Jumat, 18 Juli 2003

"It’s More than Enough" IPTN!

Oleh Padang Wicaksono

MUNGKIN kalimat di atas tepat diucapkan pada industri pesawat terbang kita kini. Seperti diberitakan media massa, IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) ada dalam kondisi technically collapse akibat terus merugi dan ketidakmampuan bertahan di tengah lingkungan bisnis yang terus dinamis dan kompetitif.

Bila membuka lembaran lama beberapa waktu silam, kita akan menjumpai perdebatan sengit antara kubu ekonom versus para insinyur tentang perlu tidaknya pengembangan industri dirgantara. Kasus "perumahan massal" pegawai PT DI baru-baru ini seolah telah membuka kembali "pertarungan abadi" antara kedua kubu itu. Penulis (kebetulan berlatar belakang Ekonomi) tetap pada kesimpulan semula, PT DI adalah sebuah industri high cost dan highly inefficient! Dengan demikian, kali ini pemerintah tidak perlu lagi mem-bail out industri ini. Mengapa? Artikel ini mengulas argumentasi penulis mengenai persoalan ini.

Bila dihitung sejak berdirinya, PT DI (sejak bernama Nurtanio) hampir berusia 30 tahun. Sebuah rentang waktu yang lebih dari cukup bagi sebuah unit usaha untuk berkembang, mandiri, dan eksis dalam persaingan pasar. Namun, asumsi di atas ternyata tidak berlaku buat industri dirgantara kita ini.

SAAT masih dalam lingkaran elite kekuasaan, Habibie mengatakan, IPTN perlu di-back up oleh negara, mengingat perannya amat strategis sebagai industri sarat high tech dengan dukungan SDM yang tidak tanggung-tanggung, yakni para doktor lulusan universitas Jepang, Eropa, dan AS. Sampai di sini mungkin argumen Habibie logis. Namun, timbul pertanyaan, sampai kapan dan untuk berapa lama dukungan keuangan dari pemerintah diperlukan? Pertanyaan itu perlu ditujukan kepada Habibie mengingat industri dirgantara merupakan industri padat modal dan berisiko tinggi.

Di sinilah awal perdebatan panjang antara ekonom versus insinyur. Mungkin banyak rekan insinyur menganggap, para ekonom tidak peduli soal lompatan teknologi. Anggapan ini salah. Dalam karya panjang ekonom mulai dari Adam Smith, Karl Marx, Schumpeter, hingga generasi Samuelson atau kelompok neoklasik (seperti Milton Friedman dan kawan-kawan) hingga kelompok strukturalis/Marxian (seperti Raul Prebisch dan kawan-kawan) tidak ada yang mengabaikan peran teknologi dalam mempercepat akselerasi pembangunan ekonomi. Kemajuan teknologi amat diperlukan dalam menjamin kesinambungan proses reproduksi dalam ekonomi sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kencang, yang pada gilirannya akan memperluas kesempatan kerja.

Masalahnya, teknologi apakah yang hendak kita pilih? Apakah teknologi yang kita terapkan bermanfaat bagi partisipasi masyarakat luas? Apakah teknologi yang kita aplikasikan mempunyai dampak pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional? Apakah teknologi yang kita pilih sudah sesuai dengan keadaan negeri kita yang berkelimpahan tenaga kerja? Apakah teknologi yang dipilih mampu menyerap tenaga kerja luas? Aneka pertanyaan itu harus diperhitungkan secara matang dalam membuat kerangka kebijakan ekonomi. Kebijakan ekonomi tentu bukan untuk menguntungkan segelintir kelompok, tetapi menaruh prioritas utama pada kebutuhan masyarakat luas.

Bagaimana dengan IPTN? Pengembangan industri dirgantara merupakan proyek ambisius yang tanpa memperhatikan kesiapan industri penunjangnya (seperti industri logam, mesin, dan suku cadang) serta tenaga ahli untuk pemasaran atau strategi bisnis. Padahal, kalau ditilik lebih saksama, industri padat karya, seperti tekstil-Aparel, agrobisnis, perikanan, dan pariwisata ternyata belum menunjukkan tanda-tanda jenuh sehingga masih memerlukan penggarapan optimal agar bisa berlari kencang. Justru industri seperti inilah yang perlu perhatian serius dari pemerintah mengingat jutaan manusia bergantung di dalamnya.

ARGUMEN yang mengatakan, pengembangan industri dirgantara nasional akan bermanfaat bagi penerimaan devisa, merupakan ilusi! Mungkin pendapat itu benar jika negeri kita sudah sejajar negara-negara maju, seperti AS, Jepang, maupun Eropa. Kita bisa memetik pelajaran berharga dari pesatnya industrialisasi NIES (Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Hongkong). Penulis ingin menggarisbawahi kemajuan negara-negara itu terletak pada penentuan skala prioritas, core-competent dan resource-based industrialization.

Negara-negara itu bukannya tidak mampu membuat pesawat. Mereka jauh memiliki tenaga ahli lebih banyak dari kita. Tetapi, mereka sadar, pasar industri pesawat terbang itu amat terbatas. Terlebih, industri pesawat terbang dunia praktis dikuasai segelintir pemain seperti Boeing dan Airbus. Seperti diuraikan di atas, industri pesawat terbang bukanlah industri yang memproduksi barang-barang konsumsi masyarakat luas. Ia terbatas pada maskapai penerbangan, sejumlah institusi, dan segelintir orang kaya. Karena itu, membuat pesawat terbang bukan tindakan ekonomis, apalagi profitable bagi perusahaan yang notabene bukan pemain utama dalam pasar dunia.

Selain itu, IPTN ikut dalam menghamburkan uang negara. Padahal, kita tahu, kemampuan keuangan Indonesia amat terbatas. Beberapa tahun lalu, Habibie menggunakan dana reboisasi Rp 800 miliar guna mengguyur aliran kas IPTN. Masalah ini sempat menjadi besar. Tidak hanya itu saja, IPTN juga mengelak membayar pajak pada masa itu. Kasus ini akhirnya diambil alih Presiden Soeharto dan rupanya dipetieskan.

Apa implikasi dari tindakan itu? Terbengkalainya proyek reboisasi tidak saja telah menghancurkan ekosistem hutan kita, namun juga menyebabkan komunitas lokal menjadi kian terpinggirkan. Pajak yang dikemplang IPTN mengakibatkan penurunan penerimaan negara yang ujung-ujungnya menyebabkan turunnya pengeluaran yang ditujukan bagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Dari uraian itu penulis berkesimpulan, kegagalan utama PT DI lebih disebabkan tiga hal. Pertama, ketidakmampuan membaca market needs dan menentukan pemetaan pasar. Kedua, kegagalan membangun costumer intimate yang berkaitan hubungan industri antara supplier-distributor-konsumen. Ketiga, kelemahan dalam penentuan core-competent. Penulis yakin tidak semua unit usaha PT DI merugi. Ada beberapa unit yang masih layak dipertahankan, seperti ACS, helikopter Hankam, TES, Teknologi Informasi dan Interior (Kompas, 16/7/2003).

Bagaimanapun PT DI adalah sebuah korporasi bisnis yang tentu berorientasi profit dan efisien. Jika ingin terus bertahan dalam bisnis yang kian ketat, mau tidak mau PT DI harus merestrukturisasi perusahaan. Unit yang merugi dijual atau diprivatisasi, sementara unit yang menguntungkan tetap dipertahankan dan fokus pada core-competent.

Strategi lain yang bisa dikembangkan manajemen PT DI, melakukan aliansi strategis dengan para pemain utama industri pesawat terbang dunia. Strategi aliansi telah dilakukan dengan jitu oleh perusahaan otomotif dunia. Misalnya, Toyota beraliansi dengan Daihatsu dan Hino, sementara Daimler Benz beraliansi dengan Chrysler, Nissan beraliansi dengan Renault. Strategi ini cukup jitu untuk menghadapi pasar yang kian kompetitif dan dinamis.

Padang Wicaksono Studies of Contemporary Economy Graduate School of Economics The University of Tokyo

----- Original Message -----
From: Benzuara
Sent: Friday, July 18, 2003 11:23 AM
Subject: Re: [RantauNet.Com] N250 DAN KEBANGGAAN BANGSA

Sato sakaki......
Kalau tidak salah dulu saya pernah membaca N250, berarti 2 mesin 50 penumpang, dan telah dilakukan uji kelayakan terbang, ternyata tidak lulus test, salah satunya kelebihan berat pada bagian belakang,namun kita boleh bangga, setidaknya putra bangsa ini telah mampu membuktikan bahwa kita bisa menghasilkan produk seperti N250 ini. Namun ada satu hal yang kita ambil hikmahnya, seperti layaknya hal2 baru yg dilakukan pemerintahan pada zaman Orba khusunya, mulai dari rencana produksi hingga proses produksi selesai, pemberitaannya terlalu digembar-gemborkan, seakan-akan kita telah mampu menaklukkan dunia dalam bisnis pesawat. Kita berani menawarkan kepada negara2 lain untuk memesan pesawat untuk negara mereka dimana kadang2 kita tidak sungkan2 menyembunyikan masalah2 yang fatal demi mendapat nama dan aplaus dari orang lain. Maklumlah hukum alam di negara kita kan seperti itu, siapa yang bersuara lancar dan kritis akan mendapat perhatian lebih. Setidaknya orang2 telah menyangka dia seorang yg hebat, jenius, kritis, peduli dengan orang lain, padahal kalo ditelusuri hanya 0 X 0. Jadi janganlah kita melihat kegagalan pada N250 dicari-cari siapa yg salah, tapi mulailah kita bersikap sportif dengan kekurangan kita. Salut saya kepada pak habibie yang punya keinginan kembali ke PT DI, setidaknya beliau telah menunjukkan tanggungjawabnya terhadap PT DI, rakyat dan pemerintah indonesia dan mudah2an bangsa kita akan bangkit kemabli dari tidurnya.Amiin......
 
 
wassalam
Ben, Sutan Lenggang

Kirim email ke