Bagi yang belum dan mau membaca:
 
N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA

          Hendarmin Djarab, SH., MBA

          Bangsa   Indonesia   adalah   bangsa  besar,  yang  mendiami
          kepulauan Nusantara yang ribuan jumlahnya. Nenek moyang kita
          merupakan pelaut-pelaut ulung yang biasa mengarungi samudera
          luas.  Karena itu, sejak dahulu, kita dikenal sebagai bangsa
          Bahari,yaitu  bangsa  yang  menggunakan  laut sebagai wahana
          transportasi dan kehidupan .

          Luas  wilayah  Indonesia yang membentang dari barat ke timur
          sama  dengan  jarak  Los  Angeles  ke  New  York. Jarak yang
          demikian  jauh,  secara  mutlak  menyebabkan pesawat terbang
          menjadi  sarana  angkutan  yang sangat penting dan kebutuhan
          utama  bagi  Indonesia.  Itulah  sebabnya  Indonesia menjadi
          pasar pesawat terbang yang potensial dan paling menarik bagi
          negara-negara eksportir pesawat.

          Bagi  Indonesia  sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih
          dari  17000  an  pulau , adanya industri wahana transportasi
          laut  dan  udara,  merupakan kebutuhan . Kebutuhan Indonesia
          akan   kapal  laut  dan  pesawat  terbang  ,  akan  bersifat
          seumur-umur,selama geografi Indonesia masih seperti sekarang
          ini..  Kebutuhan  itu  diperkuat  oleh suatu kenyataan bahwa
          pesawat  atau  kapal  hanya  berumur  sekitar  25  tahun dan
          setelah itu ia harus diganti dengan yang baru. Jadi manakala
          satu  paket  pesanan  selesai dibuat, produksi pertama perlu
          diganti, melahirkan kebutuhan pengadaan yang tanpa henti.

          Keadaan  geografi  dan  sifat  kebutuhan  seperti  itu jelas
          menjadi  pasar  yang  siap atau captive market bagi industri
          transportasi,  khususnya  laut  dan udara. Sekedar mencukupi
          semua kebutuhan dengan membeli , merupakan hal mudah, tetapi
          tidak  akan  melahirkan  nilai  tambah  apa-apa bagi bangsa,
          tidak  menambah  penguasaan  iptek, tidak berupaya menghemat
          devisa,  dan  memelihara  sifat  ketergantungan pada pemasok
          asing.

          Dengan  meningkatnya  transaksi  perdagangan  antar  pulau /
          antar  benua,  transportasi  melalui  laut  dikalahkan  oleh
          transportasi  udara.  Jarak  tempuh  yang  ribuan mil, dalam
          sekejap  dapat  dicapai  oleh  pesawat udara. Berbeda dengan
          kapal  laut  yang  kecepatannya jauh di bawah pesawat udara.
          Fakta  lain  yang  patut  kita  ketahui bahwa angkasa adalah
          wilayah transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia
          yang  mempunyai  masa  depan  yang gemilang, sebelum manusia
          meneruskan usaha mereka menjangkau planet-planet yang ada di
          galaxi.

          Ketika  dunia  makin  menjadi  satu, maka penguasaan angkasa
          menjadi   tempat   yang   strategis   untuk   mempertahankan
          independensi   wilayah   nasional   kita.   Sebagai   negara
          kepulauan,  Indonesia  tidak hanya diharapkan kuat di bidang
          kelautan,  tetapi juga di bidang Kedirgantaraan. Lebih-lebih
          dengan  perkembangan teknologi sejak beberapa tahun terakhir
          ini,   semakin   terbukti   bahwa   angkasa  adalah  wilayah
          transportasi tercepat, teraman dan termurah di dunia.

          Indonesia  sebagai  negara  kepulauan,  akan lebih meningkat
          pertumbuhan ekonominya bila ditunjang oleh kelancaran sarana
          transportasi udara . Juga dari segi Pertahanan Keamanan, TNI
          Angkatan  Udara  perlu memiliki pesawat-pesawat Terbang yang
          dapat   mengamankan   wilayah   udara  kita.  Guna  memenuhi
          kebutuhan  tsb, Pemerintah meresmikan berdirinya PT Nurtanio
          (  sekarang  PT  Dirgantara Indonesia, disingkat PTDI ) pada
          tgl 23 Agustus 1976 di Bandung.

          Berdirinya  PT  Nurtanio,  menunjukkan  tekad  dan  komitmen
          Pemerintah  untuk  terwujudnya  kemandirian bangsa di bidang
          Teknologi  Kedirgantaraan.  Tanggal  23  Agustus  2001  PTDI
          berusia  25  tahun.  Usia  yang  cukup  dewasa  untuk ukuran
          manusia.   PT  DI  memang  seharusnya  telah  dewasa.  Kalau
          kemampuan  alih  teknologi menjadi ukuran kedewasaan tsb, PT
          DI  sudah  boleh  dikatakan  dewasa  karena  ia  telah mampu
          mengalihkan  dan  menguasai  teknologi  pesawat terbang yang
          modern.

          Dalam  rangka proses alih teknologi tsb, telah banyak waktu,
          tenaga, fikiran dan anggaran yang dihabiskan . Demi kemajuan
          bangsa  di  bidang  Teknologi, bangsa Indonesia c/q karyawan
          PTDI  telah berbuat banyak untuk itu. Perjuangan itu mungkin
          belum  maksimal.  Memang  perjuangan  tsb belum maksimal dan
          tidak  akan pernah berakhir selama manusia selalu berinovasi
          dan   mencari  terobosan-terobosan  baru  di  segala  bidang
          kehidupan.

          Sampai   saat   ini   PTDI   masih   tetap   berjuang  untuk
          mempertahankan   keberadaannya  di  dunia  Industri  pesawat
          terbang.   Perjuangan   tsb   terasa   lebih   berat   sejak
          ditanda-tanganinya   LoI   (Letter   of   Intents  )  antara
          Pemerintah  Indonesia  dan  IMF.  Salah  satu  ketentuan LoI
          adalah  larangan  bagi  Pemerintah RI untuk mengucurkan dana
          sepeserpun  kepada  PTDI.  Sejak  itu  PTDI  berusaha  untuk
          mandiri, tanpa mengharapkan subsidi (dari Pemerintah).

          PTDI  terus  berjuang  untuk  maju, minimal tetap bertahan .
          Tiada  istilah  mundur  bagi  PTDI, kecuali Pemerintah tidak
          membutuhkan  lagi  keberadaannya.  Sejak berdiri tahun 1976,
          PTDI  telah  mencatat beberapa prestasi. Prestasi itu antara
          lain keberhasilan membuat dan menjual pesawat C-212, BO-105,
          Super Puma, Bell-412 dan pesawat Turboprop CN-235 .

          Selanjutnya  PTDI berhasil membuat sendiri pesawat Turboprop
          N-250  yang  dikendalikan  sistem  'fly-by wire'. Di jajaran
          pesawat  komersial,  N-250  adalah  pesawat ke tiga di dunia
          yang  menerapkan  teknologi  Fly by Wire setelah Airbus A320
          dan Boeing 777. Dalam industri penerbangan, teknologi fly by
          wire  baru  dikembangkan  pada  tahun 1990-an. Teknologi ini
          dinilai  mampu  memberikan jaminan keamanan penerbangan yang
          lebih  baik. Dengan fly by wire, komputer bisa sewaktu-waktu
          mengambil  alih  kemudi pesawat jika tiba-tiba pilot lengah.
          Sistem   ini   juga  sekaligus  melakukan  berbagai  koreksi
          terhadap  'kesalahan manusiawi' (human error) yang dilakukan
          pilot.

          Selain   itu,   pesawat   N-250  merupakan  pesawat  pertama
          tercanggih yang menggunakan propeller. Ia memiliki kecepatan
          jelajah  tinggi,  mencapai  330  knot,  dan  juga  mempunyai
          keunggulan  pada  aero-dynamic nya. Dalam pelaksanaan proyek
          pembuatan  pesawat N250, sesungguhnya bukan hanya terkandung
          soal  analisa  dan  strategi saja, melainkan juga optimisme,
          heroisme  dan  idealisme  bangsa  Indonesia untuk mewujudkan
          impiannya  memiliki  pesawat  terbang  buatan sendiri. Kalau
          boleh   dikatakan,   Proyek   N-250  merupakan  bagian  dari
          perjuangan  kita  untuk  mewujudkan  cita-cita bangsa, yaitu
          mandiri di bidang kedirgantaraan.

          Dengan  terlaksananya  proyek  N-250 berarti Indonesia telah
          mengukuhkan diri sebagai salah satu di antara sedikit negara
          di   dunia   yang  mampu  merancang-bangun  sendiri  pesawat
          terbang.  PTDI  telah  berhasil  membuktikan keandalan serta
          kemampuan membuat pesawat hasil rancang bangunnya sendiri.

          N-250 dan Nilai-Nilai

          Proyek   N-250  memang  mengemban  misi  yang  sarat  dengan
          aspirasi  nasional.  N-250 bukan hanya merupakan wahana bagi
          aktualisasi  kemampuan bangsa Indonesia dalam penguasaan dan
          pengembangan   teknologi   tinggi,   serta  sebagai  lembaga
          ekonomi/bisnis belaka, melainkan juga prestise politik untuk
          diperhitungkan oleh negara manapun di dunia.

          Untuk  menyongsong  masa  depan yang gemilang, generasi muda
          Indonesia  perlu  memperdalam,  memperluas,  memperkaya  dan
          menyegarkan  visi  dan  cita-cita  mereka. Karena masa depan
          penuh  dengan tantangan ,permasalahan dan persaingan. Mereka
          perlu  menyuarakan  cita-cita bangsa, merumuskan fikiran dan
          mengembangkan pandangan untuk menghadapi tantangan zaman..

          Bagi  generasi  muda  Indonesia,  proses pembangunan pesawat
          N-250  memberi makna penting dalam rangka alih teknologi dan
          pengembangan  Sumber  Daya  Manusia Indonesia. Pesawat N-250
          tidak  mungkin  terwujud  tanpa  ketekunan,  disiplin, kerja
          keras  ,  kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari
          semua  pihak yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, ada
          nilai-nilai positif yang terkandung dalam proyek N-250.

          Pesawat  N-250  adalah  representasi  (wujud  yang mewakili)
          himpunan  nilai-nilai  yang  sifatnya  sangat  mendasar demi
          tegaknya   peradaban   sebuah  bangsa  dan  negara  (  Limas
          Sutanto,N-250 " Gatotkoco " menghimpun Nilai-nilai", Pikiran
          Rakyat,  21  Agustus  1995).  N-250  menyimpan  sekian nilai
          (ranah)  yang  patut  dibanggakan,  antara  lain:  teknologi
          tinggi,  penguasaan  iptek,  kerja  keras, semangat mengabdi
          (dedikasi),   disiplin  tinggi,  pengorbanan  tanpa  pamrih,
          tata-kerja  yang  terarah  jelas  pada  tujuan yang diyakini
          benar  ;  keahlian  (profesionalisme),  ketaatan  (komitmen)
          kepada  kewajiban  /  tugas  ;  daya  juang  yang  tinggi  ;
          ketegaran  dan  ketabahan  di tengah suka-duka ; aktualisasi
          diri ; harga diri ; kepakaran ; percaya diri ; pengharapan ;
          cinta  (  kepada  tanah  air, bangsa, negara) ; kerja-sama ;
          saling  mengerti  dalam  rangkuman  kerjasama              ;
          kesabaran-ketekunan-keuletan  ;  last  but  not least adalah
          iman dan taqwa kepada Tuhan YME.

          Spektrum nilai yang terkandung dalam tubuh N-250 sebagaimana
          terinci  di  atas,  jauh lebih kaya dan tidak semata terpaku
          pada  aspek  teknologi.  Dalam  perspektif demikian, "harga"
          yang  patut  diberikan  untuk  pesawat  terbang  itu  justru
          semakin  tinggi,  bahkan  sampai  tak ternilai. Keterwujudan
          pesawat  N-250  adalah sebuah bukti ketaatan yang masuk akal
          (komitmen)  putra-putri Indonesia kepada tata-nilai mendasar
          demi  kejayaan  bangsa  dan  negara. Inilah pelajaran hakiki
          yang tergelar secara nasional.

          Namun   sayang,   nilai-nilai   itu   tidak  secara  lengkap
          mendapatkan  penonjolan  (promosi)yang  memadai  di  seputar
          gempita  penerbangan  perdana  itu.  Karena nilai-nilai itu,
          yang notabene nilai di luar iptek, sebenarnya sungguh sangat
          mendasar.  Namun justru di saat ini, terasa betapa di tengah
          masyarakat luas, nilai-nilai itu, semisal dedikasi, disiplin
          dan      daya      juang      tinggi      dalam      bingkai
          kesabaran-keuletan-ketekunan-  di  sana-sini  terkikis  oleh
          adat  impulsif  (suka pemuasan secara harus dan segera) adat
          kepraktisan   tanpa  mau  bersusah-payah  secara  wajar  dan
          kecenderungan   menempuh   jalan   pintas  yang  "instantly"
          mendambakan kesuksesan.

          Kesadaran  kita  tentang keberadaan spektrum nilai yang maha
          kaya,  majemuk  dan banyak-matra (multidimensional) di tubuh
          N-250,  mendorong  jelajah  pikir  menuju wawasan yang lebih
          luas tentang eksistensi serta kesuksesan penerapan iptek.

          Iptek  tak  mungkin  berdiri  sendiri.  Apalagi  kalau  yang
          dibicarakan adalah kesuksesan penerapannya, maka iptek harus
          dirangkum   hangat  oleh  dukungan  laras-serasi  (harmonis)
          himpunan  nilai-nilai  mendasar sebagaimana tersebut d atas.
          Hikmahnya,  memelihara  dan  menumbuh-kembangkan nilai-nilai
          demi  kesuksesan  penguasaan  dan  penerapan  iptek,  adalah
          sangat  mendasar  demi  kejayaan  peradaban  dalam rangkuman
          negara-bangsa.

          Nilai-nilai   yang   mendasar   itu   secara   objektif  dan
          proporsional  perlu  disosialisasikan  kepada  generasi muda
          penerus bangsa. Dengan merenungkan dan mencamkan nilai-nilai
          itu, generasi muda diharapkan termotivasi untuk lebih serius
          dan  lebih  bersemangat dalam menuntut ilmu & belajar secara
          formal  /  informal  ,  untuk membangun bangsa sehingga kita
          layak  tampil  sebagai  bangsa  yang  kuat  ; kuat di bidang
          politik, ekonomi, kebudayaan dan teknologi.

          Kebanggaan Bangsa

          Pesawat  N-250  lahir setelah berpuluh tahun didambakan oleh
          bangsa  Indonesia.  Ia  merupakan  suatu  konsensus mengenai
          rangkaian   gagasan   dan   cita-cita   nasional  kita  yang
          dikristalisasikan sebagai suatu "kebanggaan nasional".

          Mungkin  tidak  berlebihan  bila  proses pembangunan pesawat
          N-250   diibaratkan   sebagai  perjalanan  intelektual  yang
          mengingatkan  kita  pada proses pembangunan candi Borobudur.
          Borobudur  bukan  hanya  kebanggaan rakyat Indonesia, tetapi
          juga masyarakat dunia.

          Kebanggaan suatu negara ternyata sangat mahal. Ia sering tak
          bisa  dibeli  dengan  kemampuan  berdiplomasi  semata. Suatu
          bangsa   akan   dihormati  dan  disegani  jika  ia  memiliki
          sumbangan   terhadap   perkembangan   ilmu  pengetahuan  dan
          teknologi.

          Jika  sudah  masuk ke persoalan tersebut, menjadi salah bila
          suatu  bangsa  semata-mata menggunakan rumusan matematik dan
          hukum  ekonomi  guna  menghitung untung rugi. Ketika Habibie
          gencar   memperkenalkan   kebijakannya   untuk  merebut  dan
          menguasai  teknologi tinggi, banyak ahli ekonomi dan politik
          tampil  ke  depan  membawa  rumus kontra yang ruwet. Setelah
          mereka menghitung-hitung sangat lama, maka kesimpulan akhir,
          kebijakan  Habibie  adalah  salah.(  T.Taufiqulhadi,wartawan
          Media Indonesia, 12 Agustus 1995)

          Sebenarnya,  mereka  tidak perlu mengeluarkan berbagai rumus
          muskil-muskil.  Dengan  rumus  matematika  SD yang sederhana
          saja,   terpampang   jelas  bahwa  "  proyek  habibie  tidak
          menguntungkan  secara  ekonomis".  Tapi  ,  apakah membangun
          bangsa  yang kuat hanya butuh waktu dua hari atau tiga pekan
          ke  depan ? Sebuah Jepang yang sangat sejahtera kini, adalah
          hasil  proyeksi  pemikiran  yang jauh ke depan para pemimpin
          negara  itu  pada  tahun 1930-an. Mereka yakin, marwah suatu
          bangsa harus direbut dengan keyakinan dan pengorbanan, bukan
          dengan     pertengkaran    atau    debat    kusir.    Mereka
          mengatakan"Teknologi   tinggi  belum  saatnya,  atau,  sudah
          terlambat  !" Lantas jika demikian, kapan saatnya atau kapan
          tidak terlambat ?"

          Seorang   wartawan   yang  baru  datang  dari  Los  Angeles,
          bercerita.  Ketika  ia berada di sana, beberapa rekan Muslim
          Amerika  mendekatinya dan menyatakan hormatnya dengan proyek
          N-250  itu."  Biarkan saya berbangga karena Indonesia adalah
          negara Muslim." Katanya tulus.

          Dari  Muslim  AS  ini,  kita  tahu Muslim tidak hanya ada di
          Indonesia dan Amerika, tapi ada di Malaysia, Pakistan dan di
          belahan bumi lain di Afrika dan Asia Tengah.

          Keberhasilan  Abdus  Salam dari Pakistan meraih hadiah Nobel
          dalam bidang Fisika, adalah kebanggaan umat Islam di seluruh
          dunia.   Kejeniusan  Habibie  dalam  bidang  kedirgantaraan,
          menjadi  berita  utama  di  sebuah  koran di Bangladesh awal
          1980-an  ,  dan koran itu dipegang oleh seorang anak SD yang
          menunjukkan  pada  ibunya  tentang  tulisan  "Sarjana Muslim
          membuat pesawat".

          Bagi kita , kebanggaan terhadap pesawat buatan sendiri N-250
          tidak  perlu  dipaksakan.  Biarlah  kebangganan  itu  tumbuh
          secara  alamiah. Mungkin waktulah yang akan menjawab, apakah
          N-250 layak dibanggakan atau tidak.



***


Biodata
Hendarmin Djarab
Lahir  di  Jambi, 26 September 1956. Alumni Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran.  Corporate  Lawyer PT. Dirgantara Indonesia, Pengurus The
Bandung   Lawyers,  Legal  Consultant  law  Office  DMW.  Editor  buku
Pemikiran  Hukum  Memasuki Abad XXI, Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase
di Indonesia


Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month!

Kirim email ke