Ysh Pak Saaf dan Adik Ahmad Ridha,
  Saya tidak menemukan surat Ridha di browser yahoo.com saya, dan syukurlah 
bila disampaikan ulang. Sebenarnya tidak semua email yang masuk dapat saya 
baca, berhubung kesibukan saat ini. Untuk menanggapi panjang lebar mohon waktu 
hingga 2 minggu ke depan, berhubung ada kesibukan kerja dan keluar daerah. 
Namun sedikit saya tanggapi saja:
  Saya tidak perlu mewakili kelompok apa pun untuk berdiskusi di milis ini, 
karena secara limbago saya sudah melalui proses ‘gadang ikan paus di lautan’. 
Ka ateh taambun jantan, ka bawah takasiek bulan, tagantuang ka nan tinggi, 
taserak ka nan laweh.
  Bila ingin memulai dialog dan diskusi, hendaknya kita dapat saling membuka 
diri dan melakukan perbincangan secara analitik. Seperti bermain kartu, kalau 
kebetulan kartu di tangan semua adalah kartu truf atau as, maka kita tidak akan 
pernah menikmati permainan. Seperti contoh, saya selama ini hanya menyampaikan 
pemaparan dan analisis tentang sejarah dan tambo seperti apa adanya, dan 
menanggapi berbagai tanggapan sedapatnya. Demikian juga Adik Ridha juga 
menyampaikan ayat dan tafsir seperti apa adanya.
  Namun kalau diperbenturkan, maka jadilah dialog seperti:
  “Mudah-mudahan legenda yang disampaikan Datuk Endang tidak benar”.
  Dan tentunya saya akan menjawab, “Mudah-mudahan Allah swt memberikan inayah 
dan pemahaman yang lebih kepada Adikku Ridha, sehingga dapat memahami 
‘ayat-ayat’ Allah secara lebih baik”.
  Karenanya di dalam adat ditanamkan pemahaman ‘tali nan tigo sapilin, tungku 
nan tigo sajarangan’, bahwa di antaranya kaum ulama dan kaum umara (pemangku 
adat) adalah berjalan seiring, ‘ka hilie sarangkuah dayuang, ka mudiak saantak 
galah, sahino samalu, sapantang sapanjatian’. Panghulu rintang jo pituah, malin 
rintang jo kitab, pamarentah saundang. Bila hendak berdiskusi, ’buliah bakisa 
tagak asah lai di tanah nan sabingkah, buliah bakisa duduak asah lai di lapiak 
nan sahalai’.
  Untuk itu suatu kezaliman menurut hemat saya bila mempertentangkan adat dan 
agama sedemikian rupa, karena tatanan telah dibentuk dan disusun agar keduanya 
berjalan secara harmonis.
  Demikian sementara waktu, wassalam.
   
  -datuk endang


Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Assalamualaikum w.w. Ananda Ahmad Ridha dan Ananda Dt
Endang,

Saya memperhatikan dengan cermat dialog ini, dan saya
mengharap Ananda Dt Endang bersedia menjedi juru
bicara para fungsionaris adat, bukan hanya untuk
menjawab sanggahan Ananda Ahmad Ridha, tetapi juga
untuk mencari formula yang dapat mengakomodasi ajaran
Islam dan hukum negara ke dalam norma adat
Minangkabau, yang ditengarai agak resisten terhadap
pembaharuan dan perbaikan. 

Secara pribadi saya menduga -- mudah-mudahan saya
salah -- bahwa resistensi tersebut disebabkan hanya 
karena adanya 'vested interest' dari [sebagian]
fungsionaris adat. Tidak mustahil juga sekedar karena
konservatisme belaka.

Dalam email saya kepada Ananda Erwin, saya menyarankan
jalan keluarnya, yaitu 'sistem matrilienal plus' yang
rasanya bisa memenuhi ajaran 'elok di awak katuju di
urang'. Untuk lengkapnya saya persilakan Ananda berdua
melihat-lihat posting saya mengenai hal ini.

Saya berharap banyak kepada Ananda berdua, agar kita
orang Minang masa kini dapat menyelesaikan secara
mendasar bengkalai sejarah yang sudah berusia 170
tahun ini.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- Ahmad Ridha wrote:

> 
> On 3/11/07, Datuk Endang 
> wrote:
> 
> > Memang perhitungan pengelompokan masyarakat di
> Minangkabau dilakukan melalui
> > 'garis ibu', seperti penentuan suku, penentuan
> penanggung jawab pusaka
> > 'warih dijawek pusako ditolong', dan sebagainya.
> Walaupun sejak kedatangan
> > Islam, hal ini tidak ada perubahan hingga saat
> ini; sehingga dapat dikatakan
> > hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat.
> >
> 
> Mak Datuk Endang, tidak adanya perubahan sesuatu
> tidak dapat dijadikan
> dasar bahwa hal itu tidak bertentangan dengan
> syariat. Sebagai contoh
> saja, di Jawa penyembahan terhadap sapi dalam budaya
> mereka tetap saja
> ada walau pun Islam sudah masuk sejak lama.
> 
> > Setelah itu Cati Bilang Pandai berkata, "hai
> Datuk-datuk sekaliannya dan Datuk orang
> > yang berdua ini, meminta hamba sungguh-sungguh
> jangan diberikan juga pusaka itu
> > kepada anak, melainkan baiklah kita berikan kepada
> kemenakan kita saja semuanya.
> > Ampun beribu kali ampun, karena kita sudah mencoba
> menghela perahu ini tetapi
> > sekalian mereka itu tidak mau menolong bapaknya
> sendiri".
> >
> 
> Semoga legenda ini tidak benar. Jadinya kok aturan
> warisan diubah
> karena kesal kepada anak-anak mereka sendiri.
> Padahal setelah
> ayat-ayat tentang warisan, Allah berfirman (yang
> artinya):
> 
> "(Hukum-hukum tersebut) itu adalah
> ketentuan-ketentuan dari Allah.
> Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
> niscaya Allah
> memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di
> dalamnya sungai-sungai,
> sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah
> kemenangan yang besar."
> (QS. an-Nisaa' 4:13)
> 
> Allahu Ta'ala a'lam.
> 
> -- 
> Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
> (l. 1400 H/1980 M)
> 
 
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke