Assalamu'alaikum wr.wb.,
    
    
Lembang Alam

14. WUKUF

Agak lama kami menunggu bus yang akan membawa ke
Arafah.  Karena jalan macet  sekali. Bus-bus itu
berjalan sedikit lalu berhenti, berjalan sedikit,
berhenti lagi. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah
macet seperti ini, yang nyaris tak bergerak ini sampai
ke Arafah? Kalau benar, betapa besarnya resiko. Saat
itu sudah lebih jam sembilan. Nah, kalau lalu lintas
macet seperti ini berjam-jam, kapan sampainya di
Arafah?  Tapi saya tidak yakin macet ini sampai kesana
yang jaraknya sekitar lima belas kilometer dari Mina.
Paling tidak, melihat fihak penyelenggara
santai-santai saja, saya yakin tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. 

Jam sepuluh kurang, bus kami datang. Perlu sekitar
lima sampai sepuluh menit sampai semua anggota
rombongan naik ke atas bus. Inilah rupanya yang
menyebabkan kemacetan. Pada waktu sebuah bus menaikkan
penumpang, bus tersebut menghalangi bus dibelakangnya.
 Setelah semua anggota rombongan naik, bus itu
berjalan perlahan-lahan sampai persimpangan ke arah
Arafah yang terletak lebih kurang satu kilometer dari
tempat kami naik. Ternyata kemacetan itu hanya sampai
menjelang persimpangan itu saja dan sesudah itu jalan
lancar sampai ke Arafah. Jalan menuju ke Arafah dari
Mina dibuat berlapis-lapis banyak sekali. Jalan itu
dibangun demikian untuk mengurangi kemacetan.  Kami
melintas di hadapan mesjid Namira, mesjid yang
sebagian berada di Arafah dan sebagian lagi di Tanah
Haram. Tapi kami tidak berhenti disana melainkan
langsung menuju tenda maktab 106 di area tenda-tenda
jamaah Indonesia. Kami harus berjalan sekitar seratus
meter dari pinggir jalan menuju ke tenda. Disana sudah
banyak jamaah dari kafilah lain. Saat itu sudah hampir
waktu zuhur, sudah mendekati saat dimulainya wukuf,
rukun haji itu. 

Kami mendapatkan sebuah tenda besar untuk semua jamaah
rombongan kami yang 60 orang. Tenda ini juga
dilengkapi kasur dan bantal. Salah satu tenda, (bukan
tenda kami) bahkan dilengkapi kasur spring bed.
Mungkin untuk  jamaah Super Plus agaknya. Tidak ada
pemisah antara tempat laki-laki dan perempuan dalam
tenda ini. Jemaah ibu-ibu menempatkan tas mereka di
tengah-tengah sebagai pembatas.

Tidak berapa lama kemudian masuk waktu zuhur. Azan
berkumandang dari tiap-tiap tenda seperti di Mina.
Ustad pembimbing kelompok kami menyampaikan khotbah
Arafah. Seputar ma�na wukuf dan apa saja yang
seharusnya dilakukan. Intinya, ini adalah kesempatan
di antara banyak kesempatan lain selama melaksanakan
rangkaian ibadah haji, untuk bertaubat. Untuk minta
ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan masa lalu.
Untuk memohon kepada Allah agar diteguhkan iman dan
taqwa. Agar Allah meridhai amalan dan ibadah yang
dilakukan. Agar Allah membalasnya dengan pahala di
akhirat nanti. Di samping itu para jamaah diingatkan
untuk banyak-banyak berzikir, bertafakur, merenung,
menghitung-hitung apa saja yang sudah disiapkan untuk
dibawa menghadap Allah kelak. Sesudah khotbah kami
lakukan shalat zuhur dan ashar, dijamak dan diqasar
dan setelah itu masing-masing jamaah langsung
menerapkan apa yang baru saja dinasihatkan. Berzikir
dan berdoa. Banyak yang meneteskan air mata dalam
keheningan zikir dan doa itu. 

