|
SUARA PEMBARUAN DAILY
EKSKLUSIF
Orang Minang di Titik Nol (1)
Pasang-Surut di Puncak Piramida Kekuasan
Oleh Wartawan "Pembaruan" Wall Paragoan
Ketika orang Minang sedang jaya, sedang banyak di atas panggung nasional - di bidang apa pun - orang menganggapnya sebagai biasa. Kenapa? "Kehebatan" orang Minang sudah tertera di dalam tambo (semacam biografi Minangkabau) yang mengisahkan asal usul dan kaidah adat. Menurut tambo, ketika ekspedisi dari utara sampai pinggang Gunung Marapi (2.891 meter), entah berapa abad sebelum Masehi, cikal bakal orang Minang yang dipimpin Seri Maharaja Diraja itu adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great of Macedonia) dari Banua Ruhum (maksudnya Romawi). Tetapi, ketika angin sudah berkisar, dan yang terjadi adalah degradasi peran nasional orang Minang, kebanggaan apa lagi yang bisa disebutkan tentang orang Minang? Masihkah soal Iskandar Zulkarnain atau beralih ke restoran Padang dengan dendeng baladonya. Pedagang kaki lima yang selalu diburu-buru petugas ketertiban di Jakarta? Atau karyawan "CV Dua Jari" alias copet yang dulu sering membuat merah padam muka perantau (kini sudah banyak etnis yang ber-"CV Dua Jari"). Atau komunitas terbanyak yang mengidap jantung koroner karena mengasup makanan berkolesterol tinggi? Saat ini, memang hampir semua orang menyadari menyurutnya peranan nasional orang Minang. Sehingga kalau orang bicara tentang Minang, mereka akan memuji rumah makan Minang yang tersebar di mana saja, kecuali di bulan. Pada berbagai lapangan, terutama di kekuasaan, tidak ditemukan orang Minang sebagai tokoh nomor satu. Hanya tinggal satu atau dua orang di lapisan ketiga. Benarkah, mereka kini sedang berada di titik nol? Dr Mochtar Naim, sosiolog yang kini menjadi anggota MPR utusan Sumatra Barat, mengakui orang Minang kini sedang di bawah. "Orang Minang kini sedang mati angin (nyaris tak ada harapan)," kata Mochtar. Bila ditelusuri kiprahnya di panggung nasional, orang Minang memang seperti sedang mati angin. Ada juga yang terdorong ke atas (walau tidak di atas benar) seperti Bachtiar Chamsyah, Menteri Sosial, yang lahir dan besar di rantau. Juga ada Syahril Sabirin, Gubernur BI. Lalu Letjen TNI Djamari Chaniago, Kasum TNI. Juga ada sejumlah intelektual. Untuk petinggi partai, lembaga politik yang menentukan perjalanan negara saat ini, orang Minang tidak ada sama sekali. Menurut Mochtar, degradasi peran nasional orang Minang sebenarnya masalah biasa, yang juga dialami semua suku bangsa lainnya. Sebab, lintasan sejarah selalu memperlihatkan, tidak ada satu suku bangsa pun yang terus berada di atas. Seperti putaran roda pedati, sekali dia di atas dan sekali di bawah. "Kini, orang Minang memang sedang berada di bawah," kata sosilog Mochtar Naim. Prof Drs Mawardi Yunus, mantan Ketua LKAAM Sumbar yang kini menjadi Rektor Universitas Sahid Jakarta, menyadari juga merosotnya peran nasional orang Minang. Tetapi, menurut dia, orang Minang tidak sampai di titik nol, hanya orang lain yang lebih maju. "Kita maju seratus meter, orang lain majunya tiga ratus meter," katanya. Tetapi, orang luar sebenarnya sudah lama merasakan merosotnya peran nasional orang Minang. Seperti kata Mawardi Yunus, beberapa tahun lalu Gus Dur pernah meledek orang Minang sebagai sudah kehilangan kaum intelektual. Indikasi Gus Dur, kata Mawardi, di Sumbar pelanggan majalah Prisma terbitan LP3S Jakarta hanya 10 orang. Waktu itu Gus Dur memang bekerja di LP3S. Lebih keras lagi, seorang politisi muda suatu partai berkata kepada Pembaruan, "Orang Minang kini hanya pandai berkelahi di kampung untuk menjadi gubernur. Di pusat mereka sudah kalah bersaing." Waktu itu, setiap pemilihan gubernur memang terjadi konflik.
