Dua perempuan sedang bercengkrama dalam tukar menukar kata. yg satu pintar cerdas dan ber IQ tinggi dan yg satunya lagi matang dan mendalami makna. keduanya kelihatan saling bertengkar. padahal keduanya saling mengagumi satu sama lain. tapi itu lah keunikan bahasa yg keluar dari pengelolaan ego yg berbeda. sebenarnya mereka menyampaikan hal yg sama. tapi dalam bahasa da kata2 keduanya dapat terlihat seperti bereseberangan.
Kemudian yg pintar tak tau bahwa dia mulai kesulitan menyampaikan apa yg dia kuasai dan pahami. Sedangkan yg matang lupa bahwa bahasa nya bukanlah kendaraan ampibi yg dapat berenang di air dan merayap di darat.
Pada awalnya bahasa addalah media utk menyampaikan pengetahuan dan pemahaman. tapi lama2 bahasa berubah fungsi disini, bahasa sebaliknya memperkosa pengetahuan dan pemahaman. padahal bahas tak lebih dari perahu (menjiplak perumpamaan seorang penulis lokal indoesia), ketika kita menyebrangi sungai makna, maka perahu tak dapat di bawa lagi. dia harus tinggal di pinggir kali. tapi keseringan dan kebanyakan dari kita masih menggendong perahu kemana2. memaksakan diri untuk bicara dan menganggap bahwa satu2nya bukti memahami adalah dengan bicara dan menjelaskan. padahal dalam diam pun ada pengertian yg dalam dan seringkali tak tersentuh org lain. Sesungguhnya jika dua org yg tahu, dengan diampun mereka akan saling memahami.
Seringkali kepintaran tak cukup percaya diri menghadapi bahasa dan kata2. banyak org pintar yg tak nyaman sebelum dia berhasil mengungkapkan sesuatu dg bahasa yg pintar pula. padahal saya percaya betul bahwa otaknya jauh lebih cerdas dibanding ujung lidahnya.
salam,
Cysca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Selamat puasa Uni Evi, selamat puasa semua !----- Original Message -----From: -- (*o*) -- Dictionary hanya bicara soal batas -batas dan tidak pernah bicara soal gejala. Jika C menemukan kesedihan dalam batas-batas inferiority, mungkin kepala C harus dikasih nilai 100, karena inferority dalam karakter manusia memang
Do you Yahoo!?
Exclusive Video Premiere - Britney Spears

