Freeport Bukanlah Milik RI Karena Irian Adalah Tanah Jajahan !!!
Irian Barat bukanlah wilayah RI tapi wilayah kerajaan Belanda, tetapi Sukarno
berhasil mendapatkan dukungan dari Amerika yang menekan Belanda untuk
memberikan Irian Barat menjadi wilayah RI tentunya dibawah perjanjian2
Internasional HAM dalam menghormati dan melindungi hak milik pribadi, hak milik
perusahaan, maupun milik usaha swasta asing.
Setelah berhasil menganeksasi Irian Barat, maka wilayah ini resmi diserahkan
dari penjajah Belanda kepada penjajah Indonesia.
Sukarno jadi kepala besar, jadi Megalomania, berhasil menjajah Irian Barat lalu
mau merebut Malaysia untuk kemudian merebut Timor Timur. Untuk tujuan itu dia
melanggar semua perjanjian Internasional dengan keluar dari UN dan selanjutnya
dia merampas semua tanah2 milik pribadi orang2 Belanda, menasionalisasi semua
perusahaan2 milik Asing seperti sepatu Bata milik pengusaha Cekoslovakia,
perusahaan Shell milik Inggris, perusahaan BPM milik Belanda, bahkan juga
pabrik Gula milik keturunan Cina Indonesia Oey Tiong Ham Concern. Termasuk
juga pabrik lampu Phillips milik Belanda.
Disamping merampok, merampas, dan menjarahi ratusan perusahaan2 asing, Sukarno
juga melakukan hal yang sama kepada ribuan pengusaha bangsanya sendiri terutama
milik keturunan Cina-nya.
BPM dan Shell milik Belanda dan Inggris diganti nama jadi Pertamina.
Pabrik lampu Phillips diganti nama menjadi pabrik RALIN.
NV. Oey Tiong Ham Concern diganti nama jadi Rajawali Nusindo.
Tanah dan Rumah pribadi orang2 Belanda jadi "Eighendom" pemerintah RI.
Tanah milik pak Marhaen yang kecil dan miskin dirampas juga dan diganti namanya
jadi "Marhaenisme" untuk dijadikan ideologi bangsa perampok.
> item abu <itemabu@...> wrote:
> Freeport itu nyolong emas secara
> besar2an selama puluhan thn.
> Anehnya, ga pernah diusut. Apa
> pemerintah NKRI itu begitu
> dungunya?
Jauh sebelum RI terbentuk, jauh sebelum Irian Barat dicaplok Sukarno menjadi
wilayah Indonesia, Freeport itu sudah menjadi tanah milik perusahaan2 Belanda
yang kemudian dijual ke pengusaha Amerika.
Jadi Freeport itu sudah ada sebelum ada RI.
Yang anda harus pahami adalah proses terbentuknya RI dan proses diakuinya RI
ini yang melalui berbagai perundingan yang isinya untuk melindungi hak milik
swasta dan pribadi diwilayah yang akan dibentuk sebuah negara baru. Jadi
negara baru berkewajiban untuk tetap melindungi hak milik penduduk pribadi
maupun swasta-nya dimana tanah milik maupun tanah garapan penduduk dan swasta
tidak boleh digaruk menjadi milik pemerintahan yang baru.
RI telah menanda tangani untuk menghormati semua hak milik, meskipun kemudian
terbukti RI melanggar semua perjanjian yang ditanda tanganinya, misalnya tanah
penduduk yang sudah turun temurun dirampas pemerintah tanpa uang ganti rugi.
Perusahaan2 swasta kemudian dirampok dengan istilah nasionalisasi.
Demikianlah secara singkat, Freeport dizaman Suharto dijadikan rebutan antar
pejabat yang mengatas namakan perusahaan2 swasta baru untuk bisa dipilih
menjadi koalisi pengusaha pemilik Freeport yang aseli.
Jadi dizaman sebelum merdeka pak Marhaen memiliki sebidang tanah resmi yang
lengkap dengan surat2nya yang disyahkan pemerintah Belanda, kemudian oleh
pemerintah RI yang baru tanah pak Marhaen dianggap belum syah karena surat2
tanah kepemilikan pak Marhaen itu dinamakannya "girik" yang harus diganti
dengan "surat tanah RI". Dan untuk mengubah surat girik pak Marhaen menjadi
surat tanah RI, diharuskan menyerahkan surat girik itu ke departement
pertanahan untuk di proses selama ber-tahun2 yang akhirnya surat girik itu
dinyatakan hilang dan surat tanahnya tidak bisa dikeluarkan dan syahlah tanah
tsb bukanlagi menjadi tanah milik pak Marhaen tetapi tanah milik pemerintah.
Pak Marhaen hanyalah satu contoh korban orang kecil yang tidak mengalami nasib
seperti "Freeport" yang terkait dengan tanah milik orang asing, juga menyangkut
usaha swasta milik orang asing dari negara superpower sehingga tidak bisa di
"Marhaen" kan.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/