Saya ingat waktu melaksanakan haji tahun 90, saya
dengan beberapa jamaah lain keluar dari tenda dan
duduk di bawah pohon yang waktu itu masih rendah untuk
berzikir. Tahun 90 itu haji dilaksanakan di bulan Juni
dengan temperatur lebih dari 50 derajat Celcius. Kali
ini saya ingin mengulangi duduk di bawah pohon di luar
tenda. Dan sayapun keluar dari tenda. Tapi saya kecewa
karena tenda kami dibatasi pagar dan di dalam area
berpagar itu tidak terdapat sebatang pohonpun. Saya
tidak berusaha untuk keluar dari pagar dan kembali ke
tenda. Biarlah saya berzikir di dalam saja.  AC di
tenda ini kebetulan tidak berfungsi, karena
kelihatannya ada masalah dengan aliran listrik. Kipas
angin yang disediakan juga tidak berfungsi. Tapi
alhamdulillah udara di dalam tenda tidak terlalu panas
meskipun di luar sinar matahari terasa cukup terik. 

Wukuf ini akan berlangsung sampai waktu maghrib 
nanti, sekitar lima setengah jam lagi. Waktu yang
cukup panjang. Saya berniat, lalu berusaha untuk tidak
tertidur. Sesudah berdoa dan berzikir saya kembali
membaca al Quran meneruskan tadarusan. Kalau mata saya
sudah terasa capek, saya keluar sebentar untuk
melemaskan otot-otot dan setelah itu kembali lagi
dengan zikir, doa dan tadarusan. 

Kira-kira jam lima sore seorang di antara ustad
pembimbing, memimpin kami untuk berdoa. Lebih tepatnya
dia berdoa dan kami mengaminkan. Dia berdoa dengan
kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa dengan
kalimat-kalimat yang menyentuh. Ditambah dengan
kepandaiannya berdoa  (berorasi) dan sambil
terisak-isak pula, membuat suasana haru segera muncul.
Dan para jamaahpun bertangisan tanpa terkecuali. Saya
yang sejak berangkat dari Mina berkali-kali tercegut
dalam linangan air mata, kali ini ikut terisak-isak. 
Cukup lama waktu berdoa ini. Dan diakhiri dengan
saling bermaaf-maafan sesama jamaah. Saling bermaafan
antara suami dengan istri. Antara anak-anak dan orang
tua. Suasana benar-benar sangat mengharukan. Di
penghujung doa itu kami dianjurkan untuk melanjutkan
dengan doa sendiri-sendiri di luar tenda.  Kamipun
keluar. Ternyata suasana haru terjadi di semua tenda.
Di luar kami mendengar para ustad dari masing-masing
kafilah memimpin doa yang mengharukan pula. Meski ada
yang dengan penekanan dan bahasa yang kurang �indah�
dibandingkan dengan ustad kami tadi (yang memang
bolehlah).

Tidak berapa lama kami dapat kabar duka. Seorang
jamaah dari rombongan lebih besar (partner rombongan
kami) meninggal dunia sesaat setelah berakhirnya
pembacaan doa di tendanya. Orang tua itu, yang memang
kurang sehat, menghembuskan nafas terakhir dihadapan
istri dan anaknya, benar-benar sesudah mengaminkan doa
yang mengharukan. Innaa lillahi wa innaa ilaihi
raaji�uun. Mudah-mudahan beliau akan bangkit di padang
mahsyar nanti dengan berpakaian ihram sambil
melantunkan talbiyah seperti yang disabdakan
Rasulullah SAW. Saya menyempatkan untuk melayat ke
tendanya yang agak terpisah dari tenda kami.

Menjelang berakhirnya waktu wukuf, sayangnya, banyak
di antara jamaah yang melampiaskan rasa sukacita (?)
dengan berfoto-foto. Apa lagi ada bintang sinetron
terkenal di antara jamaah. Mereka menyempatkan berfoto
bersama dengan aktor itu. Laki-laki dan perempuan.
Suasananya jadi agak bising, dengan senda gurau dan
tawa. Pada hal baru saja bertangis-tangisan. Ya
begitulah.

Maghrib segera menjelang. Kami berkemas-kemas untuk
segera meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Kami
tidak shalat maghrib disini tapi nanti di Muzdalifah
akan dijamak ta�khir. Beriring-iringan kami melangkah
menuju bus yang akan membawa kami ke Muzdalifah.

                        ****


=====

St. Lembang Alam



__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam
http://mail.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke