salam Pramuka
saya sangat setuju dengan kak hendro soal kiasan dasar pakaian pramuka, namun
penting juga untuk mengakomodir keinginan agar baju pramuka itu ngak panas
sekali kalo kita melakukan kegiatan dilapangan... mungkin siasatnya
dengan bahan baju yang lebih mudah menyerap keringat....
selanjutnya juga agar tanda-tanda/lencana dalam bentuk bahan kain sehingga
memudahkan untuk bergerak di lapangan... gimana ?
atau memang setelah diberitahukan oleh kak hendro masih ada keinginan berubah
warna...
saya sich berpendapat semua seragam itu baik, lebih baik lagi kalo jiwanya
yang lebih baik
nah kalo seragam penggalang, penegak dan pendega sampai dengan pembina masih
sama modelnya... masih menarik apa ngak yach?
regard
deden
rimata66 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam Pramuka,
Apa yang salah dengan seragam Pramuka ? Dari model, kalau kita
bandingkan dengan berbagai NSO yang lain maka seragam pandu itu ya
modelnya memang mirip, mengadopsi seragam tentara. Ga apa-apa,
asal "jiwa"nya jiwa Pandu. Model ini dari dulu hingga kini ya
seperti itu.
Warna ? Kalau warna mau diubah maka kita harus kembali lagi ke
Kiasan Dasar. Ada kaitan langsung tak langsung dengan kiasan dasar
yang juga mewarnai pilihan warna. Warna tanah Indonesia yang
diperjuangkan kita dari masa ke masa yang melekat pada kias Sejarah
Perjuangan Bangsa yang menjadi rohnya Kiasan Dasar. Kiasan dasar
Gerakan Pramuka itu khas karena tidak kita temui di negara lain. Apa
konsekuensi mengubah warna dengan kiasan dasar ?
Pilihan warna memang selera pribadi. Saya sendiri lebih suka dengan
warna khaki. Saya pribadi sangat interested dengan seragam pandu
Thailand. Klasik, tapi tetap tampil elegan.
Apakah warna mencolok akan membuat kaum muda tertarik ? Kalau warna
yang menarik mungkin seragam Pengakap warnanya paling cerah walau
birunya lebih berwarna nuansa laut dan di hutan/gunung buat saya
tidak nyambung.
Saya kok berpendapat bahwa bukan soal model dan warna yang bikin
tampilan Pramuka tidak menarik tapi suasananya. Atau mungkin pilihan
bahan yang dipakai.
Belakangan ini bahan seragam kebanyakan menggunakan bahan kain untuk
celana pria, macam rapillo dsb. Memang untuk penampilan, jatuhnya
jadi bagus. Seingat saya, Pramuka mulai sangat memperhatikan
penampilan setelah pertengahan tahun 80-an. Pramuka jadi punya
kebutuhan untuk tampil bagus dan dapat diperbandingkan dengan
organisasi remaja sebayanya misal Paskibra.
Tapi seragam dengan bahan ini punya kelemahan. Bahannya tidak nyaman
dipakai, panas. Dan konsekuensinya jadi tidak pas dipakai ketika
kita betul-betul melakukan kegiatan di alam terbuka. Apalagi lencana
kita yang sangat dominan menggunakan logam, yang mudah jatuh bila
kualitas penitinya buruk, membuat makin tidak kena sebagai seragam
seorang pencinta kegiatan alam terbuka. Kesan militeristiknya jadi
kuat.
Tahun 70-an ketika saya baru jadi Pramuka, bahan seragamnya lebih
menarik. Saya paling suka warna yang banyak dipakai di akhir 70-an
awal 80an di Bandung yang agak kehijauan.
Terlepas dari itu memang kalau pakai seragam Pramuka kesannya jadi
formal sekali. Dengan makin banyaknya birokrat jadi Pramuka maka
kultur itu jadi makin kuat. Suasana di Kwartir-kwartir menjadi
sangat formal, bukan lagi markasnya Pandu/Pramuka. Saya saja ketika
baru jadi Wakil Ketua Kwarcab jadi risi karena perlakuan protokoler
pada saya kok jadi seperti pada pejabat pemerintah ? Untungnya
sekarang sudah mulai cair kembali ....
Jadi bukan seragamnya yang harus berubah tapi orang-orangnya yang
harus beruba.
Jangan jadi Pandu salon, yang cuma muncul di upacara-upacara saja
(ingat warning ini sudah ditulis BP tahun 1922 di buku Rovering to
Success). Pakaian PDUB yang baru muncul makin memperjelas potret
pandu-pandu salon.
Semoga saya tidak menjadi menggurui.
Punten ah.
Hendro Prakoso
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]