Di kalangan orang Minang di kampung halaman, juga muncul kekecewaan makin terjadinya degaradasi peran nasional orang Minang. Apalagi dalam beberapa tahun ini. Dulu mereka bisa bangga dengan Bung Hatta, Haji Agus Salim, Sjahrir, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Mr Assaat, dr A Halim, Mr Mohammad Yamin, dan Chairul Saleh di kalangan petinggi negara. Adinegoro, Rosihan Anwar di kalangan pers. Nur Sutan Iskandar, Marah Rusli, A Muis, Hamka, Idrus, Chairil Anwar di kalangan pujangga. Djamaluddin Malik, Soekarno M Noor, dan Asrul Sani di kalangan perfilman. Di antara yang disebut di atas, Hatta menjadi ko-proklamator dan wakil presiden tahun 1945-1956, menjadi perdana menteri 1948-1950. Sutan Sjahrir menjadi menjadi pelopor demokrasi parlementer dan perdana menteri tahun 1945-1947. Mohammad Natsir menjadi perdana menteri tahun 1950-1951. Sedangkan Mr Asa'at menjadi akting presiden tahun 1949. Mereka itu menjadi penentu perjalanan republik ini. Mochtar Naim menyebutkan, mulai merosotnya peran nasional orang Minang terjadi setelah PRRI dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Selain banyak tokoh yang menjadi korban perang, di perantauan orang Minang hidup dalam tekanan kekuasaan yang tak demokratis. Tidak sedikit di antara orang Minang yang membubuhi namanya dengan huruf "O". Malah, ada yang takut mengaku Minang. Ada yang sempat naik, antara lain Mr Mohammad Yamin yang kemudian menjadi Ketua Depernas dan Chaerul Saleh, menjadi Wakil Perdana Menteri. Tidak ada lagi yang peran setinggi Hatta, Sjahrir, dan Natsir yang dimainkan orang Minang. Di Minangkabau sendiri, rasa terhimpit juga dirasakan. Kondisi itu berubah setelah tampilnya Harun Zain, Rektor Unand, menjadi gubernur tahun 1966. Rasa takut kepada militer dan kekuasaan yang berlebihan, mulai menghilang. Apalagi setelah tumbangnya Orde Lama yang didukung komunis dan militer. Harun membawa konsep yang dimulai dengan membangun eksistensi orang Minang sebagai bagian tegak sama tinggi dengan warga negara Indonesia lainnya. Orang menyebutnya sebagai konsep pembangunan "harga diri", suatu yang hilang sejak tahun 1958. Di antaranya, dia lakukan dengan menempatkan lulusan Universitas Andalas di berbagai instansi, lulusan APDN Bukittinggi sebagai camat. Zainal Bakar SH, Gubernur Sumbar, sekarang adalah salah satu kader proyek "harga diri" itu. "Pak Harun memang berhasil 'mambangkit batang tarandam', membangun kembali 'harga diri' orang Minang paska PRRI," kata Mawardi Yunus, yang juga pernah menjadi Rektor Unand Padang dan Ketua Bappeda di era Gubernur Harun Zain. Di zaman Orde Baru, jumlah orang Minang di panggung nasional masih lumayan. Setiap putaran pembentukan kabinet (sekali lima tahun), paling tidak ada dua tiga orang Minang. Walau di mata Dr Mochtar Naim, mereka dianggap sebagai kolaborator kekuasaan otoriter. Mereka membiaskan jati dirinya yang egaliter. Lalu, kini apa yang terjadi ketika degaradasi itu sedang terjadi? Banyak orang Minang seperti tidak siap menerima kenyataan yang berbeda dengan masa lalu. Sindrom masa lalu menyebabkan orang mengait-ngaitkan seorang tokoh yang sukses dengan Minangkabau. Contohnya, ketika Jusril Ihza Mahendra diangkat menjadi Menteri Hukum dan Perundang-undangan, ada yang berkata, "Jusril itu orang Minang, asalnya dari Payakumbuh." Apa iya atau tidak, Jusril sendiri sampai saat ini merasa sebagai orang Bangka. Juga ada yang berkata dengan bangga, dalam pemerintahan Megawati sekarang, setidaknya ada tujuh menteri yang istrinya orang Minang. Mochtar Naim juga mendengar ada yang menyatakan Syarifuddin Temenggung, Ketua BPPN yang baru diangkat, itu orang Minang. Padahal, kata Mochtar, Temenggung adalah gelar orang Melayu di Lampung. "Ini karena terlalu primordial," katanya. Kalau Taufik Kiemas asal Minang, justru banyak yang tidak tahu. Padahal, kepada Pembaruan dalam penerbangan Padang-Jakarta pada musim kampanye Pemilu 1992, Taufik dengan jelas menyatakan ibunya orang Padang. "Kampung saya di Belakang Benteng," katanya menunjuk sebuah perkampung di belakang kantor Polres Padang sekarang. Akan tetapi, ketika seorang pengurus partai di Padang menyatakan kepada Pembaruan bahwa Megawati Soekarnoputri keturunan keluarga Muhammadiyah asal Minang yang merantau ke Bengkulu, ini memang berita baru. Tidak jelas apa ini karena sindrom kebesaran Minang masa lalu atau karena favoritisme kesukuan, atau akibat primordialisme. Tetapi yang jelas, orang Minang memang agak ternganga menyadari merosotnya peran nasional suku bangsa itu.
Last modified: 29/4/2002 |
- [RantauNet] Amanat rang minang di Medan Wahdi Azmi
- Re: [RantauNet] Amanat rang minang di Medan Bandaro
- Re: [RantauNet] Amanat rang minang di Medan Wahdi Azmi
- Re: [RantauNet] Orang Minang di Titik Nol Indra Piliang
- Re: [RantauNet] Orang Minang di Titik Nol J.Dachtar
- Re: [RantauNet] Orang Minang di Titik... Urpas
- Re: [RantauNet] Orang Minang di ... J.Dachtar
- RE: [RantauNet] Orang Minang... Boes Roestam
- RE: [RantauNet] Orang Mi... J.Dachtar
- RE: [RantauNet] Orang Mi... Boes Roestam
- RE: [RantauNet] Orang Mi... J.Dachtar
- Re: [RantauNet] Orang Minang di Titik Nol Urpas
- Re: [RantauNet] Orang Minang di Titik... Muhammad Dafiq Saib
- Re: [RantauNet] Orang Minang di ... ronal chandra

