Terima kasih atas semua tanggapan mengenai topik 'perkawinan satu suku'.
Entah dari sisi mana topik ini pernah dibahas di sini dahulu, saya tidak sempat mampir untuk melihat archivenya, tetapi memang saya lebih tertarik 'hanya' untuk mengetahui filosofi dan segi kesehatan.
 
Dari segi kesehatan, dr. Rahayussalim (Dok, nama kecilnya apa sih? supaya lebih enak dan nggak salah panggil dengan yg satunya lagi (satu 's') ) sudah banyak memberikan pandangannya dan saya mengucapkan terima kasih banyak untuk ini.
 
Dari segi filosofinya, memang masih agak buram.
Memang besar kemungkinan bahwa adat ini masuk lebih dahulu daripada agama Islam. 
Masalahnya yg satu suku belum tentu satu ranji, maka secara genetika tidak sama. Kenapa dilarang juga? apa alasannya?.
Tetapi di beberapa daerah, katanya ada yg memperbolehkan asal tidak satu penghulu (atau tidak satu datuk?).  Seperti Sanak Devy di Koto Gadang, mereka baik2 saja.
 
Silahkan saja jika ada yg mengetahui filosofinya.
Mudah2an ada literaturnya di Andalas.
 
Terima kasih banyak atas partisipasi semuanya.
 
Bertemu lagi pada topik lainnya, tetap mengenai Ranah Minang!!!
 
Cysca
 
-----

Kirim email ke