Saya ingat sekali bagaimana Taufik Abdullah
begitu memburangsang. "Orang Minang kini terlalu suka menepuk dada. Jarang
yang suka mentertawakan diri. Kalau dibaca karya-karya sastra tahun 1930-an,
lihat betapa begitu intensifnya urang Minang mentertawakan diri. Semuanya
ditertawakan, mulai dari Surau, Adat, urang tua, semuanya."
Saya juga ingat, betapa intensifnya polemik
sesama orang Minang di koran-koran, bahkan membahana sampai Eropa. Bagaimana
tajamnya polemik antara penjunjung adat dengan penjunjung agama. bagaimana
kencangnya hinaan atas adat, juga atas Islam. Tapi toh, semuanya berjalan
baik, dan justru menghidupkan dunia intelektual Minang.
karakter dan pemikiran apa sih yang tak ada di
Minang? Sosialisme, komunisme, Islamisme, nasionalisme, semuanya ada. Mulai
filsafat sampai teknik memanjatkan beruk ke kepala, eh, kelapa. Toh tak
terdengar adanya pengusiran yang memalukan. tak terdengar adanya pembunuhan.
bahkan hampir semuanya menjadi pimpinan. Kenapa? karena ada kepercayaan, bahwa
inti keunggulan komparatif budaya Minang adalah mengakui dan membiarkan adanya
perbedaan. "Saya tak setuju pendapat anda. Tapi saya akan membela mati-matian
hak anda untuk menyatakannya" begitu kata Voltaire.
Lihat juga bagaimana sengitnya polemik antara
Agus Salim dengan Radjiman Wediodiningrat, antara Tan Malaka dengan Stalin,
antara Natsir dengan Soekarno. Semuanya hidup, semuanya bercahaya, semuanya
menggali pikiran-pikiran terdalam, baik dari masa lalu atau untuk masa depan.
Kalau teman-teman disini berlaku aniaya terhadap
orang lain yang mengeluarkan pendapatnya, di alam maya, menggunakan teknologi
bikinan orang-orang Barat, ya sudah, silakan masuk ke jeruji besi pikiran
masing-masing. Silakan tafakur saja sendiri. Untuk apa pula gunanya forum yang
amat bagus ini.
Saya kira si Upaih ini hanya bermain-main dengan
logika. Kalau si A boleh, kenapa si B tak boleh? Apa bedanya? Anggap aja ini
permainan, jangan terlalu dimasukkan kedalam hati. kalau memang teman-teman
punya logika lain, ya, mainkan juga. "Oke, andai si A adalah SiAmang, andai si
B adalah siBeruk, boleh saja Si A dan Si B kawin-mawin seenaknya. Karena siA
bukan siAmang, dan siB bukan siBeruk, makanya tak bisa kawin-mawin seenaknya.
Permainan logika ini bisa diteruskan. Karena siA
adalah siAmat, dan siB adalah siBudi, maka susah dong mengawinkan siA dengan
siB. Oke, seandainya mereka kawin, maka tak ada yang namanya si Upaih. Lha,
gimana mungkin si Upaih ada, karena siA dan siB tak punya alat-alat lengkap
reproduksi. Silakan teruskan.
Masalah ini sudah terlalu sering dilontarkan.
Saya sering sedih memikirkannya. Koq berbeda pendapat tak dibolehkan?
Keroyok aja logika si Upaih, pasti dia kelabakan,
lalu mengangkat bendera putih.
Kalau teman-teman tak suka logika si Upaih, saya
sebetulnya juga bisa mengajukan satu pertanyaan:
Kenapa sih harus berdoa untuk kemenangan PS Semen
Padang? Apa lawan SP itu orang kafir? Apa seluruh pemain SP itu orang Padang?
Apa coba referensinya dalam agama, sehingga harus membela permainan yang tak
ada di zaman Nabi. Kalau seluruh pemain dan penonton di Senayan tak shalat
Maghrib, karena sering saya lihat pertandingannya pas Maghrib, apa teman-teman
turut menanggung dosanya? Ini logika sederhana saja, kalau semuanya
dihubungkan dengan agama.
ijp