--- In [email protected], "A. Marconi" <a.marc...@...> wrote:
>
> KOMENTAR:
> 
> Assalammu'alaikum wr wb,
> 
> Semenjak RI memiliki aparat eksekutif yang mengelola negara secara 
> administratif, memang gejala korupsi dan tindak korupsi sudah terjadi. Pada 
> permulaan berdirrinya RI mewarisi aparat administrasi dari kekuasaan kolonial 
> kaum milter Jepang di mana korupsi lumrah. Bentuknya macam-macam, apalagi 
> pada zaman kolonialisasi Jepang pemerintah kolonial merampas semua bahan 
> kebutuhan hidup utama Bangsa Indonesia demi logistik perang Jepang. 
> 
> Usaha pemberantasan korupsi dengan segala undang-undang dan peraturan 
> pemerintah yang pernah ada sesungguhnya hanyalah ekspresi moral dan etika 
> hidup para elite penguasa dan kroninya yang tidak pernah dilaksanakan secara 
> konskwen. Jadi jika SBY bersuara dan bertindak bertentangan dengan 
> janji-janji yang pernah disumpahkan adalah suatu kewajaran seorang Jendral 
> Purnawirawan yang masih terikat sapta marganya dan kesetiaan korps. 
> 
> Yang menjadi pertanyaan Rakyat awam adalah bagaimana dapat mengatasi 
> kelaparan, kenggombalan sandang, kebutahurufan dan sekedar teempat berteduh 
> diwaktu musim hujan. Dengan cara bagaimana 230 juta penduduk Indonesia harus 
> disediakan makanan, pakaian, tempat berteduh cukup. Apakah dengan cara 
> membangun suatu sistim kapitalis modern model USA, sosialisme a'la RRT, 
> kesejahteraan sosial Eropa Barat dan Skandinavia atau sistim "Islam" 
> negara-negara Arab atau bahkan semacam sistim "demokrasi" India? 
>---------


Yang menjadi pertanyaan juga, adalah, mengapa pelaku korupsi dan yang tak mampu 
mengelola pemerintahan adalah dari kelompok agama mayoritas, yang menimbulkan 
pertanyaan baru, dampak dampak agama bagi nation buliding?




Kirim email ke