----- Original Message -----
Sent: Friday, March 29, 2002 5:17
PM
Subject: [RantauNet] Indonesia dalam Zona
Bahaya ke Arah Negara yang "Gagal"
Pengamatan Prof. Rotberg ini
menakutkan kita, mestinya. Indonesia termasuk dari sekitar 42 negara yang
menuju negara yang "gagal". Indikator negara yang gagal yang disebutkan
Rotberg (....cenderung menghadapi konflik yang
berkelanjutan, tidak aman, kekerasan komunal maupun kekerasan negara sangat
tinggi, permusuhan karena etnik, agama, ataupun bahasa, teror, jalan-jalan
atau infrastruktur fisik lainnya dibiarkan rusak) sudah banyak tampak
di Indonesia. Bahkan lebih banyak yang belum disebutkan, seperti separatisme,
institusionalisasi politik yang merambat pelan bahkan (menurut diskusi saya
semalam bersama narasumber Bima Arya dari CPPS Paramadina di Jakarta News FM)
berjalan mundur/membelakang, permisifisme kalangan penyelanggara negara,
ketiadaan platform perjuangan sebagai konsensus bersama di berbagai kalangan
(partai-partai politik, penyelenggara negara, civil society, atau juga pers),
ketidakjelasan penegakkan hukum, standar penegakkan HAM yang gagap,
partisipasi politik yang rendah dan irrasional, etc.
Adakah yang bisa kita lakukan,
wahai kawan?
ijp
==========
Kompas>Kamis, 28 Maret
2002
Indonesia dalam Zona Bahaya ke Arah Negara yang
"Gagal"
Jakarta, Kompas - Indonesia saat ini berada dalam
zona bahaya atau zona merah dari sebuah negara bangsa (nation state)
lemah yang bergerak menuju negara bangsa yang gagal. Indonesia akan selamat
dan terlindungi dari bahaya menjadi negara bangsa yang gagal, apabila
Indonesia memiliki kepemimpinan yang kuat dan visioner serta ada komitmen dari
dunia internasional untuk membantu Indonesia dalam bidang ekonomi dan
rekonstruksi sosial, khususnya dalam upaya penegakan hukum.Demikian
dikemukakan Prof Dr Robert I Rotberg, Direktur Program Konflik John F Kennedy
School of Government, Harvard University, dalam seminar yang diselenggarakan
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, Rabu (27/3).
"Indonesia akan menghadapi masa-masa sulit dalam beberapa tahun mendatang,"
kata Rotberg.
Persoalan serius yang dihadapi Indonesia saat ini adalah perekonomian yang
lemah, gerakan separatis di Aceh dan Papua, serta konflik sosial. Apabila
konflik di Maluku dan Poso tidak segera ditangani dan perlucutan senjata tidak
dilakukan, Rotberg khawatir, konflik berlatar belakang perbedaan etnis, agama,
atau bahasa akan berkembang di daerah-daerah lain tanpa sebab yang jelas.
Dia menekankan perlunya penguatan pemerintahan berdasarkan hukum,
desentralisasi tanpa perpecahan, sekaligus penguatan nilai-nilai politik
secara nasional. Indonesia memiliki keuntungan adanya sentimen nasionalisme
yang kuat, tetapi sekaligus memiliki sumber-sumber yang potensial menciptakan
instabilitas politik maupun ekonomi. Oleh karena itu, perlu ada kepemimpinan
yang kuat dan visioner. Namun, kepada wartawan, Rotberg mengaku tidak
mempelajari Indonesia secara khusus sehingga tidak bersedia memberikan
penilaian mengenai kepemimpinan Megawati Soekarnoputri atau menyebut nama
seseorang di Indonesia yang dapat menyelamatkan Indonesia dari kegagalan.
Ia juga berpendapat, kebebasan pers perlu tetap dipelihara karena kebebasan
pers merupakan faktor yang sangat penting untuk mencegah negara mengalami
kegagalan.
Dalam seminar tersebut Rotberg-yang juga menjabat sebagai Presiden Yayasan
Perdamaian Dunia-mengemukakan empat kategori negara bangsa, yakni negara
bangsa yang kuat, lemah, gagal, dan runtuh. Ia juga menyebutkan sederet
karakteristik untuk setiap kategori.
Menurut Rotberg, fenomena kegagalan negara bukan hal yang baru di dunia.
Setelah keruntuhan Uni Soviet, dari jumlah 192 negara yang ada, banyak di
antaranya lemah, ada yang tengah menghadapi bahaya menuju kegagalan, gagal,
dan beberapa di antaranya telah gagal pada tahun 1990 dan beberapa di
antaranya telah runtuh. Sejak periode itu, konflik di dalam negara sangat
banyak terjadi yang mengakibatkan sedikitnya sembilan juta orang tewas dan
empat juta sampai lima juta orang menjadi pengungsi di negaranya sendiri.
Keadaan ini merupakan ancaman bagi tertib dunia.
Dalam keadaan sekarang, dunia tidak dapat lagi mengambil jarak terhadap
keberadaan negara yang lemah atau gagal. Kegagalan negara berdampak tidak
hanya pada situasi keamanan dan kedamaian di negara bersangkutan, tetapi juga
di negara-negara tetangga dan tertib dunia secara kesuluruhan. Karena itu,
merupakan sesuatu yang imperatif bagi masyarakat internasional dan
organisasi-organisasi multinasional untuk mencegah suatu negara menjadi lemah
dan gagal.
Kelemahan atau kegagalan negara bangsa, kata Rotberg, berasal dari
faktor-faktor fisik-geografis, faktor sejarah akibat kesalahan-kesalahan pada
masa kolonial atau kebijakan luar negeri, atau yang lain-lainnya. Namun,
faktor utama kegagalan suatu negara lebih karena faktor manusia.
Keputusan-keputusan yang merusak dari para pemimpin berkontribusi besar pada
kegagalan negara.
Rotberg menyebut indikator negara yang kuat antara lain tingkat keamanan
dan kebebasan yang tinggi, perlindungan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan
ekonomi, sejahtera, dan damai. Sebaliknya negara-negara yang gagal cenderung
menghadapi konflik yang berkelanjutan, tidak aman, kekerasan komunal maupun
kekerasan negara sangat tinggi, permusuhan karena etnik, agama, ataupun
bahasa, teror, jalan-jalan atau infrastruktur fisik lainnya dibiarkan rusak.
Ia menyebut negara bangsa yang gagal di antaranya Sierra Lione, Sudan, dan
Afganistan. Negara-negara itu tidak memiliki penguasa dan otoritas di dalam
batas-batas wilayah negaranya dan otoritas negara berpindah ke tangan
panglima-panglima perang. Rakyat hidup tanpa pemerintahan, tanpa keamanan,
tanpa infrastruktur fisik untuk masyarakatnya.
"Ada sekitar 42 negara di dunia saat ini yang dalam kondisi lemah, menuju
kegagalan, gagal, atau runtuh," kata Rotberg. (wis)