Setiap
saya ketemu teman2 non-minang yang bekerja di sekitar Riau dan Jambi mengagumi
dan suka mengunjungi tempat2 wisata di Sumbar untuk mengisi weekend ataupun
libur pendek mereka.
Semenjak dicanangkan OTDA maka kedua tetangga kita
tersebut seolah2 menjadi OKB. Disamping itu SDA pariwisata mereka sangat
terbatas sehingga mereka bisa digarap menjadi pasar untuk industri wisata
Sumbar, misalnya penawaran lokasi untuk seminar, kursus, businees meeting,
etc.
Disamping urang awak sendiri maka karyawan2 CPI yang
bukan nerasal dari sumatra misalnya adalah wislok (wisatawan lokal) yang
potensil untuk mengisi hari2 libur yang sekarang relatif panjang dengan aturan
penempelannya ke weekend....
salam
- tg
-----Original Message-----
From: S.Sehan
Ini sebuah perspektif bagus yg rupanya saya telah lupa melihatnya. tapi apakah ini tidak tumpang tindih dengan tujuan utama mereka adalah pulang kampuang bersilaturahmi. dan dari aspek devisa jka dipandang dari perspektif komunal, rasanya tidak akan menambah pemasukan ekstra ke kawasan sumbar. karena ada atau tidak ada arena wisata, mereka akan pulang juga. dan ada atau tidak ada arena wisata, mereka akan membawa uang dalam jumlah yg sama. jadi pada prinsipnya hal ini hanya akan meubah distribusi devisa tapi mungkin tidak menarik devisa lebih. jika dibading bahwa wisatawan tersebut khusus datang berwisata.salam,
darul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:....... Kini perantau Minang pulang kampuang juga itu
wisatawan loka, apa mereka pulang kampuang juga haus
sex????????????
Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Shopping - with improved product search

