Sato sakaki......
Kalau tidak salah dulu saya pernah membaca N250, berarti 2 mesin 50 penumpang, dan telah dilakukan uji kelayakan terbang, ternyata tidak lulus test, salah satunya kelebihan berat pada bagian belakang,namun kita boleh bangga, setidaknya putra bangsa ini telah mampu membuktikan bahwa kita bisa menghasilkan produk seperti N250 ini. Namun ada satu hal yang kita ambil hikmahnya, seperti layaknya hal2 baru yg dilakukan pemerintahan pada zaman Orba khusunya, mulai dari rencana produksi hingga proses produksi selesai, pemberitaannya terlalu digembar-gemborkan, seakan-akan kita telah mampu menaklukkan dunia dalam bisnis pesawat. Kita berani menawarkan kepada negara2 lain untuk memesan pesawat untuk negara mereka dimana kadang2 kita tidak sungkan2 menyembunyikan masalah2 yang fatal demi mendapat nama dan aplaus dari orang lain. Maklumlah hukum alam di negara kita kan seperti itu, siapa yang bersuara lancar dan kritis akan mendapat perhatian lebih. Setidaknya orang2 telah menyangka dia seorang yg hebat, jenius, kritis, peduli dengan orang lain, padahal kalo ditelusuri hanya 0 X 0. Jadi janganlah kita melihat kegagalan pada N250 dicari-cari siapa yg salah, tapi mulailah kita bersikap sportif dengan kekurangan kita. Salut saya kepada pak habibie yang punya keinginan kembali ke PT DI, setidaknya beliau telah menunjukkan tanggungjawabnya terhadap PT DI, rakyat dan pemerintah indonesia dan mudah2an bangsa kita akan bangkit kemabli dari tidurnya.Amiin......
 
 
wassalam
Ben, Sutan Lenggang
----- Original Message -----
Sent: Thursday, July 17, 2003 9:21 AM
Subject: Re: [RantauNet.Com] N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA

 DAN KEBANGGAAN BANGSA
pesawat dan beras ketan adalah
sama2 hasil dari sebuah proses kerja keras
 
komen dikit:
 
kalo gitu, seharusnya kita juga jangan lupa utk bangga sama petani, ya..karena hasil karya mereka bisa di sejajarkan dg hasil karya para rekayasawan yg sekolah tinggi.
 
tapi, kok kita tidak terlalu memperhatikan nasib mereka (petani, penanam tanaman pangan lainnya, peternak hewan, nelayan)
 
pupuk yg makin hari makin mahal, lahan sawah yg sudah jadi hotel/perumahan dll, sistim distribusi yg ribet, harga jual yg tidak terlalu berpihak sama petani, kapal pukat harimau milik negara lain yg beroperasi di perairan kita. Belum lagi nanti kalau makanan yg berasal dari tanaman/hewan yg gen nya di modifikasi (genetically modified crops) sudah lazim, mungkin semua petani/nelayan/peternak IND terancam nganggur ngga bisa lagi bersaing di pasar dalam negri, karena impor beras/ikan bandeng GMC lebih murah ketimbang beli produksi dlm negri.
 
Ada ngga yg membantu petani kita secara tekonolgis, memakai foto satelit, misalnya ? Ya ngga lah, ini mungkin cuman mimpi aja. Mana ada yg mau buang2 duit/waktu bantu petani. Ngga elit.
 
Padahal terbukti, para petani/peternak/ lah yg tahan banting selama krisis ekonomi dulu. Lihat lah petani cengkeh, kopi di sulawesi sana. Segimana suksesnya mereka di jaman krisis 97-98 dulu. Katanya sih, negara2 agraris lainnya juga tidak terlalu kena imbas, karena hasil produksi pangan mereka bisa di expor utk memenuhi kebutuhan komoditas lain di negrinya (seperti, butuh pesawat di Thailand, tukar aja dg beras)
 
Eh, ambo tentu ikut juga prihatin dg nasib kawan2 di IPTN. Ngga kebayang kalo ambo sendiri yg kena musibah gitu. Hanya saja, secara kaca mata besar, kita juga sudah harus bisa memprioritaskan berdasarkan SWOT negri kita, mana yg harusnya di dahulukan: menjadi agraris, atau langsung menjadi industrialis dan lepas landas (istilahnya Pak Tin, eh Pak Harto dulu..)
 
Wassalam,
 
dino.
 
 
 
 

============================================================
'SOAR AWAY TO SEDONA'
Check out attractive value getaway packages at www.sedonahotels.com.sg
============================================================
=========================================================
For more information on our Internet Specials,
visit our website @ http://www.sedonahotels.com.sg
=========================================================

Kirim email ke