saya rasa anda tak pernah atau tak tertarik untuk pulang kampung. Mungkin karena satu dan lain hal saya lihat anda seperti bak malambuang tinggi suruik takuik ka tabedo. Coba anda bayangkan, Anda seorang perantau dengan membawa uang Rp 1 jt. Taroklah uang yang anda bagi ke keluarga 500 rb. Karena lah lama ndak pulang kampung kemenakan anda mengajak raun ke Kiktinggi (benteng, panorama, kebun binatang, Bawah jam gadang dll). Secara tak sengaja(yang niatnya tidak ingin pergi wisata dari rantau) maka anda telah ikut menikmati hasil dari pariwisata sebaik atau seburuk apapun kondisinya lokasi tsb. Tak taunya uang anda habis untuk belanja, beli tiket, dll di kawasan tsb 100 rb. Maka jumlah Rp 100 rb tersebut adalah buah dari adanya fasilitas pariwisata. Mungkin bagi orang kampung namanya bukan wisata  tapi jalan-jalan atau raun-raun ka Kiktinggi. Tapi dalam konsep global istilahnya itu adalah berwisata.
 
Jadi kalau anda dan dunsanak tak pergi ke Kiktinggi maka uang anda yang rp 100 rb tadi akan anda bawa kembali ke rantau karena anda memang hanya lalok saja di rumah rang gaek.
 
Kira-kira demikianlah gambaran yang saya ketahui tentang konsep pariwisata. tapi kalau anda membayangkan hal-hal seperti yang ke maren anda tuliskan di mail sebelum ini maka kalau istilah nya pai ka Kilo-kilo bukan pai berwisata.
 
demikian tanggapan  saya dan mohon ma'af jika salah dan kurang berkenan.
-----Original Message-----
From: S.Sehan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
[Madahar]  
apakah ini tidak tumpang tindih dengan tujuan utama mereka adalah pulang kampuang bersilaturahmi. dan dari aspek devisa jka dipandang dari perspektif komunal, rasanya tidak akan menambah pemasukan ekstra ke kawasan sumbar. karena ada atau tidak ada arena wisata, mereka akan pulang juga. dan ada atau tidak ada arena wisata, mereka akan membawa  uang dalam jumlah yg sama. jadi pada prinsipnya hal ini hanya akan meubah distribusi devisa tapi mungkin tidak menarik devisa lebih. jika dibading bahwa wisatawan tersebut khusus datang berwisata. 
 
salam,

 

Kirim email ke