Bagi yang belum dan mau membaca:
N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA
Hendarmin Djarab, SH., MBA
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, yang mendiami
kepulauan Nusantara yang ribuan jumlahnya. Nenek moyang kita
merupakan pelaut-pelaut ulung yang biasa mengarungi samudera
luas. Karena itu, sejak dahulu, kita dikenal sebagai bangsa
Bahari,yaitu bangsa yang menggunakan laut sebagai wahana
transportasi dan kehidupan .
Luas wilayah Indonesia yang membentang dari barat ke timur
sama dengan jarak Los Angeles ke New York. Jarak yang
demikian jauh, secara mutlak menyebabkan pesawat terbang
menjadi sarana angkutan yang sangat penting dan kebutuhan
utama bagi Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia menjadi
pasar pesawat terbang yang potensial dan paling menarik bagi
negara-negara eksportir pesawat.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih
dari 17000 an pulau , adanya industri wahana transportasi
laut dan udara, merupakan kebutuhan . Kebutuhan Indonesia
akan kapal laut dan pesawat terbang , akan bersifat
seumur-umur,selama geografi Indonesia masih seperti sekarang
ini.. Kebutuhan itu diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa
pesawat atau kapal hanya berumur sekitar 25 tahun dan
setelah itu ia harus diganti dengan yang baru. Jadi manakala
satu paket pesanan selesai dibuat, produksi pertama perlu
diganti, melahirkan kebutuhan pengadaan yang tanpa henti.
Keadaan geografi dan sifat kebutuhan seperti itu jelas
menjadi pasar yang siap atau captive market bagi industri
transportasi, khususnya laut dan udara. Sekedar mencukupi
semua kebutuhan dengan membeli , merupakan hal mudah, tetapi
tidak akan melahirkan nilai tambah apa-apa bagi bangsa,
tidak menambah penguasaan iptek, tidak berupaya menghemat
devisa, dan memelihara sifat ketergantungan pada pemasok
asing.
Dengan meningkatnya transaksi perdagangan antar pulau /
antar benua, transportasi melalui laut dikalahkan oleh
transportasi udara. Jarak tempuh yang ribuan mil, dalam
sekejap dapat dicapai oleh pesawat udara. Berbeda dengan
kapal laut yang kecepatannya jauh di bawah pesawat udara.
Fakta lain yang patut kita ketahui bahwa angkasa adalah
wilayah transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia
yang mempunyai masa depan yang gemilang, sebelum manusia
meneruskan usaha mereka menjangkau planet-planet yang ada di
galaxi.
Ketika dunia makin menjadi satu, maka penguasaan angkasa
menjadi tempat yang strategis untuk mempertahankan
independensi wilayah nasional kita. Sebagai negara
kepulauan, Indonesia tidak hanya diharapkan kuat di bidang
kelautan, tetapi juga di bidang Kedirgantaraan. Lebih-lebih
dengan perkembangan teknologi sejak beberapa tahun terakhir
ini, semakin terbukti bahwa angkasa adalah wilayah
transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia.
Indonesia sebagai negara kepulauan, akan lebih meningkat
pertumbuhan ekonominya bila ditunjang oleh kelancaran sarana
transportasi udara . Juga dari segi Pertahanan Keamanan, TNI
Angkatan Udara perlu memiliki pesawat-pesawat Terbang yang
dapat mengamankan wilayah udara kita. Guna memenuhi
kebutuhan tsb, Pemerintah meresmikan berdirinya PT Nurtanio
( sekarang PT Dirgantara Indonesia, disingkat PTDI ) pada
tgl 23 Agustus 1976 di Bandung.
Berdirinya PT Nurtanio, menunjukkan tekad dan komitmen
Pemerintah untuk terwujudnya kemandirian bangsa di bidang
Teknologi Kedirgantaraan. Tanggal 23 Agustus 2001 PTDI
berusia 25 tahun. Usia yang cukup dewasa untuk ukuran
manusia. PT DI memang seharusnya telah dewasa. Kalau
kemampuan alih teknologi menjadi ukuran kedewasaan tsb, PT
DI sudah boleh dikatakan dewasa karena ia telah mampu
mengalihkan dan menguasai teknologi pesawat terbang yang
modern.
Dalam rangka proses alih teknologi tsb, telah banyak waktu,
tenaga, fikiran dan anggaran yang dihabiskan . Demi kemajuan
bangsa di bidang Teknologi, bangsa Indonesia c/q karyawan
PTDI telah berbuat banyak untuk itu. Perjuangan itu mungkin
belum maksimal. Memang perjuangan tsb belum maksimal dan
tidak akan pernah berakhir selama manusia selalu berinovasi
dan mencari terobosan-terobosan baru di segala bidang
kehidupan.
Sampai saat ini PTDI masih tetap berjuang untuk
mempertahankan keberadaannya di dunia Industri pesawat
terbang. Perjuangan tsb terasa lebih berat sejak
ditanda-tanganinya LoI (Letter of Intents ) antara
Pemerintah Indonesia dan IMF. Salah satu ketentuan LoI
adalah larangan bagi Pemerintah RI untuk mengucurkan dana
sepeserpun kepada PTDI. Sejak itu PTDI berusaha untuk
mandiri, tanpa mengharapkan subsidi (dari Pemerintah).
PTDI terus berjuang untuk maju, minimal tetap bertahan .
Tiada istilah mundur bagi PTDI, kecuali Pemerintah tidak
membutuhkan lagi keberadaannya. Sejak berdiri tahun 1976,
PTDI telah mencatat beberapa prestasi. Prestasi itu antara
lain keberhasilan membuat dan menjual pesawat C-212, BO-105,
Super Puma, Bell-412 dan pesawat Turboprop CN-235 .
Selanjutnya PTDI berhasil membuat sendiri pesawat Turboprop
N-250 yang dikendalikan sistem 'fly-by wire'. Di jajaran
pesawat komersial, N-250 adalah pesawat ke tiga di dunia
yang menerapkan teknologi Fly by Wire setelah Airbus A320
dan Boeing 777. Dalam industri penerbangan, teknologi fly by
wire baru dikembangkan pada tahun 1990-an. Teknologi ini
dinilai mampu memberikan jaminan keamanan penerbangan yang
lebih baik. Dengan fly by wire, komputer bisa sewaktu-waktu
mengambil alih kemudi pesawat jika tiba-tiba pilot lengah.
Sistem ini juga sekaligus melakukan berbagai koreksi
terhadap 'kesalahan manusiawi' (human error) yang dilakukan
pilot.
Selain itu, pesawat N-250 merupakan pesawat pertama
tercanggih yang menggunakan propeller. Ia memiliki kecepatan
jelajah tinggi, mencapai 330 knot, dan juga mempunyai
keunggulan pada aero-dynamic nya. Dalam pelaksanaan proyek
pembuatan pesawat N250, sesungguhnya bukan hanya terkandung
soal analisa dan strategi saja, melainkan juga optimisme,
heroisme dan idealisme bangsa Indonesia untuk mewujudkan
impiannya memiliki pesawat terbang buatan sendiri. Kalau
boleh dikatakan, Proyek N-250 merupakan bagian dari
perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu
mandiri di bidang kedirgantaraan.
Dengan terlaksananya proyek N-250 berarti Indonesia telah
mengukuhkan diri sebagai salah satu di antara sedikit negara
di dunia yang mampu merancang-bangun sendiri pesawat
terbang. PTDI telah berhasil membuktikan keandalan serta
kemampuan membuat pesawat hasil rancang bangunnya sendiri.
N-250 dan Nilai-Nilai
Proyek N-250 memang mengemban misi yang sarat dengan
aspirasi nasional. N-250 bukan hanya merupakan wahana bagi
aktualisasi kemampuan bangsa Indonesia dalam penguasaan dan
pengembangan teknologi tinggi, serta sebagai lembaga
ekonomi/bisnis belaka, melainkan juga prestise politik untuk
diperhitungkan oleh negara manapun di dunia.
Untuk menyongsong masa depan yang gemilang, generasi muda
Indonesia perlu memperdalam, memperluas, memperkaya dan
menyegarkan visi dan cita-cita mereka. Karena masa depan
penuh dengan tantangan ,permasalahan dan persaingan. Mereka
perlu menyuarakan cita-cita bangsa, merumuskan fikiran dan
mengembangkan pandangan untuk menghadapi tantangan zaman..
Bagi generasi muda Indonesia, proses pembangunan pesawat
N-250 memberi makna penting dalam rangka alih teknologi dan
pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia. Pesawat N-250
tidak mungkin terwujud tanpa ketekunan, disiplin, kerja
keras , kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari
semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, ada
nilai-nilai positif yang terkandung dalam proyek N-250.
Pesawat N-250 adalah representasi (wujud yang mewakili)
himpunan nilai-nilai yang sifatnya sangat mendasar demi
tegaknya peradaban sebuah bangsa dan negara ( Limas
Sutanto,N-250 " Gatotkoco " menghimpun Nilai-nilai", Pikiran
Rakyat, 21 Agustus 1995). N-250 menyimpan sekian nilai
(ranah) yang patut dibanggakan, antara lain: teknologi
tinggi, penguasaan iptek, kerja keras, semangat mengabdi
(dedikasi), disiplin tinggi, pengorbanan tanpa pamrih,
tata-kerja yang terarah jelas pada tujuan yang diyakini
benar ; keahlian (profesionalisme), ketaatan (komitmen)
kepada kewajiban / tugas ; daya juang yang tinggi ;
ketegaran dan ketabahan di tengah suka-duka ; aktualisasi
diri ; harga diri ; kepakaran ; percaya diri ; pengharapan ;
cinta ( kepada tanah air, bangsa, negara) ; kerja-sama ;
saling mengerti dalam rangkuman kerjasama ;
kesabaran-ketekunan-keuletan ; last but not least adalah
iman dan taqwa kepada Tuhan YME.
Spektrum nilai yang terkandung dalam tubuh N-250 sebagaimana
terinci di atas, jauh lebih kaya dan tidak semata terpaku
pada aspek teknologi. Dalam perspektif demikian, "harga"
yang patut diberikan untuk pesawat terbang itu justru
semakin tinggi, bahkan sampai tak ternilai. Keterwujudan
pesawat N-250 adalah sebuah bukti ketaatan yang masuk akal
(komitmen) putra-putri Indonesia kepada tata-nilai mendasar
demi kejayaan bangsa dan negara. Inilah pelajaran hakiki
yang tergelar secara nasional.
Namun sayang, nilai-nilai itu tidak secara lengkap
mendapatkan penonjolan (promosi)yang memadai di seputar
gempita penerbangan perdana itu. Karena nilai-nilai itu,
yang notabene nilai di luar iptek, sebenarnya sungguh sangat
mendasar. Namun justru di saat ini, terasa betapa di tengah
masyarakat luas, nilai-nilai itu, semisal dedikasi, disiplin
dan daya juang tinggi dalam bingkai
kesabaran-keuletan-ketekunan- di sana-sini terkikis oleh
adat impulsif (suka pemuasan secara harus dan segera) adat
kepraktisan tanpa mau bersusah-payah secara wajar dan
kecenderungan menempuh jalan pintas yang "instantly"
mendambakan kesuksesan.
Kesadaran kita tentang keberadaan spektrum nilai yang maha
kaya, majemuk dan banyak-matra (multidimensional) di tubuh
N-250, mendorong jelajah pikir menuju wawasan yang lebih
luas tentang eksistensi serta kesuksesan penerapan iptek.
Iptek tak mungkin berdiri sendiri. Apalagi kalau yang
dibicarakan adalah kesuksesan penerapannya, maka iptek harus
dirangkum hangat oleh dukungan laras-serasi (harmonis)
himpunan nilai-nilai mendasar sebagaimana tersebut d atas.
Hikmahnya, memelihara dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai
demi kesuksesan penguasaan dan penerapan iptek, adalah
sangat mendasar demi kejayaan peradaban dalam rangkuman
negara-bangsa.
Nilai-nilai yang mendasar itu secara objektif dan
proporsional perlu disosialisasikan kepada generasi muda
penerus bangsa. Dengan merenungkan dan mencamkan nilai-nilai
itu, generasi muda diharapkan termotivasi untuk lebih serius
dan lebih bersemangat dalam menuntut ilmu & belajar secara
formal / informal , untuk membangun bangsa sehingga kita
layak tampil sebagai bangsa yang kuat ; kuat di bidang
politik, ekonomi, kebudayaan dan teknologi.
Kebanggaan Bangsa
Pesawat N-250 lahir setelah berpuluh tahun didambakan oleh
bangsa Indonesia. Ia merupakan suatu konsensus mengenai
rangkaian gagasan dan cita-cita nasional kita yang
dikristalisasikan sebagai suatu "kebanggaan nasional".
Mungkin tidak berlebihan bila proses pembangunan pesawat
N-250 diibaratkan sebagai perjalanan intelektual yang
mengingatkan kita pada proses pembangunan candi Borobudur.
Borobudur bukan hanya kebanggaan rakyat Indonesia, tetapi
juga masyarakat dunia.
Kebanggaan suatu negara ternyata sangat mahal. Ia sering tak
bisa dibeli dengan kemampuan berdiplomasi semata. Suatu
bangsa akan dihormati dan disegani jika ia memiliki
sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Jika sudah masuk ke persoalan tersebut, menjadi salah bila
suatu bangsa semata-mata menggunakan rumusan matematik dan
hukum ekonomi guna menghitung untung rugi. Ketika Habibie
gencar memperkenalkan kebijakannya untuk merebut dan
menguasai teknologi tinggi, banyak ahli ekonomi dan politik
tampil ke depan membawa rumus kontra yang ruwet. Setelah
mereka menghitung-hitung sangat lama, maka kesimpulan akhir,
kebijakan Habibie adalah salah.( T.Taufiqulhadi,wartawan
Media Indonesia, 12 Agustus 1995)
Sebenarnya, mereka tidak perlu mengeluarkan berbagai rumus
muskil-muskil. Dengan rumus matematika SD yang sederhana
saja, terpampang jelas bahwa " proyek habibie tidak
menguntungkan secara ekonomis". Tapi , apakah membangun
bangsa yang kuat hanya butuh waktu dua hari atau tiga pekan
ke depan ? Sebuah Jepang yang sangat sejahtera kini, adalah
hasil proyeksi pemikiran yang jauh ke depan para pemimpin
negara itu pada tahun 1930-an. Mereka yakin, marwah suatu
bangsa harus direbut dengan keyakinan dan pengorbanan, bukan
dengan pertengkaran atau debat kusir. Mereka
mengatakan"Teknologi tinggi belum saatnya, atau, sudah
terlambat !" Lantas jika demikian, kapan saatnya atau kapan
tidak terlambat ?"
Seorang wartawan yang baru datang dari Los Angeles,
bercerita. Ketika ia berada di sana, beberapa rekan Muslim
Amerika mendekatinya dan menyatakan hormatnya dengan proyek
N-250 itu." Biarkan saya berbangga karena Indonesia adalah
negara Muslim." Katanya tulus.
Dari Muslim AS ini, kita tahu Muslim tidak hanya ada di
Indonesia dan Amerika, tapi ada di Malaysia, Pakistan dan di
belahan bumi lain di Afrika dan Asia Tengah.
Keberhasilan Abdus Salam dari Pakistan meraih hadiah Nobel
dalam bidang Fisika, adalah kebanggaan umat Islam di seluruh
dunia. Kejeniusan Habibie dalam bidang kedirgantaraan,
menjadi berita utama di sebuah koran di Bangladesh awal
1980-an , dan koran itu dipegang oleh seorang anak SD yang
menunjukkan pada ibunya tentang tulisan "Sarjana Muslim
membuat pesawat".
Bagi kita , kebanggaan terhadap pesawat buatan sendiri N-250
tidak perlu dipaksakan. Biarlah kebangganan itu tumbuh
secara alamiah. Mungkin waktulah yang akan menjawab, apakah
N-250 layak dibanggakan atau tidak.
***
Biodata
Hendarmin Djarab
Lahir di Jambi, 26 September 1956. Alumni Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran. Corporate Lawyer PT. Dirgantara Indonesia, Pengurus The
Bandung Lawyers, Legal Consultant law Office DMW. Editor buku
Pemikiran Hukum Memasuki Abad XXI, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase
di Indonesia
Hendarmin Djarab, SH., MBA
Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, yang mendiami
kepulauan Nusantara yang ribuan jumlahnya. Nenek moyang kita
merupakan pelaut-pelaut ulung yang biasa mengarungi samudera
luas. Karena itu, sejak dahulu, kita dikenal sebagai bangsa
Bahari,yaitu bangsa yang menggunakan laut sebagai wahana
transportasi dan kehidupan .
Luas wilayah Indonesia yang membentang dari barat ke timur
sama dengan jarak Los Angeles ke New York. Jarak yang
demikian jauh, secara mutlak menyebabkan pesawat terbang
menjadi sarana angkutan yang sangat penting dan kebutuhan
utama bagi Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia menjadi
pasar pesawat terbang yang potensial dan paling menarik bagi
negara-negara eksportir pesawat.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih
dari 17000 an pulau , adanya industri wahana transportasi
laut dan udara, merupakan kebutuhan . Kebutuhan Indonesia
akan kapal laut dan pesawat terbang , akan bersifat
seumur-umur,selama geografi Indonesia masih seperti sekarang
ini.. Kebutuhan itu diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa
pesawat atau kapal hanya berumur sekitar 25 tahun dan
setelah itu ia harus diganti dengan yang baru. Jadi manakala
satu paket pesanan selesai dibuat, produksi pertama perlu
diganti, melahirkan kebutuhan pengadaan yang tanpa henti.
Keadaan geografi dan sifat kebutuhan seperti itu jelas
menjadi pasar yang siap atau captive market bagi industri
transportasi, khususnya laut dan udara. Sekedar mencukupi
semua kebutuhan dengan membeli , merupakan hal mudah, tetapi
tidak akan melahirkan nilai tambah apa-apa bagi bangsa,
tidak menambah penguasaan iptek, tidak berupaya menghemat
devisa, dan memelihara sifat ketergantungan pada pemasok
asing.
Dengan meningkatnya transaksi perdagangan antar pulau /
antar benua, transportasi melalui laut dikalahkan oleh
transportasi udara. Jarak tempuh yang ribuan mil, dalam
sekejap dapat dicapai oleh pesawat udara. Berbeda dengan
kapal laut yang kecepatannya jauh di bawah pesawat udara.
Fakta lain yang patut kita ketahui bahwa angkasa adalah
wilayah transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia
yang mempunyai masa depan yang gemilang, sebelum manusia
meneruskan usaha mereka menjangkau planet-planet yang ada di
galaxi.
Ketika dunia makin menjadi satu, maka penguasaan angkasa
menjadi tempat yang strategis untuk mempertahankan
independensi wilayah nasional kita. Sebagai negara
kepulauan, Indonesia tidak hanya diharapkan kuat di bidang
kelautan, tetapi juga di bidang Kedirgantaraan. Lebih-lebih
dengan perkembangan teknologi sejak beberapa tahun terakhir
ini, semakin terbukti bahwa angkasa adalah wilayah
transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia.
Indonesia sebagai negara kepulauan, akan lebih meningkat
pertumbuhan ekonominya bila ditunjang oleh kelancaran sarana
transportasi udara . Juga dari segi Pertahanan Keamanan, TNI
Angkatan Udara perlu memiliki pesawat-pesawat Terbang yang
dapat mengamankan wilayah udara kita. Guna memenuhi
kebutuhan tsb, Pemerintah meresmikan berdirinya PT Nurtanio
( sekarang PT Dirgantara Indonesia, disingkat PTDI ) pada
tgl 23 Agustus 1976 di Bandung.
Berdirinya PT Nurtanio, menunjukkan tekad dan komitmen
Pemerintah untuk terwujudnya kemandirian bangsa di bidang
Teknologi Kedirgantaraan. Tanggal 23 Agustus 2001 PTDI
berusia 25 tahun. Usia yang cukup dewasa untuk ukuran
manusia. PT DI memang seharusnya telah dewasa. Kalau
kemampuan alih teknologi menjadi ukuran kedewasaan tsb, PT
DI sudah boleh dikatakan dewasa karena ia telah mampu
mengalihkan dan menguasai teknologi pesawat terbang yang
modern.
Dalam rangka proses alih teknologi tsb, telah banyak waktu,
tenaga, fikiran dan anggaran yang dihabiskan . Demi kemajuan
bangsa di bidang Teknologi, bangsa Indonesia c/q karyawan
PTDI telah berbuat banyak untuk itu. Perjuangan itu mungkin
belum maksimal. Memang perjuangan tsb belum maksimal dan
tidak akan pernah berakhir selama manusia selalu berinovasi
dan mencari terobosan-terobosan baru di segala bidang
kehidupan.
Sampai saat ini PTDI masih tetap berjuang untuk
mempertahankan keberadaannya di dunia Industri pesawat
terbang. Perjuangan tsb terasa lebih berat sejak
ditanda-tanganinya LoI (Letter of Intents ) antara
Pemerintah Indonesia dan IMF. Salah satu ketentuan LoI
adalah larangan bagi Pemerintah RI untuk mengucurkan dana
sepeserpun kepada PTDI. Sejak itu PTDI berusaha untuk
mandiri, tanpa mengharapkan subsidi (dari Pemerintah).
PTDI terus berjuang untuk maju, minimal tetap bertahan .
Tiada istilah mundur bagi PTDI, kecuali Pemerintah tidak
membutuhkan lagi keberadaannya. Sejak berdiri tahun 1976,
PTDI telah mencatat beberapa prestasi. Prestasi itu antara
lain keberhasilan membuat dan menjual pesawat C-212, BO-105,
Super Puma, Bell-412 dan pesawat Turboprop CN-235 .
Selanjutnya PTDI berhasil membuat sendiri pesawat Turboprop
N-250 yang dikendalikan sistem 'fly-by wire'. Di jajaran
pesawat komersial, N-250 adalah pesawat ke tiga di dunia
yang menerapkan teknologi Fly by Wire setelah Airbus A320
dan Boeing 777. Dalam industri penerbangan, teknologi fly by
wire baru dikembangkan pada tahun 1990-an. Teknologi ini
dinilai mampu memberikan jaminan keamanan penerbangan yang
lebih baik. Dengan fly by wire, komputer bisa sewaktu-waktu
mengambil alih kemudi pesawat jika tiba-tiba pilot lengah.
Sistem ini juga sekaligus melakukan berbagai koreksi
terhadap 'kesalahan manusiawi' (human error) yang dilakukan
pilot.
Selain itu, pesawat N-250 merupakan pesawat pertama
tercanggih yang menggunakan propeller. Ia memiliki kecepatan
jelajah tinggi, mencapai 330 knot, dan juga mempunyai
keunggulan pada aero-dynamic nya. Dalam pelaksanaan proyek
pembuatan pesawat N250, sesungguhnya bukan hanya terkandung
soal analisa dan strategi saja, melainkan juga optimisme,
heroisme dan idealisme bangsa Indonesia untuk mewujudkan
impiannya memiliki pesawat terbang buatan sendiri. Kalau
boleh dikatakan, Proyek N-250 merupakan bagian dari
perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu
mandiri di bidang kedirgantaraan.
Dengan terlaksananya proyek N-250 berarti Indonesia telah
mengukuhkan diri sebagai salah satu di antara sedikit negara
di dunia yang mampu merancang-bangun sendiri pesawat
terbang. PTDI telah berhasil membuktikan keandalan serta
kemampuan membuat pesawat hasil rancang bangunnya sendiri.
N-250 dan Nilai-Nilai
Proyek N-250 memang mengemban misi yang sarat dengan
aspirasi nasional. N-250 bukan hanya merupakan wahana bagi
aktualisasi kemampuan bangsa Indonesia dalam penguasaan dan
pengembangan teknologi tinggi, serta sebagai lembaga
ekonomi/bisnis belaka, melainkan juga prestise politik untuk
diperhitungkan oleh negara manapun di dunia.
Untuk menyongsong masa depan yang gemilang, generasi muda
Indonesia perlu memperdalam, memperluas, memperkaya dan
menyegarkan visi dan cita-cita mereka. Karena masa depan
penuh dengan tantangan ,permasalahan dan persaingan. Mereka
perlu menyuarakan cita-cita bangsa, merumuskan fikiran dan
mengembangkan pandangan untuk menghadapi tantangan zaman..
