Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam agama apapun doktrin dasarnya adalah 'percaya'. Bukan lain-lain. Bukan evidence sama sekali. Yang pada gilirannya akan menghasilkan ignorance, bahkan ketika evidence yang mendukung apa yang mereka 'percaya'-i itu sudah bertumpuk-tumpuk.
Untuk tambahan, sebagian penyembah Yesus memang mungkin sudah lebih manusiawi dalam menghadapi perbedaan. Dalam cakupan praktikal bisa diterima. Tapi untuk pemikiran yang lebih jauh, gua kagak setuju. Misalnya kalau ngeliat keberadaan agama (apapun itu) dari sisi filosofis atau kejiwaan. Agama itu bagian dari kekerasan dan penindasan struktural yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Dan lebih dari itu, agama adalah penyakit. Yang namanya penyakit, walaupun nikmat, tetep aja penyakit. camarmerah --- In [email protected], "utusan.allah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > kalau nggak ketemu juga > mereka akan berani, saya yakin, melihat kenyataan bahwa Yesus itu fiktif. ------------------------------------ Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
