--- "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> >
> > Maju enggaknya masyarakat nggak bisa diukur dari ruang 
> > (dibandingkan dengan negara lain) dan waktu (masa lalu/depan), 
> > tapi dari kemampuannya mengatasi masalah-masalahnya sendiri. 
> > Sudah berdikarikah dia atau masih berdiri di kaki orang lain 
> > (dititah-titah macam balita belajar jalan). 
> 
> kemajuan dan kesejahteraan negara tentu saja diliat dari 
> performance nya dulu dan sekarang karena variabel hitungannya tetap 
> sama, seperti gdp, fdi, cadangan devisa, expor-import, bukannya 
> membandingkan dengan negara lain. 

Kemajuan suatu bangsa memang nggak bisa dibandingkan 
dengan bangsa / negara lain, tapi diukur dari kemampuannya 
mengatasi masalah yang dihadapi. 

Sekedar contoh, kalau sopir gua (si bleki :) mengganti nopol 
mobil majikannya dengan nopol palsu apakah polisi juga akan membiarkan 
pelanggaran si bleki seperti mereka membiarkan 
pelanggaran si Anas Urba? 

Kalau iya (membiarkan) berarti polisi memang tegas menegakkan 'kesetaraan' 
orang di depan hukum. Hukum telah berlaku untuk 
semua orang dan bukan cuma boleh dinikmati ketua partai seorang. 
Selanjutnya, mari kita rame-rame tukar nopol kendaraan masing-
masing dengan nopol palsu, dan lihat akibatnya terhadap pajak kendaraan, 
jual-beli kendaraan dst. 

Kalau urusan nopol palsu ini polisi bersikap diskriminatif, 
tentu urusan-urusan lain pun ada yang dipermudah dan banyak 
yang dipersulit. Urusan-urusan masyarakat menjadi tidak lancar 
karena masalah-masalah yang ada tak kunjung diatasi. 

Pada skala perorangan misalnya, bagaimana mungkin si uplik 
dikata maju sedangkan dia terus kuwalahan mengatasi masalah-
masalahnya. Coba, apa upayanya untuk mengatasi kepalanya 
yang berketombe & mulutnya berbakteri? Nggak ada selain membuat masalah baru 
dengan mengutuki orang-orang yang kasih nasehat. 

Atau, taruhlah performa statistik si uplik, baik GDP maupun 
tabungan pensiunnya teraduhai di dunia. Lalu, dengan onggokan 
problem pribadi yang bikin dia sibuk mengutuki semua orang 
yang lewat, apa bisa dia disebut maju? Jelas enggak. 

Jadi, performa statistik perlu juga bandingkan dengan tampilan 
sehari-hari, baik itu masyarakat maupun individu. 


> 
> kalo analoginya dari berdikari seperti balita yang ditatih sih 
> nggak relevan karena balita itu ada pelindungnya dan dapet support 
> abis dari ortu. 

Balita pemula nggak ada yang berdikari, dan faktanya memang ada 
kan yang 'umur jigo kelakuan nol'.. 


> 
> negara indonesia tidak mungkin bisa memenuhi semua kebutuhannya 
> sendiri, seperti jargonnya soekarno.  apalagi, sekarang ini jaman 
> globalisasi, tambah nggak mungkin untuk bisa memenuhi kebutuhannya 
> sendiri. 

Kenapa enggak? 

Di pedesaan / pedalaman Indonesia masih banyak masyarakat 
yang memenuhi sendiri semua kebutuhannya. Persoalannya lebih 
terletak pada tingkat kebutuhan. Tingkat kebutuhan di pedesaan 
& perkotaan pasti berbeda. Di perkotaan nggak bisa enggak 
kebutuhan akan terkait dengan teknologi tinggi sebagai akibat / 
konsekuensi pergaulan internasional. 

Sedangkan yang dimaksud Soekarno tentu saja seiring perkembangan jaman kita 
harus juga memenuhi sendiri kebutuhan akan teknologi 
tersebut. 

Indonesia punya peluang untuk itu. Sebab, hampir nggak ada 
teknologi yang bahan mentahnya kita nggak punya. Semua ada. 
Tinggal, bagaimana mengolah semua bahan mentah itu menjadi 
barang-barang yang kita butuhkan. 

Singkatnya, berdikari yang kita mau (bukan cuma maunya Soekarno) adalah, 
Indonesia harus memproduksi & memenuhi semaksimal mungkin kebutuhan sendiri, 
dan tidak melulu berperan sebagai konsumen / 
pasar bagi negara lain -- yang justru rame-rame mengeruk bahan 
mentah dari tanahair Indonesia. Pemenuhan kebutuhan dengan memproduk 
sendiri termasuk bagian dari mengatasi masalah-masalah. 


> 
> kecuali kalo kata 'berdikari' diartikan sebagai kehormatan bangsa, 
> seperti sejak presiden soeharto sampe presiden sekarang selalu 
> nunduk2 ke amerika dan diatur sama amerka.  dalam hal ini. 
> indonesia memang belum berdikari. 

Siapa yang nggak geli waktu pesawat produk IPTN dibarter 
beras ketan dengan Muangthai? Banyak juga yang ngakak, kan? 

Tapi ketika sistem barter ini dikembangkan ke luar AsTeng 
(sampai ke Timur Jauh bahkan Afrika) mulai terasa ada sesuatu 
yang tersembunyi. Yaitu "kemarahan" Soeharto kepada AS sejak 
pos dubes di JKT dibiarkan kosong terlalu lama, sebelum akhirnya 
dikirim Wolfowitz. Ditambah dengan berulang-ulang dia bicara 
keuntungan menjual 1 pesawat dibanding menjual puluhan mobil, 
yang disebutnya "bisa untuk mempercepat pelunasan utang", kita 
boleh curiga saat itu Soeharto sedang melakukan pembangkangan 
terhadap tukang kredit internasional. 

Sialnya, peluang Indonesia untuk mempercepat pelunasan utang itu 
dihalangi secara kasar, yaitu dengan tidak dikeluarkannya 
sertifikat dari FAA (sekalipun beberapa ahlinya secara pribadi 
mengakui produk IPTN -terutama CN235- adalah yang terbaik di 
kelasnya). Sehingga produk IPTN tidak dapat tempat di pasaran. 
Penghalangan ini jelas berbau politis ketimbang teknologi. 

Memang menyakitkan. Tapi nggak menghalangi Soeharto untuk tetap 
cengengesan dan mengambil langkah politis juga yang sangat berani: 
barter! Bagi yang ngerti politik-ekonomi pasti ngerti apa yang 
dilakukan Soeharto adalah penggalangan dunia III menghadapi para 
kapitalis internasional. 

Artinya, si sontoloyo Soeharto bukan cuma mencoba berdikari dengan 
menegakkan harga diri, tapi juga dengan memproduksi barang. 

Coba, apa kerja presiden yang sekarang untuk harga diri & produk 
dalam negeri. 





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke