|
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ada yang kurang disampaikan oleh penulis karangan
ini dan hal itu salah satu pokok kegagalan
PTDI (IPTN) yaitu soal sertifikasi oleh FAA
(Federal Aviation Agency) dari Amrik.
Seharusnya diceritakan bagaimana FAA menolak
sertifikasi laik terbang dari N250, dan sebelumnya
menolak sertifikasi design. Kenapa?
Dikejar oleh waktu Habibie dkk main potong kompas
dalam design sampai manufacturing prototype
N250, padahal itu adalah pantangan dalam industri
aviasi, hasilnya ketika personnel FAA datang
nggak ada yang lolos sertifikasi, pada hal mereka
telah dilobby besar-besaran, ternyata iman
mereka tidak goyah (ini perlu kita
tiru).
Kenapa FAA yang harus mensertifikasi? Hampir 90%
pesawat non militer didunia mengandalkan
sertifikasi dari FAA, karena mereka terbukti tegung
memegang prinsip, harus sesuai standard yang
mereka tuliskan, yaitu sunatullah dalam
aviation. Kenapa mereka mampu, karena mereka orang yang
mau berfikir bebas, sehingga seorang auditor FAA,
bagga dengan kerjaannya, dan tidak akan mungkin
disogok untuk tanda tangan atas yang tidak
memenuhi sunatullah aviation.
N250 kalau mau dapat sertifikat FAA dan laku
dijual, harus dirancang ulang sesuai sunatullah FAA.
Untuk direnungkan
Salam
SBN
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, July 16, 2003 11:35
AM
Subject: [RantauNet.Com] N250 DAN
KEBANGGAAN BANGSA
Bagi yang belum dan mau membaca:
N250 DAN KEBANGGAAN
BANGSA
Hendarmin
Djarab, SH., MBA
Bangsa Indonesia adalah bangsa
besar, yang
mendiami kepulauan
Nusantara yang ribuan jumlahnya. Nenek moyang
kita merupakan
pelaut-pelaut ulung yang biasa mengarungi
samudera luas.
Karena itu, sejak dahulu, kita dikenal sebagai
bangsa
Bahari,yaitu bangsa yang menggunakan laut sebagai
wahana transportasi
dan kehidupan .
Luas wilayah Indonesia yang membentang dari barat ke
timur sama
dengan jarak Los Angeles ke New York.
Jarak yang
demikian jauh, secara mutlak menyebabkan pesawat
terbang
menjadi sarana angkutan yang sangat penting dan
kebutuhan
utama bagi Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia
menjadi pasar
pesawat terbang yang potensial dan paling menarik
bagi negara-negara
eksportir
pesawat.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri
lebih dari
17000 an pulau , adanya industri wahana
transportasi
laut dan udara, merupakan kebutuhan . Kebutuhan
Indonesia
akan kapal laut dan pesawat terbang
, akan
bersifat
seumur-umur,selama geografi Indonesia masih seperti
sekarang ini..
Kebutuhan itu diperkuat oleh suatu kenyataan
bahwa pesawat
atau kapal hanya berumur sekitar 25 tahun
dan setelah itu ia
harus diganti dengan yang baru. Jadi
manakala satu
paket pesanan selesai dibuat, produksi pertama
perlu diganti,
melahirkan kebutuhan pengadaan yang tanpa
henti.
Keadaan geografi dan sifat kebutuhan
seperti itu
jelas menjadi
pasar yang siap atau captive market bagi
industri
transportasi, khususnya laut dan udara. Sekedar
mencukupi semua
kebutuhan dengan membeli , merupakan hal mudah,
tetapi tidak
akan melahirkan nilai tambah apa-apa bagi
bangsa, tidak
menambah penguasaan iptek, tidak berupaya
menghemat
devisa, dan memelihara sifat ketergantungan pada
pemasok
asing.
Dengan meningkatnya transaksi perdagangan antar
pulau / antar
benua, transportasi melalui laut dikalahkan
oleh
transportasi udara. Jarak tempuh yang ribuan
mil, dalam
sekejap dapat dicapai oleh pesawat udara. Berbeda
dengan kapal
laut yang kecepatannya jauh di bawah pesawat
udara. Fakta
lain yang patut kita ketahui bahwa angkasa
adalah wilayah
transportasi tercepat, teraman dan termurah di
dunia yang
mempunyai masa depan yang gemilang, sebelum
manusia meneruskan
usaha mereka menjangkau planet-planet yang ada
di
galaxi.
Ketika dunia makin menjadi satu, maka penguasaan
angkasa
menjadi tempat yang strategis
untuk
mempertahankan
independensi wilayah nasional
kita. Sebagai
negara
kepulauan, Indonesia tidak hanya diharapkan kuat di
bidang
kelautan, tetapi juga di bidang Kedirgantaraan.
Lebih-lebih
dengan perkembangan teknologi sejak beberapa tahun
terakhir
ini, semakin terbukti bahwa
angkasa adalah
wilayah transportasi
tercepat, teraman dan termurah di
dunia.
Indonesia sebagai negara kepulauan, akan lebih
meningkat
pertumbuhan ekonominya bila ditunjang oleh kelancaran
sarana transportasi
udara . Juga dari segi Pertahanan Keamanan,
TNI Angkatan
Udara perlu memiliki pesawat-pesawat Terbang
yang
dapat mengamankan wilayah udara
kita. Guna
memenuhi
kebutuhan tsb, Pemerintah meresmikan berdirinya PT
Nurtanio (
sekarang PT Dirgantara Indonesia, disingkat PTDI )
pada tgl 23 Agustus
1976 di Bandung.
Berdirinya PT Nurtanio, menunjukkan tekad
dan komitmen
Pemerintah untuk terwujudnya kemandirian bangsa di
bidang
Teknologi Kedirgantaraan. Tanggal 23 Agustus
2001 PTDI
berusia 25 tahun. Usia yang cukup
dewasa untuk
ukuran
manusia. PT DI memang seharusnya
telah dewasa.
Kalau
kemampuan alih teknologi menjadi ukuran kedewasaan tsb,
PT DI
sudah boleh dikatakan dewasa karena ia
telah mampu
mengalihkan dan menguasai teknologi pesawat terbang
yang
modern.
Dalam rangka proses alih teknologi tsb, telah banyak
waktu, tenaga,
fikiran dan anggaran yang dihabiskan . Demi
kemajuan
bangsa di bidang Teknologi, bangsa Indonesia c/q
karyawan PTDI
telah berbuat banyak untuk itu. Perjuangan itu
mungkin belum
maksimal. Memang perjuangan tsb belum maksimal
dan tidak akan
pernah berakhir selama manusia selalu
berinovasi
dan mencari terobosan-terobosan baru di
segala bidang
kehidupan.
Sampai saat ini PTDI
masih tetap berjuang
untuk
mempertahankan keberadaannya di dunia
Industri
pesawat
terbang. Perjuangan tsb terasa
lebih berat
sejak
ditanda-tanganinya LoI (Letter
of Intents )
antara
Pemerintah Indonesia dan IMF. Salah satu
ketentuan LoI
adalah larangan bagi Pemerintah RI untuk mengucurkan
dana
sepeserpun kepada PTDI. Sejak itu PTDI
berusaha untuk
mandiri, tanpa mengharapkan subsidi (dari
Pemerintah).
PTDI terus berjuang untuk maju, minimal tetap bertahan
. Tiada
istilah mundur bagi PTDI, kecuali Pemerintah
tidak
membutuhkan lagi keberadaannya. Sejak berdiri tahun
1976, PTDI
telah mencatat beberapa prestasi. Prestasi itu
antara lain
keberhasilan membuat dan menjual pesawat C-212,
BO-105, Super Puma,
Bell-412 dan pesawat Turboprop CN-235
.
Selanjutnya PTDI berhasil membuat sendiri pesawat
Turboprop
N-250 yang dikendalikan sistem 'fly-by wire'. Di
jajaran
pesawat komersial, N-250 adalah pesawat ke tiga di
dunia yang
menerapkan teknologi Fly by Wire setelah Airbus
A320 dan Boeing 777.
Dalam industri penerbangan, teknologi fly
by wire
baru dikembangkan pada tahun 1990-an. Teknologi
ini dinilai
mampu memberikan jaminan keamanan penerbangan
yang lebih
baik. Dengan fly by wire, komputer bisa
sewaktu-waktu
mengambil alih kemudi pesawat jika tiba-tiba pilot
lengah.
Sistem ini juga sekaligus melakukan
berbagai
koreksi
terhadap 'kesalahan manusiawi' (human error) yang
dilakukan
pilot.
Selain itu, pesawat N-250
merupakan pesawat
pertama tercanggih
yang menggunakan propeller. Ia memiliki
kecepatan
jelajah tinggi, mencapai 330 knot, dan
juga mempunyai
keunggulan pada aero-dynamic nya. Dalam pelaksanaan
proyek
pembuatan pesawat N250, sesungguhnya bukan hanya
terkandung
soal analisa dan strategi saja, melainkan juga
optimisme,
heroisme dan idealisme bangsa Indonesia untuk
mewujudkan
impiannya memiliki pesawat terbang buatan sendiri.
Kalau
boleh dikatakan, Proyek N-250
merupakan bagian
dari
perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita bangsa,
yaitu mandiri di
bidang
kedirgantaraan.
Dengan terlaksananya proyek N-250 berarti Indonesia
telah mengukuhkan
diri sebagai salah satu di antara sedikit
negara
di dunia yang mampu merancang-bangun
sendiri
pesawat
terbang. PTDI telah berhasil membuktikan keandalan
serta kemampuan
membuat pesawat hasil rancang bangunnya
sendiri.
N-250
dan Nilai-Nilai
Proyek N-250 memang mengemban misi
yang sarat
dengan
aspirasi nasional. N-250 bukan hanya merupakan wahana
bagi
aktualisasi kemampuan bangsa Indonesia dalam penguasaan
dan
pengembangan teknologi tinggi, serta
sebagai
lembaga
ekonomi/bisnis belaka, melainkan juga prestise politik
untuk diperhitungkan
oleh negara manapun di
dunia.
Untuk menyongsong masa depan yang gemilang, generasi
muda Indonesia
perlu memperdalam, memperluas, memperkaya
dan
menyegarkan visi dan cita-cita mereka. Karena masa
depan penuh
dengan tantangan ,permasalahan dan persaingan.
Mereka perlu
menyuarakan cita-cita bangsa, merumuskan fikiran
dan mengembangkan
pandangan untuk menghadapi tantangan
zaman..
Bagi generasi muda Indonesia, proses pembangunan
pesawat N-250
memberi makna penting dalam rangka alih teknologi
dan
pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia. Pesawat
N-250 tidak
mungkin terwujud tanpa ketekunan, disiplin,
kerja keras
, kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi
dari semua
pihak yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian,
ada nilai-nilai
positif yang terkandung dalam proyek
N-250.
Pesawat N-250 adalah representasi (wujud yang
mewakili)
himpunan nilai-nilai yang sifatnya sangat
mendasar demi
tegaknya peradaban sebuah bangsa dan
negara (
Limas Sutanto,N-250
" Gatotkoco " menghimpun Nilai-nilai",
Pikiran
Rakyat, 21 Agustus 1995). N-250 menyimpan
sekian nilai
(ranah) yang patut dibanggakan, antara
lain:
teknologi
tinggi, penguasaan iptek, kerja keras, semangat
mengabdi
(dedikasi), disiplin tinggi, pengorbanan
tanpa pamrih,
tata-kerja yang terarah jelas pada tujuan yang
diyakini benar
; keahlian (profesionalisme), ketaatan
(komitmen)
kepada kewajiban / tugas ; daya
juang yang tinggi
; ketegaran
dan ketabahan di tengah suka-duka ;
aktualisasi diri ;
harga diri ; kepakaran ; percaya diri ; pengharapan
; cinta
( kepada tanah air, bangsa, negara) ; kerja-sama
; saling
mengerti dalam rangkuman
kerjasama
;
kesabaran-ketekunan-keuletan ; last but not least
adalah iman dan
taqwa kepada Tuhan
YME.
Spektrum
nilai yang terkandung dalam tubuh N-250
sebagaimana
terinci di atas, jauh lebih kaya dan tidak semata
terpaku pada
aspek teknologi. Dalam perspektif demikian,
"harga" yang
patut diberikan untuk pesawat terbang itu
justru semakin
tinggi, bahkan sampai tak ternilai.
Keterwujudan
pesawat N-250 adalah sebuah bukti ketaatan yang masuk
akal
(komitmen) putra-putri Indonesia kepada tata-nilai
mendasar demi
kejayaan bangsa dan negara. Inilah pelajaran
hakiki yang tergelar
secara nasional.
Namun sayang, nilai-nilai itu
tidak secara
lengkap
mendapatkan penonjolan (promosi)yang memadai di
seputar
gempita penerbangan perdana itu. Karena nilai-nilai
itu, yang notabene
nilai di luar iptek, sebenarnya sungguh
sangat
mendasar. Namun justru di saat ini, terasa betapa di
tengah masyarakat
luas, nilai-nilai itu, semisal dedikasi,
disiplin
dan daya
juang tinggi
dalam
bingkai
kesabaran-keuletan-ketekunan- di sana-sini terkikis
oleh adat
impulsif (suka pemuasan secara harus dan segera)
adat
kepraktisan tanpa mau bersusah-payah
secara wajar
dan
kecenderungan menempuh jalan pintas
yang
"instantly"
mendambakan
kesuksesan.
Kesadaran kita tentang keberadaan spektrum nilai yang
maha kaya,
majemuk dan banyak-matra (multidimensional) di
tubuh N-250,
mendorong jelajah pikir menuju wawasan yang
lebih luas tentang
eksistensi serta kesuksesan penerapan
iptek.
Iptek tak mungkin berdiri sendiri. Apalagi
kalau yang
dibicarakan adalah kesuksesan penerapannya, maka iptek
harus
dirangkum hangat oleh dukungan
laras-serasi
(harmonis)
himpunan nilai-nilai mendasar sebagaimana tersebut d
atas.
Hikmahnya, memelihara dan menumbuh-kembangkan
nilai-nilai
demi kesuksesan penguasaan dan penerapan
iptek, adalah
sangat mendasar demi kejayaan peradaban dalam
rangkuman
negara-bangsa.
Nilai-nilai yang mendasar itu
secara objektif
dan
proporsional perlu disosialisasikan kepada generasi
muda penerus bangsa.
Dengan merenungkan dan mencamkan
nilai-nilai itu,
generasi muda diharapkan termotivasi untuk lebih
serius dan
lebih bersemangat dalam menuntut ilmu & belajar
secara formal
/ informal , untuk membangun bangsa sehingga
kita layak
tampil sebagai bangsa yang kuat ; kuat di
bidang politik,
ekonomi, kebudayaan dan
teknologi.
Kebanggaan
Bangsa
Pesawat N-250 lahir setelah berpuluh tahun didambakan
oleh bangsa
Indonesia. Ia merupakan suatu konsensus
mengenai
rangkaian gagasan dan
cita-cita nasional kita
yang
dikristalisasikan sebagai suatu "kebanggaan
nasional".
Mungkin tidak berlebihan bila proses pembangunan
pesawat
N-250 diibaratkan sebagai perjalanan
intelektual
yang
mengingatkan kita pada proses pembangunan candi
Borobudur.
Borobudur bukan hanya kebanggaan rakyat Indonesia,
tetapi juga
masyarakat
dunia.
Kebanggaan suatu negara ternyata sangat mahal. Ia sering
tak bisa
dibeli dengan kemampuan berdiplomasi semata.
Suatu
bangsa akan dihormati dan disegani
jika ia
memiliki
sumbangan terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan
dan
teknologi.
Jika sudah masuk ke persoalan tersebut, menjadi salah
bila suatu
bangsa semata-mata menggunakan rumusan matematik
dan hukum
ekonomi guna menghitung untung rugi. Ketika
Habibie
gencar memperkenalkan kebijakannya
untuk merebut
dan menguasai
teknologi tinggi, banyak ahli ekonomi dan
politik tampil
ke depan membawa rumus kontra yang ruwet.
Setelah mereka
menghitung-hitung sangat lama, maka kesimpulan
akhir,
kebijakan Habibie adalah salah.(
T.Taufiqulhadi,wartawan
Media Indonesia, 12 Agustus
1995)
Sebenarnya, mereka tidak perlu mengeluarkan berbagai
rumus
muskil-muskil. Dengan rumus matematika SD yang
sederhana
saja, terpampang jelas bahwa "
proyek habibie
tidak
menguntungkan secara ekonomis". Tapi , apakah
membangun
bangsa yang kuat hanya butuh waktu dua hari atau tiga
pekan ke depan
? Sebuah Jepang yang sangat sejahtera kini,
adalah hasil
proyeksi pemikiran yang jauh ke depan para
pemimpin
negara itu pada tahun 1930-an. Mereka yakin, marwah
suatu bangsa harus
direbut dengan keyakinan dan pengorbanan,
bukan
dengan pertengkaran
atau debat kusir.
Mereka
mengatakan"Teknologi tinggi belum saatnya,
atau, sudah
terlambat !" Lantas jika demikian, kapan saatnya atau
kapan tidak
terlambat ?"
Seorang wartawan yang baru datang
dari Los
Angeles,
bercerita. Ketika ia berada di sana, beberapa rekan
Muslim Amerika
mendekatinya dan menyatakan hormatnya dengan
proyek N-250
itu." Biarkan saya berbangga karena Indonesia
adalah negara
Muslim." Katanya
tulus.
Dari Muslim AS ini, kita tahu Muslim tidak hanya
ada di Indonesia dan
Amerika, tapi ada di Malaysia, Pakistan dan
di belahan bumi lain
di Afrika dan Asia
Tengah.
Keberhasilan Abdus Salam dari Pakistan meraih hadiah
Nobel dalam bidang
Fisika, adalah kebanggaan umat Islam di
seluruh
dunia. Kejeniusan Habibie dalam bidang
kedirgantaraan,
menjadi berita utama di sebuah koran di
Bangladesh awal
1980-an , dan koran itu dipegang oleh seorang anak SD
yang
menunjukkan pada ibunya tentang tulisan "Sarjana
Muslim membuat
pesawat".
Bagi
kita , kebanggaan terhadap pesawat buatan sendiri
N-250 tidak
perlu dipaksakan. Biarlah kebangganan itu
tumbuh secara
alamiah. Mungkin waktulah yang akan menjawab,
apakah N-250 layak
dibanggakan atau tidak.
***
Biodata Hendarmin
Djarab Lahir di Jambi, 26 September 1956. Alumni Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran. Corporate Lawyer PT. Dirgantara
Indonesia, Pengurus The Bandung Lawyers, Legal
Consultant law Office DMW. Editor
buku Pemikiran Hukum Memasuki Abad XXI, Prospek dan Pelaksanaan
Arbitrase di Indonesia
Do you Yahoo!? SBC
Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month!
|