Bagi generasi muda Indonesia, proses pembangunan pesawat
N-250 memberi makna penting dalam rangka alih teknologi dan
pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia. Pesawat N-250
tidak mungkin terwujud tanpa ketekunan, disiplin, kerja
keras , kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari
semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, ada
nilai-nilai positif yang terkandung dalam proyek N-250.
Pesawat N-250 adalah representasi (wujud yang mewakili)
himpunan nilai-nilai yang sifatnya sangat mendasar demi
tegaknya peradaban sebuah bangsa dan negara ( Limas
Sutanto,N-250 " Gatotkoco " menghimpun Nilai-nilai", Pikiran
Rakyat, 21 Agustus 1995). N-250 menyimpan sekian nilai
(ranah) yang patut dibanggakan, antara lain: teknologi
tinggi, penguasaan iptek, kerja keras, semangat mengabdi
(dedikasi), disiplin tinggi, pengorbanan tanpa pamrih,
tata-kerja yang terarah jelas pada tujuan yang diyakini
benar ; keahlian (profesionalisme), ketaatan (komitmen)
kepada kewajiban / tugas ; daya juang yang tinggi ;
ketegaran dan ketabahan di tengah suka-duka ; aktualisasi
diri ; harga diri ; kepakaran ; percaya diri ; pengharapan ;
cinta ( kepada tanah air, bangsa, negara) ; kerja-sama ;
saling mengerti dalam rangkuman kerjasama ;
kesabaran-ketekunan-keuletan ; last but not least adalah
iman dan taqwa kepada Tuhan YME.
Spektrum nilai yang terkandung dalam tubuh N-250 sebagaimana
terinci di atas, jauh lebih kaya dan tidak semata terpaku
pada aspek teknologi. Dalam perspektif demikian, "harga"
yang patut diberikan untuk pesawat terbang itu justru
semakin tinggi, bahkan sampai tak ternilai. Keterwujudan
pesawat N-250 adalah sebuah bukti ketaatan yang masuk akal
(komitmen) putra-putri Indonesia kepada tata-nilai mendasar
demi kejayaan bangsa dan negara. Inilah pelajaran hakiki
yang tergelar secara nasional.
Namun sayang, nilai-nilai itu tidak secara lengkap
mendapatkan penonjolan (promosi)yang memadai di seputar
gempita penerbangan perdana itu. Karena nilai-nilai itu,
yang notabene nilai di luar iptek, sebenarnya sungguh sangat
mendasar. Namun justru di saat ini, terasa betapa di tengah
masyarakat luas, nilai-nilai itu, semisal dedikasi, disiplin
dan daya juang tinggi dalam bingkai
kesabaran-keuletan-ketekunan- di sana-sini terkikis oleh
adat impulsif (suka pemuasan secara harus dan segera) adat
kepraktisan tanpa mau bersusah-payah secara wajar dan
kecenderungan menempuh jalan pintas yang "instantly"
mendambakan kesuksesan.
Kesadaran kita tentang keberadaan spektrum nilai yang maha
kaya, majemuk dan banyak-matra (multidimensional) di tubuh
N-250, mendorong jelajah pikir menuju wawasan yang lebih
luas tentang eksistensi serta kesuksesan penerapan iptek.
Iptek tak mungkin berdiri sendiri. Apalagi kalau yang
dibicarakan adalah kesuksesan penerapannya, maka iptek harus
dirangkum hangat oleh dukungan laras-serasi (harmonis)
himpunan nilai-nilai mendasar sebagaimana tersebut d atas.
Hikmahnya, memelihara dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai
demi kesuksesan penguasaan dan penerapan iptek, adalah
sangat mendasar demi kejayaan peradaban dalam rangkuman
negara-bangsa.
Nilai-nilai yang mendasar itu secara objektif dan
proporsional perlu disosialisasikan kepada generasi muda
penerus bangsa. Dengan merenungkan dan mencamkan nilai-nilai
itu, generasi muda diharapkan termotivasi untuk lebih serius
dan lebih bersemangat dalam menuntut ilmu & belajar secara
formal / informal , untuk membangun bangsa sehingga kita
layak tampil sebagai bangsa yang kuat ; kuat di bidang
politik, ekonomi, kebudayaan dan teknologi.
Kebanggaan Bangsa
Pesawat N-250 lahir setelah berpuluh tahun didambakan oleh
bangsa Indonesia. Ia merupakan suatu konsensus mengenai
rangkaian gagasan dan cita-cita nasional kita yang
dikristalisasikan sebagai suatu "kebanggaan nasional".
Mungkin tidak berlebihan bila proses pembangunan pesawat
N-250 diibaratkan sebagai perjalanan intelektual yang
mengingatkan kita pada proses pembangunan candi Borobudur.
Borobudur bukan hanya kebanggaan rakyat Indonesia, tetapi
juga masyarakat dunia.
Kebanggaan suatu negara ternyata sangat mahal. Ia sering tak
bisa dibeli dengan kemampuan berdiplomasi semata. Suatu
bangsa akan dihormati dan disegani jika ia memiliki
sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Jika sudah masuk ke persoalan tersebut, menjadi salah bila
suatu bangsa semata-mata menggunakan rumusan matematik dan
hukum ekonomi guna menghitung untung rugi. Ketika Habibie
gencar memperkenalkan kebijakannya untuk merebut dan
menguasai teknologi tinggi, banyak ahli ekonomi dan politik
tampil ke depan membawa rumus kontra yang ruwet. Setelah
mereka menghitung-hitung sangat lama, maka kesimpulan akhir,
kebijakan Habibie adalah salah.( T.Taufiqulhadi,wartawan
Media Indonesia, 12 Agustus 1995)
Sebenarnya, mereka tidak perlu mengeluarkan berbagai rumus
muskil-muskil. Dengan rumus matematika SD yang sederhana
saja, terpampang jelas bahwa " proyek habibie tidak
menguntungkan secara ekonomis". Tapi , apakah membangun
bangsa yang kuat hanya butuh waktu dua hari atau tiga pekan
ke depan ? Sebuah Jepang yang sangat sejahtera kini, adalah
hasil proyeksi pemikiran yang jauh ke depan para pemimpin
negara itu pada tahun 1930-an. Mereka yakin, marwah suatu
bangsa harus direbut dengan keyakinan dan pengorbanan, bukan
dengan pertengkaran atau debat kusir. Mereka
mengatakan"Teknologi tinggi belum saatnya, atau, sudah
terlambat !" Lantas jika demikian, kapan saatnya atau kapan
tidak terlambat ?"
Seorang wartawan yang baru datang dari Los Angeles,
bercerita. Ketika ia berada di sana, beberapa rekan Muslim
Amerika mendekatinya dan menyatakan hormatnya dengan proyek
N-250 itu." Biarkan saya berbangga karena Indonesia adalah
negara Muslim." Katanya tulus.
Dari Muslim AS ini, kita tahu Muslim tidak hanya ada di
Indonesia dan Amerika, tapi ada di Malaysia, Pakistan dan di
belahan bumi lain di Afrika dan Asia Tengah.
Keberhasilan Abdus Salam dari Pakistan meraih hadiah Nobel
dalam bidang Fisika, adalah kebanggaan umat Islam di seluruh
dunia. Kejeniusan Habibie dalam bidang kedirgantaraan,
menjadi berita utama di sebuah koran di Bangladesh awal
1980-an , dan koran itu dipegang oleh seorang anak SD yang
menunjukkan pada ibunya tentang tulisan "Sarjana Muslim
membuat pesawat".
Bagi kita , kebanggaan terhadap pesawat buatan sendiri N-250
tidak perlu dipaksakan. Biarlah kebangganan itu tumbuh
secara alamiah. Mungkin waktulah yang akan menjawab, apakah
N-250 layak dibanggakan atau tidak.
***
Biodata
Hendarmin Djarab
Lahir di Jambi, 26 September 1956. Alumni Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran. Corporate Lawyer PT. Dirgantara Indonesia, Pengurus The
Bandung Lawyers, Legal Consultant law Office DMW. Editor buku
Pemikiran Hukum Memasuki Abad XXI, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase
di Indonesia
Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month!

