan, 
yang
> >melahirkan tokoh-tokoh Islamis seperti Hasan al-Banna, Abul A'la 
al-
> >Maududi, Quthub, Sa'id Hawwa, Mustafa As-Siba'i, lalu bercampur 
baur
> >dengan gagasan-gagasan Wahabi hingga melahirkan orang-orang seperti
> >Osama bin Laden dan para Thaliban di Afghanistan. Dari Hasan Al-
Banna
> >dan Quthub, gagasan-gagasan sisi kanan Salafi ini disuburkan dalam
> >Ikhwanul Muslimin, dan kemudian diekspor ke Indonesia melalui
> >pengajian-pengajian Usrah kampus, yang akhirnya berevolusi menjadi
> >partai politik PKS.
> >
> >Sisi kiri gerakan salafi yang diwariskan Muhammad `Abduh ini adalah
> >gerakan-gerakan neo-modernis (yang menurut saya adalah ahli waris
> >paling absah dari gerakan pembaruan Islam dari garis Muhammad 
`Abduh)
> >yang diwakili oleh almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan
> >Dr. M. Syafi'i Anwar (salah satu korban insiden 1 juni 08 di Monas)
> >di Indonesia. Sementara di Timur Tengah dan India diwakili oleh
> >Muhammad Khalafallah, Amin Al-Khuli, Sayyid Mahmud Al-Qimny, 
Muhammad
> >Al-Ghazali, Fazlur Rahman, Al-Faruqi, Nashr Hamid Abu Zaid, dan
> >Hassan Hanafi. Sisi kiri Salafi ini juga dibombardir dengan tuduhan
> >sesat sejak dulu oleh kaum Wahabi dan "saudara kandung"nya di sisi
> >kanan Salafi.
> >
> >***
> >
> >Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok islamis dan neo-
> >fundamentalis yang memandang Ahmadiyah sesat, maka dimana pola 
fikir
> >penyesatan ini akan berakhir? Ini akan berakhir dalam konflik
> >horizontal ketika satu kelompok mengklaim mereka adalah pengikut
> >Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi-Salafi, karena 
dua
> >kelompok inilah yang mengeksploitasi pendekatan harfiyah terhadap
> >Qur'an-Sunnah dan selalu berkata "di dalam Islam..", "menurut
> >Islam….", "Islam berkata…" sehingga siapa pun yang berbeda pendapat
> >dengan mereka menjadi otomatis berada di luar Islam), sementara 
yang
> >lainnya adalah kelompok sesat atau minimal bid'ah.
> >
> >Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi di Saudi Arabia yang
> >dikeluarkan pada tahun 1991 ( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah 
al-
> >Da'imah li al-Buhuts al-`Ilmiyyah wa al-Ifta' dinyatakan bahwa 
Syaikh
> >Sayyid `Abdul Qadir al-Jailani (pendiri thariqat Qadiriyah yang
> >diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul `Ulama dan juga ulama Islam
> >tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) 
dan
> >Syah Waliyullah Ad-Dihlawi (ulama reformer di India) adalah kafir 
dan
> >musyrik.
> >
> >Para ulama fiqih (sebagian besar mereka juga mufassir Al-Qur'an) 
yang
> >juga dituduh kafir dan sesat oleh pendiri Wahabi (Ibn Abdul Wahhab)
> >sendiri antara lain adalah Fakhruddin ar-Razi (wafat 606H/1210M), 
Abu
> >Sa'id al-Baydhawi (wafat 710H/1310M), Abu Hayyan al-Gharnati (wafat
> >745H/1344M), al-Khazin (wafat 741H/1341M), Muhammad al-Balkhi 
(wafat
> >830H/1426M), Shihabuddin al-Qastalani (w.923/1517M) , Abu Sa'ud al-
> >`Imadi (w. 982H/1574M), dan masih banyak lagi.
> >
> >Dalam logika berfikir penyesatan kelompok lain ini, maka pada
> >akhirnya kelompok sesat dan bid'ah ini tidak hanya Ahmadiyah (perlu
> >diingat bahwa ada tidaknya nabi yang tidak membawa risalah setelah
> >Nabi Muhammad adalah problem khilafiyah dalam filsafat Islam, dan
> >Tasawuf falsafi. Tidak lebih parah dari problem khilafiyah dalam
> >filsafat Islam tentang Tuhan hanya mengetahui yang partikular 
seperti
> >dikatakan Ibnu Rusyd, dan Tuhan mengetahui segala-galanya seperti
> >yang dikatakan Al-Ghazali, atau perkataan Ana al-Haqq oleh Al-
Hallaj,
> >dan para Wali itu lebih utama dari pada para Nabi seperti yang
> >dikatakan oleh Ibnu `Arabi), tetapi terentang mulai dari Islam
> >Syi'ah; pengikut thariqat-thariqat sufi yang hobi zikir dan 
sholawat
> >beraneka macam; ulama nahdliyyin yang masih tabarrukan, ziarah ke
> >kuburan waliyullah, dan mengamalkan talqin dan tawassul; aktivis
> >Jaringan Islam Liberal; pemikir Islam yang mencoba mengaplikasikan
> >gagasan-gagasan rasional filsafat barat ke dalam kajian Islam; 
ulama
> >fiqih madzhab (dengan nalar ushul fiqih tradisionalnya) yang 
mencoba
> >mengkritik gagasan kaum fundamentalis yang selalu berkata "menurut
> >Islam.."; cendekiawan Islam Sunni yang mengadopsi pemikiran Abdul
> >Karim Soroush dan Mohsen Kadivar yang Syi'i, aktivis religius
> >sinkretik yang memadukan zikir naqsyabandi dengan reiki, kundalini
> >dan yoga; …… saya yang menulis artikel ini dan juga Anda yang
> >menyetujui.
