Salam Pramuka,

Hal semacam ini pernah direspon oleh Kwarcab Kota Bandung dengan 
membuat dua golongan peserta lomba, gampangnya sebut saja Golongan A 
Penggalang SMP dan B Penggalang SD. Ini pernah diadopsi juga oleh 
Kwartir Daerah Jawa Barat. walau tak berlanjut juga diterapkan di 
tingkat nasional. Memang sulit ya penggalang yang cilik-cilik dengan 
raksasa umur 15 tahun-an, mana mungkin diadu.

Namun persoalannya bukan itu. Belakangan ini di banyak LT, yang 
terjadi bukan Penggalang cilik yang ikut LT tapi siaga ikut LT. 
Ketika usianya dicek ternyata mereka berusia 10 tahun kurang. Jadi 
sebenarnya masih siaga.

Sekarang Pramuka mainnya sistem kelas bukan penggolongan usia. 
Pokoknya kelas 4 SD Penggalang. Umurnya berapa tidak penting. Dan di 
banyak sekolah yang mem-pramuka-kan siswanya umumnya latihan memang 
dimulai dari kelas 4 dengan materi kepenggalangan.

Tidak ada yang menggarap usia yang lebih muda karena merasa membina 
siaga itu sulit.

Penggalang-penggalang-an (=penggalang bohongan) ini pada akhirnya 
telah banyak menerima materi pembinaan Kepengalangan hingga mereka 
lulus SD. Ketika masuk SMP, mereka jadi malas Pramuka karena mereka 
sudah mengalami kegiatan tersebut dan akibatnya memilih kegiatan 
ekstra yang lain. Dampaknya anggota di gudep pangkalan SMP merosot 
drastis dan karena sedikit, pembinanya tidak mampu mengemabngkan 
kegiatan yang menarik dan makin banyak yang meninggalkan Gerakan 
Pramuka. Jumlah yang tinggal sedikit ini hanya sebagian kecil yang 
masih meneruskan jadi Penegak.

Jadi siapakah sebenarnya yang menghancurkan Gerakan kita ?
Dan kenapa ini dibiarkan terus ????

Hendro Praksoo



Kirim email ke