hehehe. .   

lebih edan lagi, ada manusia macam yang di leidwn aana sama manisua item kelam 
yang jualan sesuatu di sini bahkan belasan tahun. . .  hanya untuk 
mempertahankan diri supaya tetep dapet tunjangan gembel.

yang dijual adalah kebencian, cacian, makian,hinaan. . . dan yang membeli 
postingan uplik, hadiah nya adalah . . . jeruji besi. hidup di balik penjara 
kayak alex aan.

kembali ke leptop.

nama kita di kampung petar adalah "merk". dan . . . kalau bagi kang sur . . . 
saat ada merk "uplik" dalam sebuah posting, maka sudah pasti automatic delete. 
tak perlu dihiraukan. postingan uplik tak penting untuk dibaca. tidak nambah 
cerdas, tak ada manfaat, dan cuman muter muter di seputar itu itu aja. sampah.

beda ketika "merk" johny muncul di posting . . . saya suka nge klik untuk 
menikmati tulisan johny yang seringkali bikin saya ngakak. seger. cerdas. dan 
ada manfaat nya.

pencitraan itu tidak hanya dibutuhkan untuk merk minuman ringan, celana jeans 
atau rokok putih. pencitraan itu juga akhirnya melekat pada diri kita sendiri.

inget rokok, inget marlboro.
inget pasta gigi, inget pepsoden.
inget anjing. . . apa itu anjing . . . jadi inget aama uplik.
inget pantat. . . apa itu pantat. . . inget item ireng.
inget camry inget habe
inget pisang molen, inget sama. . . arra.

hehe

--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Itu masalah klasik jual-beli. Lebih serius lagi, 
> itu persoalan manusiawi. 
> 
> Bagaimana pun, kehidupan manusia memang lebih banyak 
> kepinginnya ketimbang kebutuhan pokoknya. Orang Indonesia 
> malah pernah merumuskan cuma 9 bako, bahan pokok. So, 
> di mata pemodal, setiap keinginan konsumen harus dilihat 
> sebagai uang, uang, dan do it.. 
> 
> Maka teknik menjual pun tidak cukup lagi cuma dengan 
> ngelotok bicara a-z nya produk. Harus sedikit "genit" untuk 
> membuat rasa kepingin tambah menggebu. Bila perlu, ngegombal. 
> Supaya orang yang tidak kepingin pun akhirnya beli juga 
> barang sebiji. Dan orang seperti ini ada ratusan juta biji 
> di muka bumi. 
> 
> Jelas & gamblang bahwa tuntutan keinginan konsumen adalah 
> potensi keuntungan yang lebih besar dibanding desakan 
> kebutuhan. Tanpa keuntungan "sampingan" ini jangan harap 
> usaha bisa selamat, gitu kata orang bisnis sekarang. 
> Walhasil, pemenuhan keinginan konsumen inilah yang kemudian 
> dilekatkan pada merk.
> 
> Dari sisi branding, ternyata teori marketing apapun nggak 
> bakal jalan jika suatu merk kosong-melompong tanpa filosofi. 
> Pembeli sudah semakin cerdas dalam beradu argumentasi dengan 
> sales bahkan direktur marketing sekalipun. 
> 
> Tentu saja pedagang nggak mau kalah. Sebab, kalah berarti 
> bukan pedagang.. :) 
> 
> Bangkitnya kesadaran berfilosofi ini mengubah kiblat penjualan. 
> Sejak akhir '80an, kita saksikan bahwa merk bukan lagi tentang 
> produk atau bicara keinginan konsumen, tapi pencitraan. 
> 
> Di masa itu, sampai sekarang, setiap produsen memastikan 
> logo perusahaannya "berbunyi". Berfilosofi tentang sesuatu. Mencitrakan 
> sesuatu yang hebat. Yang terkait dengan budaya, 
> gaya hidup, simbol status. 
> 
> Logo bukan lagi sekedar simbol produk, kualitas layanan, 
> maupun bekennya kumpeni. Logo langsung dihunjamkan ke benak 
> masyarakat sebagai simbol kualitas pemakainya.. kualitas si 
> konsumen.. kualitas kita. Singkatnya, "Kita (konsumen) 
> adalah kualitas (logo) itu sendiri". Dan itu terbukti dengan 
> banyaknya konsumen yang fanatik pada merk tertentu. Seolah 
> produk apa pun dari merk itu wajib dia beli. 
> 
> Anehnya, jauh sebelum akademisi & praktisi pemasaran mikir 
> prinsip modern ini, para jawara di Betawi sudah pada fasih 
> dengan kredo, "lu jual, gua beli!" :) 
> 
> Cilakaknya, di balik logo yang mencitrakan aneka status itu, 
> masih ada jutaan manusia yang tetap berkutat memenuhi kebutuhan 
> sehari-hari dengan menjual tenaga sebagai buruh di pabrik-pabrik 
> pencetak simbol status... 
> 
> nyangklong deui.. 
> aroma vanila 
> 
> 
> --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@> wrote:
> 
> > dari sudut pandang marketing, jualan sesuatu yang diinginkan 
> > konsumen biaaanya lebih menguntungkan dibandingkan dengan jualan 
> > produk yang dibutuhkan konsumen. apalagi jika need dengan want itu 
> > digabung jadi satu. misalnya : orang butuh makan, orang ingin 
> > santai, maka makan sebagai kebutuhan diyambah dengan santai aebagai 
> > keinginan = rumah makan saung kuring. makan dengan atmosfir 
> > pwdesaan lengkap dengan suara seruling plus gemericik air. .   
> > santai nya dapet, nasi nya dapet, tentu saja bill nya juga lain :)
> > 
> > produk elektronik karaoke, itu juga bukan kebutuhan. tapi merupakan 
> > produk yang dibuat untuk memenuhi keinginan. tidak karokean tentu 
> > saja todak akan membuat kita lemes seperti tidak makan, namun . . . 
> > inul daratista yang menjual jasa tempat karaoke keluarga . . . 
> > jelas mendapatkan banyak uang dibanding pak aalim yang jualan 
> > kebutuhan pokok di pasar induk. inul memuaskan keinginan. pak salim 
> > hanya menjual kebutuhan pokok.
> > 
> > dalam sesi sesi training, saya sering bilang :"produk nya sama sama 
> > kopi . . . kita diberi pilihan . . . mau jualan biji kopi ber ton 
> > ton . . . mau jualan kopi schet . . . mau jualan kopi 2.500 rupiah 
> > per gelas . . . atau mau jualan kopi 100 ribu 1 gelas?  kalau mau 
> > jualan 2.500 rupiah per gelas, buka wartek. kalau mau jualan 100 
> > ewbu segelas ya buka sejenis starbuck.
> > 
> > orang punya need dan want.
> > 
> > dan sebagai penjualan, saya berusaha memenuhi need dan want 
> > cusromer saya. karena saya tahu, yang harus dipenuhi bukan hanya 
> > need nya aja. tapi juga want.
> > 
> > camry nya habe tentu saja sama dengan kijang tua versi item. sama 
> > sama mobil. dan . . . kenapa sensei mau mengeluarkan duit ratusan 
> > kali lipat lebih mahal (padahal sama sama mobil! ) karena si 
> > konsumen camry tidak sekedar butuh mobil. namun juga ingin lebih 
> > nyaman. . . ingin lebih aman. . . ingin. . . ac nya lebih dingin. . 
> > . dan bagi beberapa orang, kenyamanan, keamanan, dan prestige dari 
> > sebuah mobil bukan hanya sekedar keinginan, namun audah menjadi 
