Kalo pake kacamatanya uplik, ibu-ibu di bawah itu lagi 
menjalankan tugas yaitu, menunjukkan keprihatinan. 

Begitulah para bawel yang (katanya) hidup di negeri makmur. 
Mereka merasa sudah bekerja keras & berjasa besar hanya dengan 
menunjukkan keprihatinan. 

Udah nggak ada bedanya mereka sama SBY, bolak-balik prihatin 
tanpa bikin perbaikan apapun. Cuma prihatin doang, nggak lebih 
nggak kurang. 

--- "arra_s" <arra_s@...> wrote:
> 
> tumben, isi nya cuman ngomel, mirip omelan ibu ibu di pasar...
> 
> --- "muskitawati" <muskitawati@...> wrote:
> > 
> > > "Sunny" <ambon@...> wrote:
> > > Refl: Air adalah kebutuhan utama
> > > manusia. Tanpa air manusia cepat
> > > mati dicekik malaekat Jibrail.
> > > Kalau 80% air dikuasai perusahaan
> > > (modal) asing, lantas apa yang
> > > harus dibuat? Bukankah yang
> > > mengizinkan asing memiliki 80%
> > > tsb adalah wakil-wakil yang dipilih
> > > oleh rakyat, jadi rakyat jangan
> > > bersunggut bila air mahal harganya.
> > 
> > Lalu bagaimana baiknya yang seharusnya???  Kalo memang begitu 
> > keputusan wakil2 rakyat tentunya itu sudah maximal berdasarkan 
> > pengalaman bangsa ini belajar dari Bung Karno.  Tawar menawar 
> > dengan pihak asing mula2 diminta agar 100% modal asing 
> > diinvestasi disini.  Tetapi pihak asing juga punya banyak 
> > pengalaman dengan bangsa disini, mereka menolak dan mengajukan 
> > agar 90% saja modal negara RI dan sisanya 10% saja modal asing. 
> > Mereka takut kalo terlalu banyak modal disini kemudian 
> > dinasionalisasi tentunya mencret modal mereka.
> > 
> > Lain lagi di Arab Saudia dimana semua mata air sudah kering, 
> > mula2 sang Raja ingin 100% modal kerajaan, tentu pihak asing 
> > gembira.  Belakangan hitung punya hitung costnya terlalu mahal 
> > karena biaya maintenancenya bisa keluar 80% dari modal.  Setelah 
> > hitung punya hitung disetujui agar pihak kerajaan bersaham 10% 
> > saja sedangkan 90% modal Amerika.  Akhirnya pihak Amerika 
> > bersedia juga mengirimkan peralatan paling mahal dan paling 
> > canggih didunia menyuling air laut yang asin menjadi air tawar 
> > yang oleh kerajaan kemudian dijual mahal kepada jemaah haji 
> > diseluruh dunia sebagai air sumber zamzam.
> > 
> > Jadi memang masalah air merupakan kebutuhan umat manusia, kalo 
> > mau air gratis silahkan minum air comberan atau air laut karena 
> > teknologi menciptakan air bersih yang murah tidak dimiliki negara 
> > yang cuma mendidik rakyatnya shalat bukan teknologi.  
> > Kesalahannya adalah terlalu banyak jumlah manusianya, dan 
> > celakanya manusianya yang begitu banyak itu tidak bermutu, semua 
> > sumber air sudah kering, sehingga satu2nya jalan yang masih 
> > mungkin adalah teknologi asing yang tentunya enggak bisa gratis 
> > meskipun sumber air yang dijernihkannya berasal dari Indonesia.
> > 
> > Sama saja enggak bisa memaksa pihak asing memberikan teknologi 
> > memproduksi vaksin flu burung meskipun virusnya dari Indonesia.  
> > Demikianlah akhirnya MenKes yang Islami itu dicopot dan diganti 
> > menteri sekarang yang lebih pandai berdialog dengan pihak asing.
> > 
> > Jadi anda janganlah terlalu cerewet, meskipun modal asing 80% 
> > tentu sudah sangat sangat beruntung nasib anda kalo dibandingkan 
> > dengan nasib sesama umat, sesama muslimin yang tinggal di Gaza 
> > dimana meskipun pahala gampang didapat karena banyak Yahudi yang 
> > bisa anda bunuh untuk mendapatkan pahala tsb. namun air minumnya 
> > tercampur tinja, dan kotoran2 lain sehingga mati sakit tanpa bisa 
> > berkesempatan berjihad mati sebagai syuhada.
> > 
> > Memusuhi orang kafir menjadi susah sendiri kalo diboikot air 
> > bersihnya, sehingga mau berperang pun batal, wudhu jadi batal, 
> > dan shalatnya ditolak Allah... semuanya cuma gara2 air saja.
> > 
> > Ny. Muslim binti Muskitawati.
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke