Assalamu'alaikum wr.wb.,
Lembang Alam
9. MENYEMPURNAKAN UMRAH
Dari informasi yang saya dapatkan, Aziziah terletak
antara empat sampai lima kilometer ke Masjidil Haram.
Sebenarnya saya ingin pergi shalat kesana tapi tidak
tahu dengan apa saya bisa pergi dari tempat kami
menginap. Dan tidak ada pula anggota rombongan yang
berminat untuk kesana subuh-subuh ini. Akhirnya saya
putuskan untuk mencari mesjid terdekat saja. Mesjid
itu hanya sekitar dua ratus meter dari tempat tinggal
kami. Namanya mesjid Abu Bakar. Mesjid yang lumayan
besar tapi tentu tidak untuk dibandingkan dengan
mesjid Nabawi di Madinah. Menurut perkiraan saya
mesjid ini sanggup menampung sampai seribu orang
jamaah. Waktu saya datang subuh-subuh hari Rabu pagi
itu, sudah banyak jamaah di dalamnya. Umumnya jamaah
haji yang baru datang karena mereka masih berpakaian
ihram. Kali ini jamaah dari Turki yang paling banyak.
Sesudah shalat subuh saya bergegas pulang. Pagi ini
kami akan berangkat ke Masjidil Haram untuk
menyempurnakan umrah. Waktu bertemu saya pagi itu, si
Tengah terlihat seperti habis menangis. Rupanya dia
belum kunjung bersih juga sampai sore kemarin. Padahal
sudah tujuh hari dia dalam keadaan tidak suci. Dan
pagi ini dia tidak yakin untuk ikut thawaf. Untunglah
ada seorang ibu yang juga sedang berhalangan. Saya
tanyakan kepada petugas penyelenggara apakah aman
meninggalkan mereka berdua saja. Menurut penyelenggara
insya Allah aman. Ternyata ada juga jamaah dari
rombongan lain yang tinggal di lantai atas. Akhirnya
anak saya dan ibu itu tinggal.
Kami berangkat dengan menggunakan bis coaster jam
setengah sembilan pagi. Sebelum berangkat fihak
penyelenggara mengingatkan bagi yang mau, silahkan
melakukan thawaf dan sa�i dengan rombongan-rombongan
kecil dan nanti sesudah selesai agar berkumpul di
bawah �Jam Gadang� di sebelah kanan luar bukit Marwa.
Saya sangat setuju karena kalau tidak penyelenggara
akan kesulitan mengontrol kami sekitar lima puluh
orang, sementara orang yang sedang melaksanakan thawaf
banyak sekali. Saya putuskan untuk melakukannya
berempat dengan istri dan dua anak saya.
Kami diturunkan di terowongan di luar mesjid. Dengan
menggunakan escalator kami naik ke atas, ke pelataran
di luar mesjid. Semua anggota rombongan masuk
beriringan. Di dalam mesjid tidak ramai tapi di
pelataran Ka�bah lumayan ramainya jamaah. Saya terharu
dapat melihat Ka�bah lagi.
Segera kami mulai thawaf sambil berdesak-desakan
dengan jamaah yang ramai itu. Para jamaah itu banyak
yang berpakaian ihram dan banyak pula yang tidak. Saya
tidak berusaha untuk mendekat ke Ka�bah karena ruang
gerak terlalu sempit. Putaran demi putaran kami
selesaikan sambil berzikir dan berdoa. Setiap kali
mengawali putaran kami hanya memberi isyarat saja ke
arah sudut hajar aswad. Sampai akhirnya selesai
ketujuh putaran. Setelah itu kami menyingkir ke tepi.
sejajar dengan maqam Ibrahim dan shalat sunat disana.
Tempat yang meski sudah jauh ke belakang tapi tetap
saja dilintasi jamaah lain yang lalu lalang. Kami lalu
berdoa sesudah shalat. Saya yang lebih dulu selesai,
memperhatikan istri saya, si Sulung dan si Bungsu
berdoa dengan air mata bercucuran. Tentulah mereka
punya kepentingan yang berbeda dan punya permintaan
masing-masing kepada Allah SWT.
Sesudah itu kami mencari-cari tempat minum zam-zam
karena sudah tidak ada lagi sumur yang turun ke bawah
di pelataran Ka�bah. Mungkin karena agak pangling,
kami tidak menemukan tempat minum. Kami langsung saja
menuju ke bukit Shafa untuk segera memulai sa�i.
Disinipun jamaah ramai sekali meski sedikt kurang dari
yang thawaf. Kami dapat menyelesaikan sa�i beberapa
menit sebelum masuk waktu shalat zuhur. Dan seterusnya
bertahalul. Hari itu saya hanya menggunting beberapa
helai rambut.
Masjidil Haram benar-benar sangat padat dengan jamaah.
Maklumlah tinggal tiga hari lagi menjelang wukuf.
Hampir seluruh jamaah haji saat ini berkumpul di
Makkah dan sekitarnya menunggu saat wukuf. Kami yang
sesudah memotong rambut bertahalul, berada di sebelah
luar pintu mesjid di daerah Marwa, tidak dapat lagi
masuk kedalam karena sudah penuh sesak dengan jamaah.
Akhirnya kami mengambil tempat terpencar-pencar di
emperan di luar pintu mesjid itu. Istri dan anak-anak,
saya suruh agak ke belakang. Tidak berapa lama
kemudian berkumandang azan zuhur. Saya hanya kebagian
tempat sangat sempit untuk sujud di selang-seling
berbaurnya jamaah laki-laki dan wanita. Waktu saya
sedang shalat qabliyah, ada jamaah wanita yang berdiri
di depan saya, disuruh pindah oleh seorang jamaah
dari Tunisia.
Di Masjidil Haram hampir tidak mungkin mengatur shaf
laki-laki hanya untuk laki-laki di depan dan shaf
wanita di belakang. Laki-laki dan wanita terpaksa
harus bercampur baur. Ini disebabkan karena baik
thawaf maupun sa�i baru berhenti ketika azan
berkumandang. Dan tidak mungkin bagi jamaah wanita
untuk pindah jauh-jauh ke belakang pada saat mereka
berhenti sementara thawaf atau sa�i. Namun demikian
sebisanya diusahakan juga agar kelompok beberapa orang
laki-laki terpisah dengan kelompok beberapa orang
wanita.
Sesudah shalat zuhur kami menuju ke bawah �Jam
Gadang�. Benar sekali, satu persatu anggota rombongan
berdatangan. Setelah semua lengkap kami menuju ke
tempat tadi kami di turunkan dari bus. Berjalan kaki
menyeberangi jalan di terowongan yang sedang
macet-macetnya oleh berjubelnya kendaraan. Kami
menemukan bus yang tadi mengantar, yang rupanya memang
sudah dihubungi penyelenggara. Bus yang berdiri
sebentar menaikkan kami itu didatangi polisi sambil
memukul-mukul bus itu dengan tongkat karet menyuruh
maju agar tidak menghalangi lalu lintas di belakang
kami.
Sebelum ashar kami sampai di pemondokan. Si Tengah
alhamdulillah aman-aman saja. Dia merasa sudah bersih
sekarang. Syukurlah, saya bilang. Dengan demikian
insya Allah besok dia bisa melaksanakan thawaf dan
sa�I, satu-satunya hari yang tinggal karena hari
berikutnya, Jumat tanggal 8 Zulhijjah kami akan
berangkat ke Mina mengawali prosesi haji.
Saya cepat-cepat mandi dan memakai pakaian biasa
karena mau pergi shalat ashar ke mesjid Abu Bakar.
Hanya bapak-bapak saja yang pergi shalat ke mesjid itu
karena kelihatannya memang tidak ada jamaah wanita
ikut shalat disana.
****
10. THAWAF DAN SA�I LAGI
Hari Kamis tanggal 29 Januari atau tanggal 7
Zulhijjah, tepat delapan hari sejak kami berangkat
dari Jakarta. Si Tengah sudah lebih yakin bahwa dia
sudah selesai dengan �periode�. Sebenarnya kemarin
pagi dia sudah �bersih� tapi pengalaman beberapa hari
sebelumnya, dia merasa bersih, lalu mandi, lalu ikut
shalat zuhur ke mesjid, tapi ya Allah.... sorenya
waktu mau ke mesjid shalat maghrib ternyata ....
belum. �Begitulah wanita....� kata istri saya suka
nyeletuk. Memang......., memang begitulah wanita.
Waktu si Tengah dengan mata berlinang bertanya,
�bagaimana dong pa?� saya jawab, semua itu adalah
kekuasaan Allah. Jadi bertawakkal saja kepada Allah.
Bahwa kamu tadi shalat karena berharap sudah �selesai�
ternyata belum, biarlah Allah saja yang menilai. Minta
ampun kepada Allah di samping memohon agar diberi
kemudahan oleh Allah. Begitu jawab saya agak panjang
lebar.
Sebelum berangkat sebenarnya istri saya berencana mau
menggunakan pil pencegah �haid� tapi sebelumnya dia
minta pendapat saya. Saya bilang tidak usah. Tidak
usah melawan kodrat dan ketentuan Allah. Berdoa dan
kemudian jalani saja. Pil itu baru ada
sekarang-sekarang ini, ibadah haji sudah ada sejak 14
abad. Insya Allah kalau kita memohon kepada Allah,
Allah akan menolong. Tapi waktu kita terbatas,
katanya. Waktu kita insya Allah cukup. Dalam keadaan
tidak suci di samping shalat hanya thawaf yang tidak
boleh. Dan thawaf itu bisa dikerjakan kalau sudah
bersih dari haid. Akhirnya dia terima saran saya.
Tidak ada yang menggunakan obat penunda haid.
Pagi itu saya, si Tengah bersama suami istri pak dan
ibu H ditemani seorang ustad dari penyelenggara
berangkat ke Masjidil Haram naik omprengan. Saya
ragu-ragu, apakah kami harus ke Tan�im, karena baik si
Tengah maupun ibu H sudah melepas pakaian ihram mereka
di kamar. Saya cenderung bahwa kami harus ke Tan�im
dulu. Tapi atas saran dari ustad pembimbing yang ahli
hadits kami tidak perlu ke Tan�im. Saya yang sudah
terlanjur memakai pakaian ihram lagi, dengan
pertimbangan bahwa nanti saya akan ikut sa�i
sedangkan sa�i sunat tidak ada, jadi sekalian saja
saya berniat umrah lagi, tapi oleh ustad dikatakan
tidak ada dalilnya mengulang-ulang umrah seperti itu
sebelum melaksanakan haji. Akhirnya saya mengalah,
tidak jadi berniat umrah, tapi biarlah berpakaian
ihram karena sudah terlanjur saya pakai. Ustad itu
diam saja.
Ustad itu hanya akan mengantarkan saja. Nanti sesudah
shalat zuhur, kami akan bertemu lagi di depan Pemadam
Kebakaran tidak jauh dari �Jam Gadang� kemarin. Pak H
mengusulkan agar kita berpisah saja. Maksudnya dia
akan thawaf berdua dengan istrinya dan saya berdua
dengan anak saya si Tengah. Tawaran itu saya terima.
Kamipun mulai thawaf. Manusia lebih padat lagi dari
kemarin. Kami bergerak beringsut-ingsut di
tengah-tengah lautan manusia yang subhanallah....
banyaknya. Sambil berzikir, berdoa dan kadang-kadang
saya baca hafalan al Quran saya. Anak saya berpegangan
di kain ihram sambil berzikir pula. Waktu saya lirik
saya lihat matanya merah dengan air mata berlinang.
Kami selesaikan putaran demi putaran itu dengan sabar.
Udara lumayan panas karena sinar matahari pukul
sepuluhan itu cukup terik. Akhirnya kami selesaikan
ketujuh putaran itu dalam waktu lebih satu setengah
jam. Sesudah selesai, seperti kemarin kami bergeser ke
belakang sejajar dengan maqam Ibrahim untuk shalat
sunat. Kami shalat di belakang rombongan jamaah lain
yang juga sedang shalat. Orang ada saja yang melintas
di depan kami. Tidak bisa dihindari. Bukankah mereka
juga ada keperluan untuk ibadahnya, bukan sengaja
untuk mengganggu. Dan seterusnya berdoa. Si Tengah pun
panjang doanya. Dan katanya pula banyak permintaan
teman-temannya untuk didoakan. Jadi dia doakan semua.
Setelah itu kami mampir di keran zam-zam yang sekarang
baru saya tahu tempatnya. Kami minum dulu sebelum
melanjutkan dengan sa�i.
Di tempat sa�ipun sepertinya lebih ramai dari kemarin.
Kami jalani sa�i itu dengan sabar. Padatnya orang
terasa betul ketika kami berada baik di bagian bukit
Shafa maupun bukit Marwa. Hal ini disebabkan pula
karena kebanyakan jemaah sengaja berhenti disana untuk
berdoa. Mungkin karena kami mulai lebih awal
dibandingkan dengan kemarin, hari ini kami selesai
lebih awal pula. Saat hampir selesai kami lihat bapak
dan ibu H yang juga sudah hampir selesai. Meskipun
lumayan berdesak-desak, karena jamaah sa�i masih
bergerak, saya mengajak pak dan ibu H untuk mencari
tempat di jalur Marwa � Shafa. Kami dapat tempat
terpisah-pisah dekat pintu masuk ke dalam mesjid.
Sebenarnya bukan tempat lapang, karena tidak muat
untuk berdiri dengan baik di antara dua orang jamaah
yang sudah duduk. Saya pikir, biar nanti pada waktu
shalat sunat, semua orang berdiri, tempat itu akan
lebih baik.
Lalu terdengar azan. Orang yang sa�i mulai berhenti
sambil menyambung shaf di jalan jalur sa�i. Tempat itu
jadi agak longgar sedikit. Tapi bukan berarti lebih
lapang untuk tempat shalat. Tempat itu hanya sekedar
untuk diisi oleh jamaah yang tadi duduk berdempet ke
depan dan ke belakang. Saya mendapat kira-kira lebih
sedikit 60 senti untuk tempat sujud. Di depan agak ke
samping ada beberapa orang jamaah wanita. Ya begitulah
adanya.
Sesudah shalat zuhur kami keluar melalui pintu di
samping Marwa karena kami berjanji untuk bertemu
dengan ustad yang tadi mengantar di Pemadam Kebakaran
dekat pintu itu. Dia belum kelihatan. Agak ke kanan
sedikit terdapat tempat tukang cukur berjajar-jajar.
Dengan tulisan �BARBAR SHOP�. Kemarin saya sudah ingin
bercukur pendek, tapi antriannya agak panjang. Kali
ini orang yang antri lebih sedikit. Saya beritahu pak
H bahwa saya akan memotong rambut dulu dan minta agar
dia menunggu sebentar. Saya masuk ke �BARBAR SHOP�
yang paling sebelah kiri. Dengan bahasa isyarat saya
beritahu saya minta dicukur pendek. Dia tanya �knife
or machine?� Saya jawab �machine�. Five rial, dia
bilang sambil menyuruh salah satu anak buahnya
�menangani� saya. Mungkin anak buahnya ini kurang
cekatan menurut dia, mesin pencukur itu diambilnya dan
dia langsung mencukur saya. Caranya mencukur terlalu
kasar malahan, hingga hampir melukai telinga kanan
saya. Saya peringatkan dia untuk berhati-hati.
Mungkin dalam hitungan beberapa detik saja kepala saya
sudah tercukur rata dengan sisa rambut yang tinggal
setengah senti. Ini jatah untuk tahalul haji insya
Allah. Waktu saya mau membayar, dia suruh saya
membayar diluar. Kasirnya khusus menerima pembayaran
saja di luar, sekalian bertugas memanggil calon client
baru.
Ustad yang menemani kami ternyata sudah datang. Segera
saja kami berjalan ke tempat mencegat taksi di
terowongan seperti kemarin. Dengan taksi kami kembali
ke pemondokan. Selesailah acara umrah si Tengah.
*****
=====
St. Lembang Alam
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam
http://mail.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________