> > kebutuhan.
> > 
> > bagi si item abu jelek, toyota kihang itu adalah sebuah kemewahan. 
> > bagi sopir angkot cicaheum ledeng, kijang adalah kebutuhan. alat 
> > untuk mencari mafkah sebagai : sopir.
> > 
> > udud heula ah 
> > 
> > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> > 
> > > Lucu memang kalau ketemu penjual yang tidak lagi 
> > > menghormati pembeli sebagai raja. 
> > > 
> > > Lebih lucu lagi, dunia perniagaan sekarang selain 
> > > menjual barang (dan jasa) juga berjual-beli uang. 
> > > Tambah lucu, setelah uang jadi mata dagangan, 
> > > selanjutnya giliran pelayanan ikut dijadikan jualan. 
> > > 
> > > Ya, jualan. Karena layanan diperlakukan bukan sebagai 
> > > pelaksanaan kredo "pembeli adalah raja" tapi 
> > > sebagai strategi mendongkrak penjualan. Biaya untuk 
> > > melatih sales tampil menarik, merendahkan suara dan 
> > > tetap senyum kendati ada pelanggan protes, dibebankan 
> > > ke harga barang. 
> > > 
> > > Setelah hasil penjualan dengan layanan profesional ini 
> > > mencapai titik jenuh, giliran merk diutak-atik 
> > > menjadi strategi baru. Dan, hampir 30 tahun ini merk 
> > > jauh lebih penting dari barang yang dijual. 
> > > 
> > > Kenapa begitu? Karena pada tahap ini merk bukan lagi 
> > > sekedar penanda barang dan kualitas layanan, tapi memberi 
> > > pengaruh pada gaya hidup, penampilan, budaya, bahkan 
> > > status sosial konsumen. 
> > > 
> > > Pemakai merk produk olahraga misalnya, akan terlihat 
> > > sebagai orang yang bergaya hidup sehat. Bahwa dia cuma 
> > > kuat jogging satu putaran lapangan bola, itu soal lain. 
> > > 
> > > Begitu juga merk desainer kondang, bisa menunjukkan si 
> > > pemakai adalah orang yang memperhatikan penampilan.
> > > Lalu, merk tempat nongkrong, bisa mengesankan dia berbudaya 
> > > dugem, penikmat kopi sejati, maupun pelahap racikan resep 
> > > kelas dunia. 
> > > 
> > > Selain itu, kombinasi merk sepatu, kendaraan, sampai 
> > > perumahan, bisa menjadi penanda status sosialnya. 
> > > Singkat kata, merk sudah menjelma menjadi simbol status 
> > > pemakainya. Dan, tentu saja ada harga yang harus dibayar 
> > > untuk semua itu. 
> > > 
> > > Nggak masalah samasekali selama kita butuh barangnya, 
> > > bukan kepingin merknya. 
> > > 
> > > Yang perlu diwaspadai dari jualan simbol status ini ya 
> > > jangan sampai membeli sesuatu yang kita tidak butuh. 
> > > Sebab, itu sama saja kita kasih uang dengan percuma ke 
> > > para pemilik merk yang kaya-raya itu. Menggarami laut. 
> > > 
> > > http://www.youtube.com/watch_popup?v=um0IViziU9w&vq=large
> > > 
> > > 
> > > --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@> wrote:
> > > 
> > > > service not product.
> > > > itu satu prinsip yang saya pahami dalam marketing.
> > > > 
> > > > berikutnya adalah :"brand, not product"
> > > > 
> > > > setelah dibuat bete oleh pelayanan mini market starmart di reat 
> > > > area, detik ini, saat saya nge prol, saya lagi bawa anak anak 
> > > > makan di papa rons pizza.
> > > > 
> > > > brand, not product. orang beli marlboro, bukan beli rokok. beli 
> > > > levis, bukan beli celana jeans, beli pepsodent, bukan beli 
> > > > pasta gigi, beli papa rons, bukan beli pizza, johny beli toyota 
> > > > baru, bukan beli mobil.
> > > > 
> > > > proletar tidak hanya bisa memberi dampak seseorang seperti  
> > > > johny jadi tertarik membeli apartemen, namun juga bisa jadi  
> > > > sosial media yang ampuh untuk meningkatkan pelayanan yang baik 
> > > > bagi para pelaku bisnis.
> > > > 
> > > > pengalaman yang buruk saat saya berkunjung ke mini market  
> > > > starmart, cerita tentang pisang molen kartika sari yang menarik 
> > > > hati, atau betapa menggoda nya sambel jawa bagi habe, itu bisa 
> > > > memberi dampak ataa tingkah laku manusia si dunia nyata. sama 
> > > > seperti bagaimana uplik bisa memenjarakan alex aan padahal 
> > > > uplik ada di belanda dan alex aan ada di padang.
> > > > 
> > > > ini tahun 2013.
> > > > ini jaman tekhnologi informasi.
> > > > 
> > > > dan pengalaman buruk seseorang di berbagai perusahaan jasa akan 
> > > > dengan sangat mudah di upload di social media dan dibaca oleh 
> > > > sekian banyak pembaca.
> > > > 
> > > > kalau harga merk coca-cola bisa bernilai juta juta dollar . . . 
> > > > 
> > > > kira - kira . . . berapa nilai waralaba sebuah minimarket yang 
> > > > tidak mempedulikan senyum, salam, dan sapa ? 
> > > > 
> > > > tak ada nilai.
> > > > 
> > > > bukan pilihan.investaai yang bagus.
> > > > 
> > > > kecuali mereka cepat memperbaiki diri dengan diantaranya  
> > > > membuat sistem.pelatihan yang baik bagi para karyawannya agar 
> > > > memahami bahwa yang dibeli konsumen itu bukan semata mata  
> > > > produk. namun service. merk.
> > > >
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke