Terima kasih, Sanak Yanto dan Rahayusalim.
Ya ya, itu dia masalahnya.
Mana yg lebih dulu datang : Islam atau Adat.
 
Kalau ini seperti mitos, misalnya : kalau maghrib jangan main di luar rumah.
Alasannya mungkin bisa diterima secara logika, apakah itu berhubungan dengan ibadah, keamanan (karena pergantian dari terang ke gelap), dsb.
Nah, untuk masalah kawin satu suku, hal2 apa ya yg bisa dicari logikanya?
Sebab satu suku tidak selalu berarti 'hubungan yg sangat dekat sekali secara genetika'.
Itu masih jadi pertanyaan besar saya.
 
Atau mungkin saja begini :
Dahulu kan jumlah penduduk nggak sebanyak sekarang. Garis ranji juga belum sepanjang sekarang.
Nah, berarti kedekatan secara genetika juga masih besar potensinya.
Untuk menghindarinya, makanya diterbitkanlah peraturan tersebut.
 
Ini barangkali lho...
 
 
 
 
----- Original Message -----
...Impelentasinya sebenarnya bukan pada se'suku', tapi seberapa dekat
hubungan kekerabatan antara dua pihak tersebut., sesuku atau tidak
sesuku sebenarnya disini tidak berpengaruh, misalnya yang laki2 satu
dari Agam yang perempuannya dari tanah data, secara garis keturunan
mereka jauh, secara biologis akan dianggap sebagai kerabat yang jauh.
maka kemungkinan mendapat keturunan yang lebih baik akan lebih besar
walaupun satu suku...

Tapi disini saya sampaikan ini adalah Kemungkinan (probality/peluang).
Untuk berapa nilai probability-nya saya sendiri juga tidak tahu.
Karena dipelajaran biologi tidak dituliskan berapa besarnya.

Aturan adat adalah bikinan manusia dan itu dapat diubah oleh para
pemakai-nya.

Aturan agama diyakini sebagai aturan dari pencipta dan dipakai
berdasarkan bagaimana para pe-nafsir-nya

Kirim email ke