Kriminalitas makin meningkat. Adakah ini karena kehidupan makin sulit?
Harga barang terus membubung tinggi. Biaya operasional meningkat. Beberapa 
asosiasi di Detik.com dikabarkan menolak kenaikan tarif dasar listrik karena 
beban mereka sudah berat akibat berbagai kenaikan barang. Orang juga semakin 
sulit mencari kerja.

Kasus Ryan yang membunuh untuk mendapatkan sepeda motor mungkin bisa dicegah 
jika dia dapat pekerjaan yang layak sehingga dengan gaji itu bukan cuma bisa 
beli motor, tapi juga mobil.

Sulitnya perusahaan beroperasi, sementara perusahaan luar negeri banyak yang 
hengkang akhirnya menimbulkan sulitnya mencari kerja/makan. Adakah akhirnya 
kriminalitas/kejahatan jadi meningkat?

Kapan kenaikan harga2 barang/BBM bisa dihentikan?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/06/01342838/konsumtifisme.memancing.kriminalitas
Konsumtifisme Memancing Kriminalitas
Tren Pembunuhan Meningkat
Rabu, 6 Agustus 2008 | 01:34 WIB

Jakarta, Kompas - Tindak kriminalitas saat ini juga merupakan dampak dari 
gejala konsumtifisme yang menjangkiti masyarakat, di tengah kondisi sosial 
ekonomi yang mengomodifikasikan segala hal. Kondisi ini makin memprihatinkan 
karena tindak kriminal juga cenderung makin impulsif dan ”berkualitas”.

”Gambaran kondisi saat ini adalah segala sesuatu dikomodifikasikan, dikemas, 
dijual. Apapun itu, bahkan juga manusia dan organ-organnya adalah komoditi yang 
punya pasar. Komodifikasi juga mewujud gejala konsumerisme, yang berbuah 
menjadi salah satunya kriminalitas,” papar Sosiolog dari Universitas Indonesia 
Tamrin Amal Tomagola, Senin (5/8).

Tamrin mengatakan, meski kebutuhan ekonomi dasar tetaplah motif sebagian besar 
tindak kriminal, gejala konsumtifisme mempertajam motif itu. Sebab, gaya hidup 
konsumtif memang mempertajam kesenjangan dan menerbitkan kecemburuan sosial di 
kalangan bawah yang hanya bisa menjadi penonton.

Sementara, kecenderungan alami manusia adalah mendapat pengakuan dari 
lingkungannya. Di tengah masyarakat yang materialistik, eksistensi atau 
kesuksesan orang pun diukur dari hal-hal yang bersifat materi, yang tak melulu 
hal yang primer.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal 
Bambang Hendarso Danuri mengatakan kecenderungan motif ekonomi dan budaya 
konsumerisme memang saling bertautan memancing praktik kriminal.

Menurut Bambang, tingginya angka kriminalitas berjenis pencurian (pemberatan) 
turut merefleksikan hal itu. Januari hingga Mei 2008 ini sudah terjadi 21.739 
kasus pencurian di 31 wilayah polda di Indonesia.

Bambang menambahkan, kepolisian juga memberi atensi khusus pada jenis-jenis 
kejahatan yang menimbulkan keresahan orang yang lebih mencekam seperti 
perampokan (dengan kekerasan), perkosaan, dan penculikan. Rasa resah yang 
mencekam lebih kuat karena kerap nyawa menjadi taruhan. Terlebih, 
kecenderungannya kini, jenis kejahatan semakin impulsif. Namun, cukup banyak 
juga yang ”berkualitas”, dilakukan secara terorganisasi dan terencana.

Tren Pembunuhan

Data dari Bareskrim Mabes Polri menunjukkan, pada Januari-Mei 2008, pembunuhan 
di Indonesia secara kuantitas menunjukkan tren meninggi yaitu, sudah mencapai 
559 kasus. Sementara di sepanjang tahun 2007, terjadi 941 pembunuhan. Dengan 
demikian, dalam lima bulan di 2008, jumlah kejadian pembunuhan sudah melampaui 
50 persen jumlah di tahun 2007.

Selain kuantitas yang meninggi, kualitas pembunuhan juga cenderung makin nekat. 
Kepala Direktorat I Keamanan Transnasional Bareskrim Mabes Polri Brigadir 
Jenderal Badrodin Haiti mencontohkan kasus pembunuhan berantai oleh Very Idam 
Henyansyah alias Ryan. Pembunuhan itu meski awalnya seperti dipicu kecemburuan 
pribadi, belakangan mulai terkuak Ryan membunuh juga demi harta secara 
terencana. Namun, harta itu lebih untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup ketimbang 
kebutuhan mendasar yang mendesak.

”Membunuh orang sepertinya makin mudah saja dilakukan. Cepat reaktif lalu 
membunuh. Secara umum, kejahatan juga cenderung makin berkualitas atau serius 
ketika persaingan hidup makin tinggi,” kata Badrodin.

Di Temanggung, Jawa Tengah, pembunuhan misalnya dilakukan oleh seorang ibu 
terhadap anak bayinya. Walsiyem (33), warga Desa Kwarakan, Kecamatan Kaloran, 
Temanggung, memotong kepala bayi yang baru ia lahirkan. Polisi sejauh ini 
memperkirakan perbuatan itu dilatarbelakangi kesulitan ekonomi. Walsiyem dan 
suaminya kerap mengeluhkan soal keuangan dan kesulitan membesarkan ketiga 
anaknya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Carlo Brix Tewu 
mencatat, tahun 2008 ini pemicu pembunuhan memang menunjukkan gejala impulsif. 
”Sejak Januari sampai Agustus ini, motif pembunuhan adalah karena rasa cemburu 
dan tersinggung. Meski demikian, bila diurai ada faktor ekonomi juga,” tutur 
Carlo.

Keluarga Rapuh

Zakarias Poerba, Kriminolog dari Kajian Ilmu Kepolisian UI, menambahkan, 
kejahatan di kota-kota besar juga dipengaruhi rapuhnya sistem paguyuban, 
menguatnya individualisme dan materialisme, rapuhnya keluarga, dan minimnya 
kesempatan berekreasi. Semua ini menyebabkan meningkatnya ketegangan individu 
yang jadi mesiu praktik kriminal.

Badrodin menguatkan, perubahan tatanan sosial yang makin materialistik memang 
menjadi lahan subur bagi kriminalitas. ”Misalnya, seorang remaja ingin 
handphone karena semua temannya punya handphone. Ketika orangtuanya enggak 
mampu membelikannya, ia tertekan dan cari jalan lain yang bisa berujung 
kriminal. Tapi kalau nilai-nilai di keluarganya kuat, itu bisa tercegah,” 
imbuhnya.

Baik Tamrin, Badrodin, dan Zakarias mengatakan, keluarga merupakan jaring 
pengaman pertama merebaknya kriminalitas di masyarakat. ”Sayangnya unit 
keluarga memang makin rapuh sehingga nilai-nilai hidup yang sejati terus 
tereduksi. Sebenarnya, nilai-nilai itu tadi sederhana, 'ambil segala hal 
secukupnya dan berbagi dengan sesama',” ujar Tamrin.(SF/WIN/EGI)


===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      

Kirim email ke