> >
> >***
> >
> >Sebelum dikuasai aliansi klan Sa'ud-Wahabi, Kota Makkah-Madinah
> >adalah lokus intelektual dan spiritual Islam paling kaya. Semua
> >representasi Madzhab Fiqih ada di sini. Para Fuqaha Hanafi, Maliki,
> >Syafi'i, Hanbali, Syi'ah Jakfari, Zhahiri dan cabang-cabang di
> >bawahnya menyambut para jamaahnya masing-masing di setiap musim 
haji.
> >Seluruh Thariqat sufi juga memiliki mursyidnya di Mekkah – Madinah.
> >Qadiriyah, Rifa'iyyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syistiyyah,
> >Sammaniyah dan lain sebagainya. Dari Thariqah yang mu'tabarah 
hingga
> >yang ghairu ma'tabarah. Sekarang ini semua tinggal kenangan.
> >
> >Para Ulama Islam tradisionalis yang memiliki keterikatan dengan
> >akumulasi khazanah tradisi pemikiran Islam sebenarnya mirip dengan
> >kaum intelektual Barat yang memiliki keterikatan dengan tradisi
> >pemikiran masa lalu Barat, keterikatan yang malah lebih dalam,
> >koheren, dan integral. Kita bisa melihat dalam tradisi filsafat
> >Barat, dari para pemikir skolastik ke Rene Descartes, David Hume,
> >Immanuel Kant, Hegel, Edmund Husserl, hingga filsuf eksistensialis,
> >adanya dialog filosofis yang masih tetap berlanjut. Kitab-kitab
> >filsafat kuno masih tetap dibaca, sebagian besar istilah teknis 
masih
> >dipakai, bahkan dalam konteksnya yang telah ditransformasikan. Hal
> >ini tidak berbeda dengan para ulama fiqih tradisionalis yang lebih
> >dahulu membuka kitab fiqih Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-
> >Haitami, kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, dan Kitab Ushul Fiqih Al-
> >Mushtasfa karangan Al-Ghazali untuk menjawab masalah kontemporer,
> >ketimbang mencomot satu dua ayat Al-Qur'an, plus hadis, lalu
> >berkata "… menurut Islam, …." dengan semangat kembali kepada Al-
> >Qur'an dan Hadis seperti yang kerap dilakukan kaum Neo-
fundamentalis
> >dan Islamis.
> >
> >Sekarang Madzhab Hanafi telah punah dari Hijaz. Sejak tahun 1925 
para
> >ulama Madzhab Syafi'i dilarang mengimami shalat di Masjidil Haram 
di
> >Makkah. Begitu juga halnya dengan Madzhab Maliki. Seorang ulama 
besar
> >Madzhab Maliki, Sayed Muhammad Alwi Al-Maliki juga dilarang memberi
> >khutbah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah. Padahal
> >lebih dari 1000 tahun secara turun temurun para ulama madzhab 
Maliki
> >menjadi identik dengan Madinah. Sayed Muhammad Alwi Al Maliki 
dituduh
> >oleh Wahabi sebagai seorang sufi, sesat dan murtad. Apalagi Madzhab
> >Syi'ah, di bawah penguasa Wahabi Saudi mereka mengalami 
penghancuran
> >karakter secara sistematis. Thariqat-thariqat Shufi? Mereka semua
> >dianggap sesat, kafir, dan murtad. Yang berhak menyandang nama 
Islam
> >hanyalah Wahabi. Madzab Hanbali dan Ibnu Taimiyah? Itu boleh, 
sebatas
> >masih terakomodasi dalam batas-batas akidah Wahabi. Kitab Majmu'
> >Fatwa karangan Ibnu Taimiyah sendiri pun telah mengalami 
penyuntingan
> >agar sesuai dengan akidah Wahabi, beberapa bab yang tidak sesuai
> >dengan akidah Wahabi, dihilangkan dalam edisi terbitan kitab itu di
> >Saudi Arabia.
> >
> >Pola inilah yang telah dan sedang diekspor oleh Wahabi-Salafi (Neo
> >Fundamentalis- Islamis) melalui agen-agennya ke seluruh dunia.
> >
> >Masihkah kita berdiri menjadi makmum di belakang kelompok ini 
sambil
> >menuding Ahmadiyah sesat, lalu setelah itu kelompok B, C, juga
> >dituding sesat lalu kita sendiri juga dihadapkan pada dua pilihan
> >menjadi Wahabi-Salafi atau menjadi kelompok sesat…
> >
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke