Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu ** *KETIKA MUSIBAH MENYAPA TANAH BUNDO*
Prakata; Ulasan mengenai musibah yang agak bertubi menimpa negeri ini dan lebih khusus tanah Minangkabau. Adakah kita memetik pelajaran dari rangkaian pristiwa ini?? Lembang Alam ***** *1. Istano Pagar Ruyung Terbakar* Aku baru menyelesaikan bagian ke 22 dari cerita 'Seminggu Di Ranah Bako' tanggal 27 Februari 2007 malam itu. Dan langsung mengirimnya untuk konsumsi Rantau Net. Ketika memposting jam 22.15 malam itu, sempat sekilas aku melihat di email yang masuk, berita tentang ' Istano Pagar Ruyung terbakar.' Inna lillahi wa inna ilaihi raa'jiuun, secara spontan ungkapan itu keluar dari mulutku. Subhanallah, Istano Pagar Ruyung itu bahkan sudah masuk kedalam ceritaku, pada bagian ke 12 yang aku posting tanggal 8 Februari 2007. Sebuah bangunan adat yang indah, untuk menunjukkan keelokan Negeri Minangkabau dan memang seolah menjadi ikon pariwisata Ranah Bundo. Aku pernah masuk beberapa kali ke dalam bangunan rumah adat yang anggun itu. Berita itu terasa sangat memilukan. Dalam waktu sekitar dua jam saja bangunan kayu beratap ijuk itu habis ludes dilalap api, yang tinggal hanya tiang-tiang beton kerangkanya. Bahkan sebuah rangkiang yang terletak sekitar sepuluh meter di hadapannya ikut hangus terbakar. Berita itu semakin jelas, ketika aku membaca informasi bahwa 'Istano Pagar Ruyung di tembak patuih tungga'. Dan pemadam kebakaran tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkannya. Besoknya, tanggal 28 Februari, ketika aku menghadiri acara pelantikan anakku di Universitas Tri Sakti, kebetulan aku diminta memberi kata sambutan mewakili orang tua dokter gigi baru. Mungkin saja karena mendengar bahasa Indonesia yang ber 'nuansa' Minang, Dekan FKG ketika bersalaman denganku berkata, 'kabarnya istana Pagar Ruyung terbakar tadi malam,' dan aku jawab, 'ya, saya baca di internet tentang berita itu'. Sedangkan orang luar Minang yang mengetahui kejadian itu terharu, apatah lagi kita orang Minang. Berbagai macam reaksi masyarakat di perantauan, begitupun yang terpantau di rantau-Net. Ada yang larut di dalam duka, ada yang timbul emosi keminangannya, ada yang realistis, ada yang kurang realistis, semua bercampur dan bergalau. Ada yang bak rasa akan didatanginya Pagar Ruyung sebentar itu juga. Bak rasa akan ditebang betung, ditebang pohon, ditarah kayu, dikumpulkan ijuk untuk segera menegakkan kembali pengganti rumah gadang yang sudah habis terpanggang itu. Ada yang menghimbau agar perantau Minang turun 'berdoncek', beriyur mengumpulkan uang untuk membangun kembali Istano Pagar Ruyung. Jarang terbaca yang menyikapi terbakarnya istano itu dengan mengambil pelajaran bahwa ini sebuah peringatan Allah. Bahwa ini sesuatu yang terjadi dengan kekuasaan Allah, murni. Bahkan tidak ada 'lobang' untuk menunjuk 'kambing hitam'. Bangunan indah itu disambar petir Allah. Aku termasuk yang tidak bereaksi ketika ada ajakan 'berturun' atau beriyur untuk menghimpun dana bagi pembangunan kembali Istano Pagar Ruyung. Biarlah dulu sebentar, kita lihat bagaimana rencana pemerintah termasuk pemerintah daerah. Karena membangun istano basa itu tidak akan mungkin tercapai dengan uang iyuran masyarakat secara pribadi-pribadi. Begitu pendapatku pribadi. *2. Gempa Raya Ranah Minang* Tepat seminggu sesudah musibah kebakaran di Pagar Ruyung, ketika membuka internet sehabis makan siang hari Selasa tanggal 6 Maret, aku membaca berita tentang berita gempa yang baru saja melanda Bukit Tinggi. Kekuatannya 5.8skala Richter dan terasa sampai ke Pekan Baru. Gempa memang kejadian sehari-hari di negeri ini dan 5.8 skala Richter bukanlah sesuatu yang besar sangat. Itu yang terbayang di benakku. Sekitar jam dua siang, berita gempa di Padang makin ramai. Teman-teman sekantor mengatakan gempa itu dahsyat dan ada korban jiwa. Aku telpon kakak sepupu di Bukit Tinggi untuk mengecek berita ini. Ternyata benar. Gempa 'barusan' itu dahsyat dan terjadi berulang-ulang. Yang pertama sekitar jam 10.45 dan yang terakhir yang lebih keras jam 12.45, begitu kata kakakku. Kabarnya, katanya, daerah Solok yang paling parah. Sedang disini, di Bukit Tinggi, pasar ateh sedang terbakar. Entah ada hubungannya dengan gempa entah tidak, belum tahu lagi. Sore harinya aku lihat di tv, korban jiwa akibat gempa itu sudah dihitung sebanyak 79 orang. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Aku mengajak jamaah mesjid untuk shalat janazah gaib sesudah shalat maghrib. Kami membiasakan mengerjakan shalat jenazah gaib setiap kali ada musibah yang menelan banyak korban jiwa. Malamnya berita itu semakin jelas. Banyak korban, baik korban harta benda maupun korban nyawa. Aku tersentuh melihatnya. Hatiku menyuruh berbuat sesuatu, tapi apa? Besoknya ada himbauan untuk 'berdoncek' lagi di Rantau Net. Bahkan ada usul agar aku menampung sumbangan. Insya Allah jawabku. Aku beritahukan nomor tabungan BCA-ku dan mengajak mereka yang ingin menyumbang mentransfer uang ke rekening tersebut. Terpikir pula, kenapa tidak mengajak jamaah mesjid untuk ikut berpartisipasi. Jamaah yang sudah beberapa kali teruji dan terbukti ikhlas untuk menyumbang bagi hal-hal seperti ini. Cukup aku umumkan, dan beri contoh dalam arti kata aku awali ikut menyumbang. Dan yang lain insya Allah akan ikut serta. Begitu kami buktikan untuk Jogya, untuk Pangandaran, untuk banjir Jakarta dan dulu untuk Aceh. Alhamdulillah kali inipun reaksinya sama. Hari Kamis pagi tanggal 8 Maret, sudah terbayang bisa terkumpul uang hampir Rp 10 juta, dari Rantau Net ditambah dengan dari mesjid Al Husna. Alhamdulillah, aku hubungi ustad Zulharbi Salim di Bukit Tinggi dan aku kabarkan tentang jumlah sumbangan ini serta minta tolong kepada beliau untuk mengancar-ancar kemana baiknya sumbangan ini diserahkan. Berita yang kubaca semakin membuat trenyuh. Kali ini pikiranku berubah, aku ingin pergi langsung menyerahkan sumbangan itu kesana. Ya, aku akan ke Solok, ke Bukit Tinggi. Aku hubungi ustad Zulharbi dan aku sampaikan niatku ini. Beliau gembira mendengarnya dan memberi tahu bahwa kita bisa pergi ke Solok pada hari pertama kunjungan itu yang direncanakan Sabtu siang. Dan hari berikutnya di sekitar Buki Tinggi dan Batu Sangkar. Aku beritahu keluargaku di rumah tentang rencana ini. Anakku nomor dua bertanya apakah dia boleh ikut dan aku jawab boleh. Aku memesan tiket untuk berangkat hari Sabtu siang dan mendapatkan tempat di pesawat Lion. (bersambung) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ *** Palanta RantauNet *** (cadangan) Berhenti (unsubscribe), kirim email: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
